TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 31


__ADS_3

"Mbok, jangan jangan ayah mau bicara sesuatu sama ibu?' hanya Anin di rumah mbok Inem.


"Bicara sesuatu apa maksudnya?"


"Bicara tentang uwa Darman?" tanya Anin menebak.


"Bis jangan ikut campur itu urusan mereka, kita jangan ikut terlibat," sanggah mbok Inem menumpas apa yang Anin katakan.


"Tapi aku penasaran mbok."


"Kamu penasaran apalagi mbok, sudah jangan dipikirkan lebih baik kita makan singkong saja." ujar mbok inem sambil.menhsmbil rebusan singkong.


"Tapi aku ingin tahu mbok, apa yang dilakukan oleh ayah dan ibu,"


"Nanti juga tahu sendiri." timbal mbok Inem.


Hati wanita itu miris sekali kerena anak sekecil Anin telah berpikir tentang ayahnya, ya kalau saja malam itu tidak terjadi apa apa.mimgkin Hamdi dsn keluarganya tidak memikirkan hal seperti ini..


"Apa yang salah ya?"


"Maksudnya apa Nin?"


Anin hanya mengelengkan kepala saja. Mbok inem langsung memeluk tubuh Anin yang terlihat cemberut.


"Ayah nggak salah mbok, Anin tahu ayah nggak salah tapi uwa darman yang salah tapi nggak mau ngaku." bisik Anin dalam dekapan mbok Inem.


"Kamu lah yang jadi saksi sayang, kalau ayahmu nggak salah, ini hukum yang harus ditegakkan." kata mbok Inem..


"Mbok kapan aku besar nanti kalau aku besar Anin bakal buktikan ayah nggak salah!" ujar Anin melepaskan pelukan.


"Ya mbok juga tahu itu. Buktikan ya sama semua orang kalau Anin bakal membuktikan semuanya." pinta mbok Inem.


"Iya.


Mbok inem mengusap pipi nya Anin dengan penuh kasih sayang, ia merasa kasihan pada masih Anin seperti perahu di lautan yang terkena ombak.


Sedangkan di rumah Ayu hanya terdiam saja, ia tidak menyangka tugas suamianya sekarang semakin berat, harus menemukan pembunuh pak Rohaman! Ya polisi memang membantu pencarian tapi sampai sekarang polisi maupun suaminya hanya bisa gigit jari.


"Aku harus bertemu dengan kang Darman Bu,"


"Yah, jangan aku takut kalau terjadi apa apa?" ujar Ayu khawatir .


"Nggak, mungkin dengan aku datang kang Darman bakal luluh,"


"Kalau.memang kang Darman tahu mungkin kang Darman yang bantu berkata jujur pada polisi!" dengus Ayu.


"Aku nyakin lalu kang Darman nggak bakal bantu.kita kang!" lanjut Ayu.


"Kamu jangan sampai berpikir begitu Bu,"

__ADS_1


"Yah, apa yang ayah bakal lakukan ke kang Darman?"


"Aku hanya ingin ia mengatakan jujur,"


"Nggak mungkin kang, kalau memang ia berkata jujur kenapa tidak dari dulu."


"Kamu jangan khawatir."


"Aku hanya takut kalau terjadi apa apa pada ayah "


"Kamu berdoa saja ya Bu, supaya aku dan kang Darman bisa.menyelasiakan semuanya.


Ayu langsung beranjak dari tempat duduk dsn meninggalkan suamianya dengan hati tidak karuan sama sekali, ia tidak menyangka kalau suamianya bakal mendatangi Darman.


Hamdi yang melihat istrinya pergi begitu saja, hanya diam saja ia tahu kalau istrinya tidak setuju atas keputusannya untuk mendatangi Darman. Hamdi tahu kalau Ayu mengkhawatirkan dirinya, tapi ia bertekad bakal mendatangi Darman apapun yang terjadi.


"Dek, apa yang istrimu katakan benar, jangan sampai ke datangan mu kesana membawa pertengkaran dengan Darman. Dengarkan paa yang istrimu katakan, wajar kalau istrimu khawatir juga.


"Kang, aku hanya ingin menyelesaikan siapa tahu kalau kang Darman luluh!"


"Uwa Iyan hanya menghela nafas panjang mendengar kebulatan Hamdi, ia tidak bisa mencegah lagi.


"Ya sudah kalau itu keinginan kamu."


"Makasih kang!"


Uwa Iyan tidak bisa mencegah kepergian Hamdi menuju rumah Darman. Ia hanya berdoa semoga apa yang jadi keinginan Hamdi terkabul.


Malam hari Hamdi mendatangi Darman hanya ingin membicarakan kejujuran dan kebenaran, ya biarpun Ayu istrinya tetap tidak setuju kerena bagaiamanapun juga Darman lah orang yang harus mempertanggungjawabkan kesalahan nya. Tapi nyatanya sampai saat ini Darman malah tidak pernah datang apalagi saat Hamdi di rumah.


"Terus aku harus bantu apa?" tanya Darman mengelegar.


"Kang aku ingin kakang jujur di depan polisi, apanyang kakang lakukan itu bukan perbuatan ku." Hamdi memohon sebuah kejujuran dari saudara nya.


"Cih! Kamu ingin kalau aku yang mendekam di jeruji besi dsn kamu bebas," sinis Darman dengan tatapan matanya berapi rapi.


"Tapi aku nggak melakukan itu kang,"


"Terus kamu ingin apa dariku?" tatap Darman.


"Kejujuran kakang di hadapan polisi dan warga," tekan Hamdi.


"Dek, itu nggak gampang. Apa mereka bakal percaya," elak Darman.


"Kalau kakang bicara jujur pasti mereka bakal percaya,"


Brak!


Darman dengan emosi tinggi langsung mengebrak meja yang ada di depan mereka.

__ADS_1


"Aku nggak mau, aku hanya mau kamu mendekam di penjara selamanya."


"Kang, aku nggak salah!"


"Tapi buktinya sekarang!"


"Ini semua gara gara kakang!" sembur Hamdi.


"Aku nggak senang lihat kamu bahagia Dek, lebih baik kamu hancur seperti sekarang!" tawa Darman puas.


"Kang!"


"Nggak!"


"Kang, karma itu pasti berlaku, sekarang aku yang merasakan tapi suatu waktu kakang yang bakal merasakan pahitnya penjara," kata Hamdi pilu.


Hatinya benar benar sakit, kerena Darman tidak pernah mengakui perbuatannya dsn malah ia sendiri yang harus terjerat dalam hukum itu. Dan mungkin kalau ia kembali ke panjara ia bakal menjalani hukum mati!


"Aku nggak takut karma itu, silahkan kalau kamu.mencari bukti kalau aku bunuh Rohman , sampai kapanpun nggak akan bisa!" ketus Darman.


Hamdi beranjak dari tempat duduk dsn meninggalakan rumah itu dengan hat yang sakit sekali, ia sekarang harus mencari bukti kalau pembunuhnya itu Darman saudara angkatnya.


"Aku nyakin kalau kang Darman hanya itu sama kamu dek." uwa Iyan berkomentar saat Hamdi menceritakan apa yang terjadi.


"Iri apa sih kang?"


"Semua milik aku sudah habis dan menjadi milik kang Darman sedangkan aku?"


"Kamu punya kharisma di warga, kang Darman tahu itu jadi ingin menjatuhkan dirinya dengan peristiwa kemarin." kata uwa Iyan.


Hamdi terdiam. Uwa Iyan mengatakan apa yang dilihat, ya kalau memang dibandingkan dengan Darman. Hamdi lebih disegani oleh warga itu yang Darman tidak suka, dengan ia menjebak Hamdi sebagian warga mulai percaya pada Darman.


"Apa kerena itu ya kang aku harus seperti ini?" keluh Hamdi.


"Kamu bersabar lah, semoga ada jalan yang bisa kamu lakukan dek. kAkang nyakin kalau kamu bisa.melakukan itu," kata uwa Iyan menatap wajah Hamdi.


"Aku hanya berpikir bagaimana dengan Anin, kalau ia tahu kenyataannya,"


"Anin bakal tahu, ia bakal jadi penolong dirimu suatu waktu nanti."


"Biar sekarang kamu lakukan apa yang perlu kamu.lakukan tapi ingat hukum Tuhan kekal dan nggak bakal salah." tekan Iwa Iyan.


Hamdi menghela nafas panjang, ia sekarang harus pasrah dalam keadaan seperti ini, apalagi Darman tidak mau bersaksi. Hamdi sebenarnya dari awal juga sudah bersaksi bahwa dirinya tidak bersalah tapi kades desa itu, yaitu Ki Kapri tidak mempercayai dirinya.


Ki Kapri bukan melindungi warganya tapi malah menjadi musuh warga memberikan kesaksian palsu buat Hamdi.


"Tuhan nggak akan pernah diam melihat hambanya teraniaya, suatu waktu ada pertolongan Tuhan untukmu." ujar Uwa Iyan merangkul tubuh Hamdi.


Hamdi hanya bisa mengangguk saja.*

__ADS_1


__ADS_2