TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 175


__ADS_3

"Jadi ibu tahu? '' tanya Zahra kaget. 


Ditatapnya wajah ibu Ayu dengan tajam, ia tidak menyangka kalau ibunya bakal tahu semuanya tanpa ia pikirkan sama sekali. 


" Ibu juga kata orang. " Elak wanita itu.


Melihat ekspresi Zahra seperti itu membuat ibu Ayu tertegun mendengar kata kata zahra. Ibu Ayu menyadari dan ia langsung mengelak dengan dengan mengatakan kalau ia tidak tahu. 


Zahra hanya tersenyum saja mendengarkan apa yang terucap oleh ibu Ayu. Dalam hatinya merasa nyakin kakau seebmatnya. Ibunya tahu semuanya tapi hanya pura pura tidak tahu saja. 


"Kenapa harus uwa Rani sih?" Ujar Zahra agak sewot. 


Ada nada kesal dibicaranya Zahra saat ia menanyakan tentang kejadian kemarin yang melibatkan Rani, sejujurnya Zahra sangat menyukai wanita seperti Rani yang menurutnya berwawasan luas dan penuh petualangan tapi disisi lain ia sangat tidak suka sikap arogan nya. 


Zahra seperti menyesali apa yang terjadi pada Rani, dari awal ketemu Rani ia seperti terhipnotis oleh kedewasaan wanita itu, tapi yang ia sesali kenapa hati wanita itu yang menjadi orang yang menghancurkan keluarganya? 


"Rani juga suruhan orang sebenarnya. " Ujar ibu Ayu. 


Zahra hanya menghela nafas panjang mendemgar jbunya berkata seperti itu, sikap ini Ayu memperlihatkan kalau ia masih membela Rani, sedangkan Rani menurut Zahra selalu menikam ibunya dari belakang. 


"Ibu selalu bela uwa Rani! " Rajuk Zahra tidak suka. 


Zahra cemberut seketika juga mendengar apa yang di dengar oleh dirinya dari ibu Ayu. Sedangkan ibu Ayu menatap wajah Zahra dengan tajamnya. 


"Bukan bela uwa Rani tapi itu kenyataan yang ibu dengar dari dirinya. " Kata ibu Ayu. 


Sebenarnya apa yang dikatakan ibu Ayu pada Zahra memang iya, Rani dibukuk. Oleh orang supaya bisa merayu Darman untuk menjual warisan dari orang tua angkatnya. Rani juga mendengar kslau tanah warisan Darman di jual bakal bikin kaya mendadak. 


Sedangkan Darman sendiri sama sekali tidak punya pikiran untuk menjual tanah warisan itu, kerena melihat Rani bisa memperngaruhi Darman maka orang itu bicara kalau Darman mempunyai tanah warisan yang kalau dijual bisa mencapai jutaan. 


Rani yang bukan ahli waris malah mengunakan darman kesempatan untuk meraih warksan itu, untung saja uwa Darman tidak terbujuk malah menjadikan warisan hamdi untuk di jual, tapi kenyataannya gamah tidak dapat uang pun hilang. 


Tanpa menunggu waktu lagi Darman dan Rani malah membuat pak Rohman menghembuskan nafas terakhir. 


"Ibu percaya begitu saja!"


Zahra melonggo mendengarkan apa yang ibumya katakan. Wanita itu hanya mengangguk saja, Zahra hanya menghela nafas melihat anggukan kepala dari ibu Ayu. 


"Ibu nggak bohong kok! " Serius ibu Ayu menatap anaknya. Wanita itu berusaha supaya Zahra percaya pada apa yang ia katakan. 


Dalam hati, ia sebenarnya sangat terharu sekali, bisa menatap walah Zahra dengan tajamnya. Anak yang disangka oleh semua warga telah meninggal tapi sekarang masih segar dan bugar, ada keharuan yang mendalam dihatinya saat tahu Anin masih hidup. 


"Ibu sih dari dulu sampai sekarang belain wanita itu terus! " Sembur Ana yang tiba tiba muncul dan gabung dengan mereka berdua.. 

__ADS_1


Ana sebenarnya tadi mencari ibunya tapi tidak ada dimana mana, akhirnya ia menuju ke teras belakang tidak tahunya ibu dan Zahra ada disana, ia sedikit mendengar percakapan yang terjadi antar ibu nya dan Zahra. 


Apalagi saat Ana mendengar mereka menyebut nama Rani, akhirnya Ana ikut  menimbrung percakapan antara keduanya. 


"Ana kamu itu apa apaan? Ngomong itu harus dijaga! " Ingat ibu Ayu menatap anaknya dengan tajam. 


"Memang kenyataannya seperti itu? Kenapa harus marah? " Tanya Ana sambil duduk diantara keduanya. 


Ibu Agu hanya tersenyum saja mwndengar apa yang dikatakan oleh Ana, ia dengan gemas mengucek rambut Zahra dengan lembut. Zahra yang melihatnya hanya garuk kepala tidak gatal. 


Ada keharuan di hatinya saat melihat keduanya bercanda bersama sama, dalam hatinya ada syukur pada Tuhan yang telah menyatukan dirinya kembali ya biarpun tidak. Lengkap juga.


🦋


Zahra hanya menatap kepergian ibu Ayu dan Ana dengan perasaan berat sekali. Sebenarnya Zahra mencoba menahan kepergian ibu dan Ana tapi keduanya tidak mau lama lama di rumah itu. Bukan hanya Zahra yang mencegah kepergian ibu Ayu dan Ana, tapi ibu Ani dan pak Bram juga tapi tidak mempan sama sekali. Ya pagi itu keduanya kembali ke desa, ia hanya bisa mengantarkan ibu dan Ana ke terminal. 


Ketika pulangnya Zahra sengaja ke rumah Vito hanya ingin tahu keadaan Vito yang sebenarnya, tapi sebelum masuk ia di kagetkan dengan kemunculan Rey yang tiba tiba hampir saja mereka sayang tabrakan. 


"Rey! Apaan? " Teriak Zahra tiba tiba. 


Gadis itu terkesiap seketika saat melihat motor Rey yang menghalangi avanza yang akan belok ke rumah Vito. 


Pria itu tidak langsung menjawab pertanyaan dari Zahra, ia turun dari sepeda motor lalu turun menuju Zahra yang hendak turun dari mobil. 


"Ray ada apa? " Tanya Zahra sambil menarik tangannya dari ngemggaman tangan Rey. 


"Wanita itu kabur dari penjara! " Kata Rey tiba tiba memberitahukan Zahra. 


Gadis itu yang belum fokus apa yang dibicarakan oleh Rey hanya menatap wajah Rey dengan herannya. Zahra belum sempat berkata kata tiba tiba HP yang ada disaku nya berteriak dengan kerasnya. 


"Ana! " Bisiknya. 


Ia langsung menerima panggilan dari Ana. 


📱Kak, hiks hiks hiks… 


Di sebrang sana Ana hanya bisa menangis membuat Zahra heran mendengarkan tangisan Ana. 


📱Halo Ana, ada apa? 


Zahra langsung menanyakan apa sebabnya Ana menangis terisak isak seperti itu. 


📱jangan! 

__ADS_1


Teriak Ana histeris. Zahra mendengar suara Ana sangat ketakutan sekali. Tiba tiba hati Zahra mulai tidak enak saat mendengar tangisan Ana. 


Rey yang berada di samping Zahra menatap wajah gadis itu dengan penasaran sekali, ia ingin tahu apa yang terjadi pada Ana. 


📱Kak tante Rani! 


Teriak Ana lantang. Seketika itu juga HP Ana mati. Zahra yang mendengar teriakan Ana menatap  dengan tajam. Ia butuh penjelasan dari Rey tentang pembicaraan Rey yang tadi. 


Zahra berusaha menghubungi Ana tapi nihil HP Ana  tidak bisa dihubungi sama sekali. 


"Rey apa kedatangan kamu mau bilang kalau uwa Rani kabur dari penjara? " Tanya Zahra tajam. 


"Iya, Ana kasih tahu? " Tanya Rey. 


"Kayanya Ana di sekap oleh uwa Rani." Jelas Zahra. 


"Kok bisa! " 


"Ana dan ibu sebenarnya mau pulang ke desa hari ini, mungkin mereka di cegat oleh uwa Rani. Gimana sekarang? " Tanya Zahra menjelaskan. 


Wajah Zahra khawatir sekali dengan keadaan mereka berdua, tapi ia sama sekali tidak bisa membantu nya. 


"Ana menjelaskan nggak dia dimana? " Tanya rey. 


Zahra menggelengkan kepala tanda ia tidak tahu sama sekali. 


"Aku tadi mau menemui kamu kalau tante Rani kabur dari penjara. " 


"Kok bisa sih!"


"Aku hanya menduga kalau uwa Darman mengeluarkan tante Rani. 


" Kalau uwa Darman yang mengeluarkan uwa Rani mustahil, uwa Darman buronan juga? " 


"Kamu nggak tahu uwa Darman saja! " Ujar Rey mencipir pada Zahra. 


"Rey kayanya Rara nggak bisa lama lama lagi, Ana pasti menunggu Rara. " Kata zahra langsung pamit pada Rey. 


Tapi sebelum Zahra masuk mobil, Rey menarik tangan Zahra. Gadis itu melihat ke rey dengan herannya. 


"Aku yang bawa mobil. " Kata Rey. 


Zahra hanya mengangguk saja. Tapi sebelum Rey masuk ia langsung memarkirkan motornya di halaman rumah Rani. Keduanya langsung menuju tempat dimana Ana berada, ya biarpun mereka tidak tahu keberadaan Ana.*

__ADS_1


__ADS_2