
Pikiran Ana melanglang buana dimana uwa Darman dan om Bram kenalnya, sedangkan dalam pikirannya, uwa Darman berasal dari desa kecil lebih banyak di kampung, dimana mereka tinggal sedangkan om Bram pasti hidup di kota. Jadi mustahil kalau bisa jadi teman kecuali ada perantara nya.
Zahra hanya tersenyum mendengarkan perkataan Ana yang polos. Tapi kalau dipikir pikir benar juga sih! Ia hanya tersenyum saja, ditatap wajah Ana dengan lembut.
"Uwa Darman dan papa teman SMA,uwa Darman sekolah di kota jadi mereka bertemu di kota ya disini. Hanya uwa Darman nggak kenal dengan Ani." urai Zahra.
Gadis itu masih mengingat pembicaraan dengan papanya tentang uwa Darman, sebenarnya apa yang pikiran Ana oleh Ana pernah terpikirkan dirinya. Ya Zahra sendiri pernah menanyakan pada papanya, awalnya ia sama sekali tidak percaya kalau papa dan Darman saling kenal satu sama lainnya.
"Papa teman uwa kamu Ra, jadi pantas kalau papa kenal dengan uwa kamu. Tapi papa nyakin kamu nggak bakal percaya sama apa yang lala ceritakan. "
Suara pak Bram terhilang di telinganya Zahra awalnya ia menepik cerita yang mengalir dari mulut pria yang telah mengurusnya dari kecil. Ia menyangka kalau papa menggunakan kesempatan ini supaya ia percaya pada dirinya. Apalagi Darman telah melakukan pembunuhan terhadap ayahnya, tapi saat gadis itu menatap papanya ia melihat sinar mata papanya ada kejujuran.
"Papa nggak pernah berdusta sama kamu Ra, kamu mau percaya atau nggak itu terserah kamu yang penting papa menceritakan semuanya pada kamu." kata pak Bram ketika melihat Zahra terdiam.
Zahra terdiam kerena shock mendengar kalau papanya temannya Darman.
"Papa akan menceritakan apa yang pernah terjadi pada papa, mama kamu sampai sekarang nggak tahu semuanya. Papa sengaja membiarkan mama mu nggak tahu apa yang terjadi. "
"Pa, apa sebenarnya yang terjadi, sampai mama nggak tahu masalah ini? " tanya Zahra penasaran.
Pak Bram bukannya langsung menceritakan apa yang terjadi, pria itu hanya menghela nafas panjang sekali pandangan matanya ke depan lurus sekali. Zahra dengan tenang hanya menunggu apa yang akan di ceritakan oleh pria yang ada di hadapannya.
Brak!
Suara terdengar keras saat itu memecahkan keheningan pagi yang menuju siang!
"Rara! "
Teriak seorang wanita saat lihat putri kandungnya berlumuran darah segar di tubuhnya. Wanita itu langsung memeluk tubuh gadis kecilnya.
Wajah bocah kecil itu tidak berbentuk lagi, banjir darah membasahi tempat itu, sang supir yang mengunakan kijang menatap kerumunan orang yang datang melihat kajadian itu!
"Jangan kabur! "
Teriak seorang pria yang melihat sang supir mobil kijang kabur! Tapi terlambat supir mobil kijang lolos.
"Kemana dia kaburnya? " tanya orang lain.
"Kesana! " tunjuk.
__ADS_1
"Mas Bram panggil wanita itu!
Pria yang dipanggil Bram langsung melirik pada wanita yang sedang menangis.
"Ma, kabur! " gugup bram.
Bram sebenarnya gematar melihat tubuh Zahra yang tidak bergerak lagi. Akhirnya dengan perasaan yang tidak karuan mereka membawa tubuh mungil itu ke rumah sakit tapi nyawa hadiah itu tidak terselamatkan sama sekali.
Dua hari kemudian!
Bug! Bug!
Bram yang melihat supir itu di tempat parkiran yang tidak jauh dari sebuah cafe langsung memukul pria itu!
"Bajingan kenapa kamu kabur! Tanggungjawab apa yang kamu lakukan pada Zahra! " teriak Bram sambil memukul bertubi tubi wajah pria itu.
Pria itu tidak tinggal diam ia langsung memukul wajah Bram seketika juga, bukannya mengalah akhirnya saling tinju dan tonjok.
"He, kenapa ribut ribut disini? " teriak seseorang yang langsung melerai keduanya yang sedang bertarung.
"Darman!" teriak Pria itu sambil menarik tubuh Darman yang menyerang Bram.
"Memang aku yang duluan menghajar dia, tapi kamu perlu tahu dia lah yang membuat putri aku meninggal! " teriak Bram membela diri.
"Man, apa yang dikatakan pria ini benar? " tanya nya menatap wajahnya Darman dengan tajam.
"Aku nggak sengaja. "
"Nggak sengaja tapi kenapa sampai meninggal segala? Ditambah kamu juga main kabur!" Teriak Bram masih belum terima.
Ya Bram masih belum bisa. menerima dengan ikhlas kalau anaknya Zahra harus meninggal, apalagi kalau ia melihat istrinya yang tidak pernah berhenti menangis dan memanggil manggil nama Zahra.
Kerena melihat istrinya Ani, Bram semakin takut dan ingin menjebloskan orang yang membuat putrinya meninggal di tempat.
"Kamu seharusnya yang bertanggung jawab tapi kenyataan kamu malah kabur!" sembur Bram manatap wajah Darman dengan tajamnya.
"Maaf! "
"Hanya itu yang kau ucapkan? Sedangkan kamu tahu aku dan istriku harus kehilangan putri satu satunya. "
__ADS_1
Bram sebenarnya ingin melanjutkan kata kata nya di hadapan Darman tapi hpnya bergetar dengan kerasnya, akhirnya pria itu mengangkat hpnya.
"Tunggu! Aku bakal membalas apa yang kau lakukan pada kami! " sembur Bram tajam.
Ia mengatakan itu setelah mematikan hpnya. Sebelum meninggalkan tempat itu Bram menampar buka Darman dengan kerasnya!
Bram pulang ke rumah dengan perasaan was was kerena tadi ART mengatakan kalau Ani istrinya mengamuk kerena tidak bisa menemukan Zahra.
"Kami sudah menceritakan kalau Zahra nya meninggal tapi istri bapak nggak mau menerimanya malah marah marah, " ujar salah satu Art nya.
Bram hanya menghela nafas panjang mendengarnya, ia langsung menuju kamar nya terlihat Ani masih histeris.
"Mas, mana Rara kenapa nggak pulang pulang! "
"Ma, Rara sudah pergi jauh nggak kembali lagi. Tuhan lebih mencintai Zahra dibandingkan kita, " lirih pak Bram memeluk tubuh istrinya.
"Mas, nggak mungkin Zahra pergi jauh! Ia masih kecil, mas. Susul Zahra! " tangisnya.
"Ma, Zahra sudah meninggal. Dua hari lalu sudah di kuburkan. " Bram berusaha untuk menjelaskan.
Tapi Ani bukan menerima dengan lapang dada, ia malah memukul mukul dada Bram dengan kerasnya. Pria itu hanya diam saja menerima pukulan dari istrinya, hatinya sakit sekali melihat keadaan istrinya yang seperti itu.
"Ma, sudah jangan seperti ini sayang! Papa bakalan mengejar orang itu! Orang yang harus mempertanggungjawabkan semuanya." lirih Bram sambil memeluk tubuh istrinya lembut.
Ia tidak peduli badannya sakit oleh pukulan istrinya, yang penting jangan sampai Ani istrinya seperti ini. Tapi kenyataan lain lagi.
Bram membawa Ani ke tempat tidur untuk duduk. Keduanya akhirnya duduk diatas ranjang.
"Kamu sabar ya, Zahra sudah tenang disana. Insha Allah Zahra nanti menjemput kita di pintu surga yang penting kita sabar. " nasehat Bram lembut.
"Nggak! Rara bakal balik lagi! " teriak Ani keras.
Ia menepiskan tangan Bram yang hampir memegang tangannya. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya handak pergi tapi Bram dengan cepat langsung memegang tangan Ani dengan cepat.
"Ma, mau kemana? " tanya Bram.
"Aku mau cari Zahra! Mas kamu mau ya kalau Zahra meninggal jadi kamu bicara seperti itu!" teriak Ani sewot.
"Ma, orang tua mana yang mau anaknya meninggal! Memang kenyataan nya seperti itu ma, Zahra sudah tenaga disana. " jelas Bram.
__ADS_1
Tapi wanita itu keukeuh kalau Zahra putrinya masih hidup dan dalam pikirannya kalau Zahra sedang main dengan teman temannya. Ia sama sekali tidak mau kalau Zahra meninggal oleh Darman.*