
Hilangnya Zahra tersebar di kantor. ibu Ani yang jadi tersangkanya! Tapi wanita itu mengelak kalau dirinya yang jadi tertuduh.
Rey benar benar emosi pada apa yang dilakukan oleh ibu Ani pada Zahra. Rey hampir saja membuat ibu Ani sebagai sasaran empuknya!
"Rey tahan!" teriak Dio menatap sahabatnya.
Dio yang berada di dalam ruangan kantor Rey langsung menghalangi pria muda itu, Rey yang sudah berdiri memandang wajahnya Dio dengan tajamnya.
"Jangan gegabah Rey!"
"Kamu yang jangan halangi aku Dio!" teriak Rek sambil melepaskan tangan Dio yang memegang bahunya.
"Aku nggak menghalangi kamu Rey, tapi jangan pernah bersikap seperti ini pada ibu Ani!" terima Dio emosi melihat Rey yang tidak percaya apa yang ia katakan.
"Jangan ikut campur, kamu hanya orang luar!"
"Apa mentang mentang aku orang luar, lalu kamu nggak mendengarkan aku?" tanya Dio sengit.
BRAK!
Rey mengebrak meja ya!
Rey yang akan pergi menemui ibu Ani, langsung berhenti kerena Dio menghalangi nya. Ia menatap wajah Dio dengan tajam sekali, sambil menahan gejolak hatinya yang terus menerus bergejolak.
"Aku nggak setuju kalau kamu seperti ini, lebih baik kita cari jalan lain," kata Dio menepuk bahu Rey.
Tapi Rey melepaskan tangan Dio dari bahunya..
Awalnya Dio bersikap biasa saja, waktu ia pertama mendengar kalau Zahra menghilang! Ia berusaha menanyakan pada ibu Ani masalah Zahra hilang. wanita itu hanya mengelengkan kepala saja, tanda tidak tahu sama sekali.
Mendengar itu! Dio merasa heran apalagi pengakuan ibu Ani kalau selama ini ia tidak melakukan apapun.
Ya pagi itu ia mendatangi kantor Rey. Ingin tahu perkembangan tentang Zahra, Rey akhirnya menceritakannya.
"Jangan gegabah mengambil keputusan," ujar Dio kembali.
Saat itu Rey menceritakan Zahra yang tidak ditemukan, ditambah lagi mamanya mengelak terus dsn malah mencari tahu Zahra lada dirinya. Itu otomatis membuat dirinya marah dsn emosi lada ibu Ani.
"Kamu bela mama?" tanya Rey menatap Dio.
"Aku buka bela ibu Ani, tapi kayanya ini ada rekayasa yang terjadi diantara hilangnya Rara, aku nyakin ada seseorang yang membuat kegaduhan!" ungkap Dio menatap Rey.
"Nggak mungkin kalau ibu Ani yang melakukan kalau ia yang melakukannya mana mungkin mencari Rara!" lanjut Dio menatap wajah Rey.
"Maksudmu?"
"Mungkin ada seseorang yang ingin menjelekan ibu Ani," ujar Dio menjelaskan.
"Kamu dibayar berapa sama mama?" tanya Rey tidak percaya..
__ADS_1
"Rey percaya sama aku, aku nggak pernah menerima bayaran dari siapapun juga termasuk ibu Ani!"
"Seharusnya kamu bela ibu Ani dibandingkan nafsu kamu!" Dengus Dio.
Ia melihat kemarahan Rey di wajahnya, Dio berusaha untuk menurunkan kemarahan Rey pada ibu Ani. Apalagi Dio tahu kalau Rey bakal nikah dan ia tidak ingin hubungan Rey dengan ibu Ani tidak gara gara masalah Zahra yang hilang oleh mamanya sendiri.
"Dio,aku nyakin kalau mama yang menyeret Rara gara gara Rara memeluk ibu Ayu. Ana juga melihatnya," kata Rey.
"Lalu?" kejar Dio.
"Mama datang, dan tanpa menunggu lagi ia langsung membawa pergi Rara, anehnya waktu aku mendatangi rumahnya mama kaya pura pura nggak tahu Rara dimana, seolah oleh nggak terjadi apa apa?" cerita Rey kesal.
"Kamu percaya itu mama Rara?" tanya Dio menatap Rey.
Rey terdiam seketika.
Dio akhirnya menceritakan apa yang jadi pertanyaan dalam hatinya sejak peristiwa yang terjadi pada Ana dan ibu Ayu. Rey yang mendengarkan akhirnya mengangguk mengerti apa yang disampaikan oleh Dio.
"Jangan mengalihkan cerita!" Dengus Rey.
"Aku nggak mengeluhkan cerita Rey, kita harus tahu titik masalahnya, mana mungkin ibu Ani melakukannya?" ujar Dio menjelaskan.
"Bisa saja Dio! Kerena ia takut kehilangan Rara, apalagi mama tahu kalau Rara bukan anak kandungnya!" tekan Rey.
"Wajar seorang ibu takut kehilangan anaknya, tapi nggak mungkin kan kalau sekarang malah Rara dicari oleh mamanya sendiri?" tanya Dio.
"Bisa saja cuma taktik mama," Dengus Rey.
Rey langsung duduk kembali ke kursi. Melihat itu Dio juga duduk di depan Rey.
"Lalu apa yang kamu pikirkan?" tanya Rey kemudian saat mereka terdiam.
"Hubungi pak Bram!" kata Dio.
"Sama saja, papa juga nggak bisa dihubungi!" keluh Rey heran.
"Apa jangan jangan pak Bram di desa itu!" ujar Dio
Rey hanya mengelengkan kepala nya. Ya banyak keheranan yang terjadi pada Zahra sejak datang ke desa itu!
"Dio, kamu merasa aneh nggak sih! sejak Rara di desa itu banyak hal yang aku nggak ngerti." ungkap Rey.
"Iya aku merasa, tapi entahlah," Dengus Dio.
"Rey bagaiman kalau kita ke Ana?" kata Dio..
"Buat apa?'' tanya Rey menatap wajah Dio..
"Ya buat bicarakan hal ini? Tadi sebelum aku ke ruangan kamu, aku sempat bicara dengan Ana." jelas Dio.
__ADS_1
Rey mengangguk. Keduanya langsung menemui Ana yang ada di taman dekat kantor nya Rey, Gadis itu hanya termenung saja, saat dirinya ditinggal Dio.
"Hai! Jangan melamun kaya gitu sih," tegur Dio sambil menyantuh rambut Ana.
Gadis itu menepiskan tangan Dio dengan cepat, sambil cemberut.
"Apa salah?" tanya Dio heran.
"Salah lah, aku menunggu kalian tapi kalian lama banget nggak datang," ujarnya ketus.
"Maaf!"
"Sebenarnya apa sih yang tadi kalain bicarakan?" tanya Rey menatap kedua nya.
"Aku sebenarnya nyakin kalau itu ibu Ani, tapi kak Dio menolak kalau itu ibu Ani? Anak itu benar benar bikin orang gereget!" ujar Ana kesal.
"Tapi anehnya waktu ketemu ibu Ani kaya biasa saja deh!" kata Ana heran.
"Menurutmu bagaimana sekarang? Apalagi sekarang Rara sudah lama nggak pergi ke kantor dsn ditambah lagi mamanya juga mencari." kata Rey meminta pertimbangan dari Ana.
"Apa mungkin ini hanya jebakan saja?" tanya Ana seperti pada dirinya sendiri.
"Maksudnya, ibu Ani benar benar menyembunyikan kak Zahra, tapi ia sendiri pura pura sibuk mencari anaknya?" Na berkata seperti itu.
"Aku kurang sependapat!" tolak Dio.
"Ada benarnya juga sih!" kata Rey.
"Rey kamu nggak percaya sama ibu Ani?" Dio heran.
"Kenapa nggak? Aku nyakin begitu!" ucap Rey.
Dio hanya mengelengkan kepala saja.
"Aku nggak berniat ya mengadu domba kalian, aku hanya bicara apa adanya tentang hal ini." kata Ana menatap keduanya orang yang ada di hadapannya.
"Na, kamu nyakin yang menculik kamu ibu Ani?" tanya Dio menatap wajah Ana.
"Aku nyakin seratus persen, Memangnya kenapa?" tanya Ana pada Dio.
"Apa benar kalau ibu Ani melakukan secara terang terangan seperti itu?" Dio menanyakan pada Ana.
Menurut Dio tidak mungkin kalau ibu Ani melakukannya, apalagi ia datang ke gudang untuk menemui Ana dan ibunya. Kalau memang ia datang mustahil harus pagi hari, seharusnya malam hari.
Ana dan Rey mendengarkan apa yang diucapkan oleh Dio secara terbuka, Ana dan Rey hanya saling pandang satu sam lainnya.
"Coba pikirkan oleh kalian?" tanya Dio pada Ana dan Rey.
"Nggak mungkin kan seorang ibu Ani melakukan itu, apalagi di pagi hari." desak Dio.
__ADS_1
Dio ingin mendengar apa yang akan dibicarakan oleh keduanya tentang sosok ibu Ani.*