
Malam itu!
"Tangkap pak!" teriak Ana pada pak satpam.
Kedua orang yaitu Acong dan Teddy tidak menyangka kalau pemilik kantin belum tidur dan ada dua satpam yang menjaga, akhirnya kedua laki laki langsung di ringkus, sedangkan satpam satunya langsung menghubungi polisi terdekat supaya membawa mereka ke kantor polisi.
Satpam berhasil meringkus Acong dan temannya Teddy yang akan melakukan kejahatan pada Ana dan ibu Ayu. Zahra dan Rey berada di tempat itu langsung mengintrogasi keduanya sebelum di polisi datang.
BRAK!
"Jawab dengan jujur siapa yang menyuruh kalian?" Rey langsung mengebrak meja yang ada di depan nya.
"Darman!" ujar Teddy takut.
Daraman atau bukan!" teriak rey kembali..
"Kalian ketemu Darman dimana?" tanya Zahra tegas.
"Dia yang menyuruh kami mencari Ana dan ibunya,"
"Lalu?" kejar Ana.
Gadis itu dari tadi hanya diam saja langsung angkat bicara, ia tidak membantah apa yang di katakan oleh Acong maupun Teddy tentang Darman, seolah oleh memberikan jeda untuk siapa dalang dari penculikan.
"Kami berdua tahu tempat ini dari Darman." dusta Acong.
"Kalian kenal darimana dengan darman?" kejar Zahra..
Acong dan Teddy langsung terdiam seketika juga, memang keduanya tidak mengenal Darman secara detilnya. Ketemu juga tidak pernah sama sekali, mereka bungkam saat Ana dan Rey mengejar nya..
"Kalau memang kalian kenal Daraman kalian kenal dari mana? Sedangkan Darman baru di kota ini?" kejar Ana.
"Kalian tahu siapa Darman? tinggal dimana? saudaranya siapa?" Ana memberondong semua pertanyaan pada Acong dan Teddy.
Sedangkan ibu Ani yang sedang menunggu kabar dari Acong dan Teddy sangat gelisah sekali, kerena tidak ada kabar sama sekali dari kedua anak buahnya.
"Kira kira kemana mereka.peehinya?" bisik wanita itu heran..
Ia berjalan menuju teras sebuah gedung. Ya sejak tadi ia menunggu keduanya datang, tapi anak buahnya belum menunjukan batang hidungnya.
Ibu Ani tidak tahu kalau kantor Rey dijaga ketat oleh satpam suruhan Zahra hanya ingin tahu siapa dalang dari penculikan Ana dan ibu Ayu.
"Acong dan Teddy apa mereka berhasil ya?" tanyanya.
__ADS_1
Tapi ia tidak menemukan jawaban apapun juga dari pertanyaan dirinya.
🦋
BRAK!
Zahra dengan keras memukul meja yang ada dihadapan ibunya. Wanita itu kaget saat melihat Zahra mengebrak meja yang digunakannya.
"Ra, apa apaan sih kamu!" teriak Ibu Ani menatap Zahra dengan pandangan heran.
"Apa yang mama lakukan pada Ana dsn ibu Ayu! Mama yang lakukan ini kenapa ma?" jerit Zahra seperti bertanya lada dirinya sendiri.
"Maksud kamu apa Ra mama nggak ngerti sama sekali?" tanya Ibu Ani heran.
"Alah jangan berdusta ma, mama yang lakukan pada Ana dan ibu kan?"
"Ra, mama nggak ngerti apa yang kamu maksudkan?"
"Rara kecewa sama mama,"
"Ra!"
Ibu Ani langsung menghalangi Zahra untuk pergi, gadis itu menghindar dan menepiskan tanganya ibu Ani. Tapi ibu Ani dengan cepat langsung menangkap tangan Zahra dan menarik Zahra untuk duduk di kursi, mau tidak mau akhirnya Zahra mau duduk di kursi..
"Mama yang melakukan penculikan itu ka? Mama kenapa harus mama yang melakukannya?" tanya Zahra sedih.
"Ra, mama memang nggak setuju kalau kamu dekat dengan ibu dan Ana tapi mama nggak pernah melakukan apapun pada.keduanya. Mama hanya tahunya mereka di desa," kata ibu Ani heran.
Sekarang giliran Zahra yang begong. Ia awalnya ingin menolak kata kata dari mamanya tapu mata wanita itu begitu jujur.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya ibu Ani ingin tahu.
Giliran Zahra yang menghela nafas panjang, ada keheranan yang terpancar di dalam hatinya.
"Mama lupa, mama melabrak Ana di kantor, dan malam harinya mama menculik Ana dan ibu, tapi mereka berhasil kabur. Dio yang menemukan mereka, tapi anak buah mama menikam mereka," Zahra akhirnya cerita pada mamanya.
"Anak buah mama tertangkap dan Dio menanyakan siapa dalang dari semuanya, kedua nya mengaku kalau Darman yang melakukannya, tapi Ana bilang bukan darman pelakunya tapi mama," lanjut Zahra menceritakan kronologi kejadiannya.
Zahra menceritakan dengan keheranan yang luar biasa pada pribadi mamanya, yang selalu menyangkal kalau bukan dirinya yang melakukannya.
Gadis itu langsung meninggalakan mamanya di tempat kerja papa, sedangkan wanita itu hanya mengenakan nafas keheranan.
Di kamar Zahra termenung sejenak melihat semua perubahan mamanya saat ia menceritakan tentang Ana..
__ADS_1
"Mungkin ada sesuatu yang terjadi." kata Rey waktu mereka berdua bertemu di kantor.
Ya pagi itu Zahra mengatakan apa yang terjadi pada malam hari tentang mamanya. Rey yang mendengarkan hanya mengkerutkan wajahnya tidak menyangka kalau ibu Ani menyangkal tuduhan itu!
"Tapi mama mengakui'kan kalau mama yang menjebloskan ke penjara?" tanya Rey.
"Iya mama bilang itu saja, dsn ia juga pernah membawa aku ke mobil," kata Zahra mengingat semuanya.
"Tapi mama tidak mengakui kalau mama melabrak Ana di kantor, malah mam seperti baru tahu kalau Ana ada di sini? Aneh nggak sih!"
"Aku nyakin ada sesuatu yang lain nih! antara orang yang disangka oleh Ana."
"Atau mungkin ini adalah akal akal Ana saja?" kata Rey.
"Entah lah Rey. Aku juga tahu siapa mama Rey, kalau misal ia bilang nggak tahu pasti ia nggak tahu begitu sebaliknya." kata Zahra merenung.
"Ibu bagaiamana?"
"Ibu hanya diam saja sih nggak pernah bicara masalah mama," ujar Zahra..
"Ra, aku nyakin ada sesuatu pada mama."
"Sesuatu itu apa sih Rey?"
Rey hanya mengajar kedua bahu saja..
Tanpa meraka sadari Kaskus Ana menguping pembicaraan mereka, Ana hanya begong mendengar cerita dari Zahra. Ya gadis itu merasa kalau wanita yang di hadapannya waktu di gudang itu adalah ibu Ani.
"Tapi kenapa dihadapan kak Zahra ia nggak mengaku?"bisik hati Ana heran.
Ya ia merasa tidak salah mengenali wanita itu. Kerena ia melihat dengan jelas sekali kalau wanita itu adalah mamanya Zahra, dan ia juga tidak mengada ngada masalah wanita itu.
Ana masih sebenarnya ingin menguping pembicaraan mereka tapi ibu Ayu datang menarik tangan Ana, wanita itu hanya melirik kearah Zahra DNA Rey yang bicara setelah itu mengajak Ana ke kantin.
"Kamu bukannya bantu ibu malah menguping pembicaraan orang saja," Dengus ibu Ayu.
"Bu, aku hanya ingin cari tahu saja, kenapa ibu Ani mengelak saat kak Zahra mencari tahu kalau ibu Ani yang jadi dalang penculikan kita?" tanya Ana lada ibunya.
"Mungkin ia takut kalau Zahra tahu kedoknya," Dengus Ibu Ani.
Ia sedikit terkejut mendengar apa yang dibicarakan Ana pada dirinya tentang ibu Ani.
"Na, ibu Ani itu sayang banget sama kak Zahra, jadi ia bakal melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang ia inginkan," ujar ibu Ayu menatap putrinya.
__ADS_1
Ana hanya mengangguk, tapi dalam hatinya masih bertanya tentang ibu Ani.*