
Rara panik! wanita itu menghilang di kamarnya, ia langsung mencari ke depan, teras belakang nihil. Di belakang cuma ada mbok inem yang sedang menjemur baju uwa Iyan.
"Mbok, lihat mama?" tanya Zahra menatap mbok inem.
"Mama kamu?" tanya wanita itu berkerut wajahnya heran.
Setelah sarapan mbok Inem memang tidak melihat wanita itu, tapi ia diam saja. Zahra diam mematung melihat mbok inem yang diam saja.
"Mbok juga nggak tahu ia pergi kemana? Tapi mungkin ikut uwa Iyan dan Rey ke kebun." ujar mbok inem.
"Mama ke kebun buat apa?" tanya Zahra heran.
"Entah mbok juga tidak tahu sih!"
"Ya sudah kalau begitu Rara cari mama dulu," ucap Zahra sambil meninggalkan mbok inem.
Memang tadi waktu sarapan wanita itu ikut sarapan dengan.lahap, tapi tidak pembicaraan yang dibicarakan semuanya diam seketika juga hanya melirik satu sama lainnya saja.
"Nggak mungkin kalau mama ke kebun," lirih Zahra pada dirinya..
Tanpa menunggu waktu lagi ia pergi ke bukit di sebelah kuburan desa itu!
"Tempat itu memang favorit kami bertiga," terdengar suara ibu Ayu di telinga Zahra..
Ya ibu Ayu pernah bilang kalau perbukitan yang berada di sebelah timur desa itu, adalah tempat empat orang bertemu.
"Kalau mencari Rani nggak susah kalau di desa itu! Pasti ia bakal berada di bukit itu!" kata ibu Ayu lagi.
"Bu, Rara baru tahu kalau di desa itu ada perbukitan?"
"Kamu hanya tahu kebun saja sih!" canda ibu Ayu menatap Zahra.
"Apa kalau ibu Rani ada masalah memangnya selalu disana?" tanya Zahra ingin tahu.
"Iya, pokoknya jangan cari kemana mana kecuali di bukit yang ibu maksud. Tempatnya nyaman sekali, pokoknya bikin kita betah "
Zahra berjalan menuju bukit yang dituju. apa yang di ceritakan oleh ibu Ayu memang benar sekali. Zahra melihat wanita itu duduk sambil melihat awan yang putih.
Zahra mendekati dan duduk di samping wanita itu.
"Ma, kenapa disini?" tanya Zahra.
"Kamu? Mama?" tanya wanita itu melirik Zahra.
"Iya ma."
"Aku bukan mama kamu! Ibu kamu adalah ibu Ayu, dan Ani adalah mama kamu."ujar wanita itu ringan.
Deg!
Hati Zahra bergetar saat mendengar wanita itu menyebutkan kalau dirinya bukan mamanya, ibu dirinya adalah ayu dan mamanya adalah Ani, ada keharuan menyelimuti hati Zahra.
__ADS_1
"Jangan panggil aku mama, panggil saja aku uwa. Bagaiamanapun kamu adalah ponakan uwa, dari mama Ani."
"Uwa!" panggil Zahara lembut.
Zahra langsung memeluk tubuh wanita itu dengan erat sekali. Wanita itu juga membelai pelukan dari Zahra.
"Terimakasih selalu ada untuk uwa." bisik wanita itu.
"Sama uwa, Rara juga senang kok sellau dekat dengan uwa." ujar Zahra melepaskan pelukan dari pelukan wanita itu.
Ia tidak menyangka kalau wanita itu bakal mengatakan itu.
"Kalau saja Darman menikah dengan uwa mungkin kamu juga ponakan uwa dari ayahmu bukan ponakan angkat," lirih wanita itu seperti menyesali semuanya.
"Sudah lah uwa, semuanya nggak akan berubah, nggak bisa diulang lagi ke masa lalu." kata Zahra..
Uwa, Rara juga kalau suruh memilih Rara ingin sekali memeluk ayah!" sendi Zahra.
Wanita itu langsung terdiam mendengar Zahra menyebut ayah pada Hamdi. Wanita itu langsung mengelus punggung Zahra seperti memberikan kekuatan.
"Rara juga rindu ibu." ujar Zahra..
"Rindu kebersamaan dengan ya, waktu Rar habis seperti ini," keluh Zahra.
"Maafkan uwa ya, uwa yang salah. Kalau kita kembali uwa bakal menyerahkan kamu lada mama dan ibu kamu." kata wanita itu mengenggam tangan Zahra.
"Terimakasih ya uwa.
Brak!
"Ma!" teriak pak Bram kaget..
"Mama harus menyusul Rara, janjinya hanya sehari ini sudah beberapa hari nggak pulang pasti diracuni pikirannya oleh laki laki itu!" teriak ibu Ani gusar.
"Siapa laki laki itu!" seru pak Bram.
"Iyan ya Iyan pasti laki laki itu yang menhan Zahra untuk pulang!" sembur ibu Ani kembali.
"Ma, jangan negatif thingkhing, mungkin urusan mereka belum selesai." ujar Pak Bram menahan emosi ibu Ani.
"Urusan apa.lagi sih pa, memangnya mereka.ounya urusan apa di desa itu?" tanya ibu Ani gusar.
Wanita itu kalang kabut. Pak Bram berusaha menahan istrinya supaya tidak mengamuk. Sebenarnya pak Bram sudah tahu tuna dari Zahra kesana, ya gadis itu mengungkapkan kalau ia bakal menyadarkan Rani untuk mengetahui jati dirinya.
"Mungkin itu tujuan uwa Iyan mengirim Rara dan ibu Rani, pa." terhiang suara Zahra melalui telpon.
"Ya Kalau itu baik buat kalian lakukan saja." ujar pak Bram.
"Kemungkinan besar juga ibu Rani menurut uwa Iyan tahu siapa dalang pembunuhan pak Rohman selain ayah," ujar Zahra memberitahukan.
Deg!
__ADS_1
Hati pak Bram langsung bergetar saat mendengar itu dari Zahra, dalam hatinya ia sangat berdoa apa yang dicurigai oleh uwa Iyan memang terbukti.
"Papa berharap begitu Ra, papa hanay berdoa buat kebaikan kalian."
"Iya pa."
"Pa, jangan kasih tahu mama."
"Iya papa nggak kasih tahu mama," ujar pak Bram.
Pak Bram mengerti kenapa Zahra tidak mau mamanya tahu kerena pasti tidak akan mengizinkan Zahra pergi apalagi menginap di desa itu. Apa yang dikhawatirkan oleh Zahra memang terbukti, ibu Ani langsung uring uring an saat tahu Zahra tidak pulang lagi..
Kalau di pikir sih! Desa itu kalau tidak menginap hanya bolak balik itu sama saja bohong! Kerena perjalanan yang harus di tempuh memakan waktu 3 jam, jadi kalau bolak balik 6 jam belum lagi macetnya.
"Jadi uwa Iyan tahu siapa yang membunuh ayahmu?" tanya pak Bram.
"Uwa Iyan hanya curiga sih kalau ibu Rani sebenarnya tahu siapa dalang pembunuhnya," ujar Zahra mengulang kembali.
"Papa menyangka nya uwa Iyan tahu, kalau tahu lebih baik ringkus saja," geram pak Bram.
"Iya pa. Kenapa uwa Iyan menyuruh ibu Rani kesini kemunginan itu, ibu Rani tahu semuanya tapi masih misteri saja." ungkap Zahra.
"Apa yang dikatakan uwa Iyan semoga saja bisa terungkap melalui ibu Rani," kata pak Bram mendukung.
"Pa kenapa diam saja! Pasti Iyan lah yang jadi biang keladinya!" terik Ibu Ani geram.
Ia benar benar garam kalau mengingat laki laki yang bernama uwa Iyan.
"Ma, kita nggak tahu kan apa yang dirasakan Rani dan Zahra berada disana?" tanya pak Bram.
"Maksud papa?"
"Maksud papa, kita nggak tahu apa yang pernah terjadi pada Rani, uwa Iyan melakukan itu untuk kebaikan Rani." kata pak Bram kembali.
"Ditambah lagi Zahra adalah orang asli desa itu, memiliki kenangan bersama dengan Rani ya biarpun beda generasi." sambung pak Bram menatap istrinya.
"Kita nggak tahu kan apa yang pernah dialami oleh Rani dsn Zahra?" kata Pak Bram.
Ibu Ani langsung terdiam tidak mengeluarkan kata kata lagi, mendengar apa yang dikatakan sang suamianya. Di pikir memang benar apa yang dikatakan oleh sang suamianya.
Zahra dsn Rani memiliki persamaan yang kuat di desa itu, mengalami mimpi buruk bersama hanya beda satu hal.
"Ma, kenapa uwa Iyan menyuruh Zahra bukan Ana. Kerena bagaiamana pun Zahra pernah mengalami peristiwa yang sangat besar, menyaksikan ayah terbunuh dihadpannya."
"Lalu kak Rani?" kejar Ibu Ani menatap wajah suaminya.
"Kak Rani mengalami kejadian pahit harus ditinggal oleh laki laki yang dicintainya, dan harus meninggalakan desa itu setelah merasakan sakit yang teramat sakit. Begitu juga dengan Zahra, ia kabur kerena takut para pembunuh ayahnya menyusulnya."
Pak Bram menerangkan apa yang ia tahu tentang Rani maupun Zahra, mendengar itu ibu An ia terdiam seketika juga. Kalau di pikir memang benar Rani keluar dari desa itu kerena harus kehilangan laki laki yang ia cintai.
Begitu juga dengan Zahra.*
__ADS_1