TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 217


__ADS_3

Rani menghilang! 


"Apa Rani menghilang? " Terima pak Bram menatap dua polisi itu. 


Ya pagi itu pak Bram dapat laporan dari polisi kalau Rani menghilang, dicari ke rumahnya juga tidak ada, begitu juga di rumah Darman wanita itu benar benar tidak ada sama sekali. 


"Ya pak, kami telah berusaha mencarinya." 


"Pak saya mohon temukan wanita itu! Saya mohon dengan sangat pak, " kata pak Bram memelas. 


Hatinya sakit mendengar wanita itu menghilang. Ia tidak menyangka sama sekali kalau wanita itu bakal pergi dan menghilang begitu saja meninggalkan  kota tanpa menyerahkan diri pada polisi. 


Baik saya akan berusaha menemukan wanita itu," ujar pak polisi. 


"Saya mohon ya pak! " 


Pak Bram akhirnya pulang dengan hati kecewa sekali. Ia menyangka kalau wanita itu juga dalam pembunuhan Zahra tapi di jelaskan oleh istrinya tapi pak Bram tidak percaya sama sekali. 


"Ma, kamu jangan bela Rani!" Teriak pak Bram marah. 


"Pa, aku nggak bela Rani! Darman sendiri yang cerita semuanya! " 


"Alaah! Kamu tetap saja bela mereka! " teriak pak Bram marah. 


Pria itu tidak mau berdebat dengan istrinya, gara gara beda pendapat dengan istrinya akhirnya pak Bram meninggalkan istrinya begitu saja. 


Ani mengejar suaminya tapi pak Bram tidak memberikan kesempatan pada istrinya, sampai ibu Ani hanya diam mematung melihat kepergian suaminya dengan perasaan perih. 


Sudah dua bulan Rani tidak ditemukan sama polisi. Pak Bram sebenarnya sudah gemas dengan Rani tapi ia tidak bisa berbuat apa apa, apalagi polisi sekarang benar benar digerakan untuk mencari keberadaan Rani yang ditelan bumi, pria itu tidak bisa menunggu lama lagi apalagi tidak ada orang yang bisa menemukan wanita itu! 


"Kemarin kemarin kemana mereka saat wanita itu masih  keliatan? " tanya Bram pada istrinya. 


Ani hanya diam saja mendengar apa yang di ungkapkan oleh suaminya. Apa yang dikatakan sangat suami memang benar, kemarin polisi seperti menutup kasus kematian Narti sampai tidak pernah di dengar nama Rani, sampai pe gerebegan itu terjadi Rani di tangkap dan di keluarkan oleh Darman. 


"Andai semuanya bisa diatasi secepatnya nggak mungkin seperti ini, " dengusnya. 

__ADS_1


"Mungkin banyak laporan yang masuk dan kita juga nggak pernah melaporkan apa yang terjadi, maka polisi menganggap kasus ini sudah selesai. " 


Pak Bram menghela nafas panjang mendengar apa yang dikatakan istrinya, ia baru ingat memang selama ini dirinya tidak pernah melaporkan kematian Zahra pada polisi hanya ambisi ingin  menangkap Darman. 


"Terus bagaiamana sekarang? " tanya ibu Ani menatap suaminya. 


"Ma, bagaimana kalau kita sebar poster Rani ke masyarakat supaya mereka tahu kalau polisi lagi mencari wanita itu! 


Wanita itu tidak bisa menjawab apa yang disampaikan oleh suaminya, hatinya berdetak sangat keras saat mendengar suaminya mengatakan itu. Menyebarkan poster Rani. 


"Aku bakal lakukan itu, biar Rani cepat ditangkap! " dengusnya. 


Pak Bram tidak menunggu jawaban dari istrinya ia dengan satu perintah langsung menyebarkan poster poster bergambarkan Rani supaya wanita itu cepat ditemukan, tapi nihil. Rani sampai  menghilang. 


Bukan hanya pak Bram saja yang mencari keberadaan Rani, vito sangat anak juga kehilangan sosok mamanya. 


Sebelum ada reka adegan oleh Darman, Vito hari itu hari terakhir kalinya bertemu dengan mamanya, ia berusaha sebelum melihat reka adegan memberikan nasehat pada mamanya untuk langsung menyerahkan diri pada polisi tapi Rani keukeuh tidak mau sama sekali dengan anjuran vito. 


"Maaf mama nggak bisa melakukan itu Vit, mama nggak mau masuk penjara. " itu yang diucapkan oleh Rani pada Vito. 


"Mama nggak bakal mengulang lagi masuk penjara, buat apa coba di penjara? " tanya Rani. 


"Masih untung kalau di penjara kehidupannya," 


"Mama! Mama mikirin kehidupan di penjara? Mama berpikir nggak sih mereka yang sudah meninggal oleh mama? " potong Vito dengan  ketus. 


Pria itu menggelengkan kepala saja, mendengar apa yang di katakan oleh mamanya. Wanita itu benar benar tidak pernah berpikir tentang kematian yang dipaksa oleh dirinya, Vito dengan kesal langsung pergi begitu saja meninggalkan mamanya. 


"Vito! " panggil Rani


"Vito jangan pergi mama mau bicara dengan kamu! " teriak Rani sambil mengejar pemuda itu. 


Tapi Vito tidak peduli dengan panggilan mamanya, ia mengambil motor dan pergi begitu saja. Melihat itu Rani hanya diam dan mendengus kesal. 


Pemuda itu sekarang hanya bisa menghela nafas panjang saja, kehilangan Rani untuk dua kalinya seperti kehilangan harta yang berharga dalam hidupnya. 

__ADS_1


Zahra yang melihat Vito termenung di teras rumah hanya bisa menghela nafas panjang, ya sejahat apapaun seorang ibu, tapi bagi anaknya tetap orang yang istimewa. 


"Ma, mama kemana sih! Bukan ini yang Vito inginkan bukan ma, mama menghilang dan nggak kembali ke rumah lagi! "


"Ma, jangan seperti ini coba, kalau saja mama menyerahkan diri pada polisi mungkin mama nggak akan menghilang, " 


"Ma, sebenarnya mama lakukan ini untuk siapa? Untuk mama sendiri atau untuk vito sendiri, "


"Kalau memang mama sayang Vito, mama nggak mungkin seperti ini ma nggak mungkin, ini cuma keinginan mama saja bukan keinginan Vito. " 


Ia hanya bisa menghela nafas panjang, pertanyaan  demi pertanyaan  tidak bisa ia jwab begitu saja. Dan tidak bisa ada jawaban yang memuaskan sama sekali. 


"Uwa Rani apa ini yang uwa inginkan dari Vito? Apa ini uwa inginkan? " 


"Uwa benar benar nggak punya hati, dan malah senang lihat Vito terputuk seperti ini. " 


Hati zahra menyalahkan Rani saat matanya melihat Vito hanya diam seperti itu. Ada sesuatu yang menyelinap di hati gadis itu, perasaan haru dan sedih. 


Rani akhirnya menghampiri Vito yang duduk di kursi depan rumah, pemuda itu seperti nya thdak menyadari kalau Rani menghampiri dan duduk di depannya, gadis itu sengaja tidak menganggu pikiran Vito yang sedang asyik dengan pikiran sendiri. 


"Vit, kamu kenapa? " tanya gadis itu lembut. 


Ia sengaja mengusik Vito kerena dari tadi Rani lihat pemuda itu tidak merasa teenganggu dengan kedatangannya seperti tenggelam pada pikirannya sendiri. 


"Vit, jangan seperti ini, kalau ada masalah ayo cerita dong! " kedua kaki Zahra mengusiknya. 


Tapi Vito hanya diam saja thdak mengalihkan tatapan matanya kearah Zahra, seperti pemuda itu tidak peduli dengan kehadiran zahra yang daritadi menyapa dirinya dengan lembut sekali. 


"Oke, kalau kamu nggak mau bicara sama aku nggak apa apa tapi kamu jangan seperti ini, " 


Zahra langsung beranjak dari duduknya ketika ia melihat Zahra hanya diam saja tidak bergeming. Tapi saat gadis itu hendak melangkahkan kakinya tiba tiba tangannya ada yang menyentuh, gadis itu melihat siapa yang menyentuh tangnnya. Vito. Ya pemuda itu meraih tanga  Zahra dengan cepat sampai Zahra terkejut dan lihat siapa yang meraih tangannya, setelah tahu Vito yang melakukannya Zahra hanya tersenyum manis. 


"Kamu kenapa? " tanya Zahra. 


Akhirnya ia duduk lagi ke kursi yang ia duduki tadi.*

__ADS_1


__ADS_2