TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 202


__ADS_3

Plak! 


"Kamu mau melawan mama? " tanya Rani gemetar mendengar apa yang Vito katakan. 


Ia menampar muka Vito dengan kerasnya wanita itu tidak menyangka kalau Vito yang  diharapkan malah menyuruh menyerah. Ditatap wajah pemuda yang ada dihadapannya dengan tajam, ada kecewa yang menylimbuti hatinya. 


Vito hanya diam dan meringis saat wanita yang ada dihadapannya menampar pipinya, yang dirasakan olehnya sakit, hatinya yang sakit bukan pipi nya. Vito sedih hatinya mendengar apa yang dikatakan mama yang ada dihadapannya. 


"Ma, tapi mama yang salah! Seharusnya mama! " jelas Vito tajam. 


"Kamu bicara itu disuruh siapa?"


"Aku nggak disuruh siapa siapa, benar apa yang dikatakan oleh tante Ani kalau mama sebenarnya yang salah. Bukan uwa Darman!" sembur Vito kalap. 


Ia mendengar secara keseluruhan dari cerita pak Darman kenapa pria itu bisa membunuh Hamdi dan Karya itu kerena rasa sayang Darman pada Rani tapi nyatanya wanita itu malah menyalah gunakan kasih sayang Darman. 


"Bangsat! Kamu mau melawan mama! Mama sudah cape cape melahirkan kamu tapi kamu seperti ini? " 


Bukannya sadar Rani malah mengamuk mendengar apa yang Vito katakan. Vito hanya diam saja melihat wanita yang melahirkan mengamuk dihadapannya. 


Vito hanya bisa menelan ludah perih sekali. Apalagi mendengar cerita sesungguhnya tentang pembunuhan itu! 


"Mama kamu  ingin menguasai warisan dari bapak!" itu yang diceritakan oleh Darman ketika  ia pulang dari rumah Ani. 


Sebenarnya vito ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi seblum dirinya datang, ia pertama datang melihat ketiganya saling pelukan satu sama lainnya. Tadi, sudah ditanyakan pada tante Ani tapi wanita itu hanya diam saja tidak bicara apapun juga. 


Untuk mengurangi rasa penasaran Vito akhirnya datang kembali ke Darman, untungnya pria itu masih ada di tempat yang semula, tapi mamanya tidak ada. 


Menurutnya kalau mama sudah pergi setelah dirinya dan tante Ani pulang. 


"Kok! Bisa? " tanya Vito heran. 


Rasa penasaran pemuda itu berkecamuk dalam hati, mendengar oengakuan dari Darman bukan pria itu saja yang berkomentar tapi ibu Ayu juga berkomentar seperti itu! 


Tapi Vito hanya mengelengkan kepala ia sama sekali tidak percaya apa yang dikatakan pria yang ada dihadapannya 


"Pak, jangan mengadakan ngada bapak boleh benci mama tapi jangan seperti ini! " ketus Vito. 


Ia sangat tidak suka pada Darman yang menurutnya hanya mengadakan mengada saja, tapi pria itu hanya tersenyum ke arah Vito. Pemuda itu sangat terkejut mendengarkan apa yang  Darman katakan. Ia awalnya tidak terima apa yang dikatakan Darman dihadapannya.


Vito tidak peduli kalau pria yang ada di hadapan ya membenci mama tapi jangan fitnah mama seperti itu! 


"Kamu jangan marah! Apa yang dikatakan bapak sama sekali nggak salah. Mamamu lah yang menjadikan bapak seperti. Ini, " Darman sedikit melenceng. 


Memang Rani yang awalnya membuat keganduhan dan berlahan menghancurkan dirinya.

__ADS_1


"Tapi bapak juga salah, mengikuti apa keinginan mama kamu. " 


"Kenapa bapak selalu mengikuti keinginan mama, mama sudah salah bukan ya membimbing malah mengikuti? " cetus Vito. 


"Itulah kelamahan bapak, Vit. Bapak terlalu sayang pada Rani, sampai dibutakan oleh Rani. Mama kamu cinta pertama bapak, " ungkap  Darman


Vito terkenutnya mendengar kalimat terakhir dari Darman. Sedangkan ia tahu kalau Darman dan mamanya adalah adik kakak, tapi kenapa Darman malah mencintai mama? 


"Kami berpisah dari kecil." 


"Bapak di buang oleh oma kamu, begitu juga mama kamu. Kami terpisah dan untung ada neneknya Anin dari pihak ayahnya yang memberitahukan kalau kami saudara, "


"Itu sakit sekali Vit. 


Darman menceritakan semuanya tentang cinta yang kandas bukan dari perbedaan ekonomi dan strata tapi kerena saudara kandung. 


Vito hanya bisa tercenung mendengar ceritanya, ia sama sekali tidak menyangka kalau mama nya dan Darman terpisah. 


"Tante Ani? " kejar Vito. 


"Ia yang masih beruntung! Bisa mendapatkan limpahan kasih sayang mama dan ayahnya." 


"Kalian terpisah! " 


"Ya kami terpisah." 


"Mama kamu sebenarnya menginginkan tanah yang sekarang menjadi milik kang Darman." 


"Tapi kang Darman berusaha untuk menjaganya tidak ingin dijual, akhirnya mama mu lah yang menghasut kang Darman untuk menjual tanah milih ayah anak anak. " 


Lanjut Ayu. Suara wanita itu begitu jelas sekali di dengarkan olehnya, ia gematar mendengar apa yang terjadi pada mamanya, membayangkan sepak terjang mamanya dimasa lalu bersama Darman. 


"Mama kamu awalnya nggak direstui menikah dengan Darman, alasannya sih nggak masuk akal awalnya. Ibu nggak cerita kalau mereka adik kakak, nggak ada penjelasan sama sekali."


Vito hanya diam saja, mengingat apa yang dikatakan oleh Ayu dan Darman. Dan sekarang ia melihat mamanya mengamuk. 


"Ma, cukup! Ma, cukup!" teriak Vito sambil memeluk tubuh Rani. 


"Pergi kamu! Pergi! " teriak Rani keras. 


Wanita itu tidak segan segan langsung mendorong tubuh Vito dengan kerasnya sampai vito yang tidak menduga langsung terjungkal kerena dorongan Rani. Kepala Vito terbentur tembok dengan kerasnya. 


Ketika kepala terbentur tiba tiba diatas kepalanya seperti ada burung yang terbang yang berputar putar di kepalanya. 


"Kamu jangan bela mereka! Seharusnya kamu bela mama kamu ini? " Teriak Rani marah. 

__ADS_1


Dengan kekuatan yang besar ia mengambil ancang ancang ka arah Vito yang masih di lantai. Dengan secepat kilat menyepak beberapa kali perut Vito dengan keras. 


"Mama! " 


Vito berteriak histeris! Perutnya sakit sekali kerena diinjak beberapa kali, ia langsung melindungi dirinya. Bukan hanya perut saja oleh Ra i di injak, tangan, kaki, pugung, wajah dan kepala sampai Vito kewalahan sekali menerima terjangan dari mamanya. 


Belum puas wanita itu melakukan semuanya pada Vito, Rani langsung jongkok dan menarik rambut Vito kebelakang untuk melihat mearahnya. 


"Bicara! Ayo bicara!" teriak Rani marah. 


Akhirnya Rani langsung melepaskan cambakan dan membenturkan kepala Vito ke lantai. Vito merintih sakit tapi ia hanya diam saja, hatinya lebih sakit melihat mama ya seperti itu. 


"Mama kamu sebenarnya baik sekali, terlalu baik sebenarnya tapi kalau sudah marah ya seperti itu! " suara Ayu terdengar di telinga Vito. 


"Uwa apa apa! " Teriak zahra yang tiba tiba datang. 


Gadis itu langsung menarik  tubuh Rani supaya tidak menyepak Vito dengan kakinya. Zahra benar benar terkejut  melihat Vito yang diberlakukan kaya binatang itu oleh Rani. 


"Uwa! Jangan seperti ini! " teriak Zahra. 


"Kamu.mau apa kesini? Mau menyalahkan uwa? " 


"Uwa memang salah. Salah dalam segala hal!" pojok Zahra. 


"Lalu!" 


"Uwa seharusnya uwa menyadari apa yang uwa lakukan jangan seperti ini," nasehat Zahra. 


Ia merasakan wanita itu benar benar sudah terlampu jauh menuruti hawa nafsunya sampai tidak berpikir hal yang baik. Dan Zahra mengakui kalau keputusan Rani yang ingin mengambil dirinya memang bagus sekali, tapi itu tidak pernah kesampaian sampai kapanpun juga kerena ceritanya berbeda. 


"Rara tahu pikiran uwa kenapa uwa keukeuh mau mengambil Rara waktu kecil kerena uwa punya tujuan. Lain. " tebak Zahra sinis. 


"Tujuan uwa hanya ingin diselamatkan dari hukum yang berlaku. " sambung Rara. 


"Tapi itu nggak terjadi kerena Rara malah keburu menemukan mama. " 


Kata kata Zahra langsung menohok hatinya Rani tidak secara langsung. Memang apa yang dikatakan oleh Zahra ada benarnya tapi sejujurnya ia hanya menyembunyikan isi hatinya saja. Keinginan yang tidak akan pernah tersampaikan sama sekali. 


"He! Kamu jangan banyak bicara! " 


"Ma! Bukan kak Zahra yang banyak bicara tapi mama! " teriak Vito membela Zahra. 


"Ma, Vito ingin mama sadar apa yang pernah mama lakukan di masa lalu. Vito ingin kumpul dengan mama lagi. " ujar pemuda itu lembut sambil menatap wajah mamanya. 


"Uwa apa yang Vito katakan itu benar, Vito ingin melihat uwa mempertanggungjawabkan semua kesalahan uwa di masa lampau, " kata zahra menjelaskan.

__ADS_1


"Uwa nggak kasihan sama  Vito sampai Vito memohon itu pada uwa? " tanya zahra kembali. 


Zahra sebenarnya tidak Ingin melakukan kekerasan untuk  menangkap wanita itu ia hanya ingin Rani  sendiri lah yang melakukan penyerahan  diri pada penegak hukum. Tapi kalau misalkan wanita itu tetap keras kepala kemungkinan yang terjadi ia bakal bertindak keras bersama penegak hukum lainnya. *


__ADS_2