TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 75


__ADS_3

Ibu Ani begitu ketat mengurung Zahara di rumah itu! Zahra di larang buat ke kantor maupun berhubungan dengan orang lain selain dirinya. Itu yang membuat Zahra blank atas sikap mamanya.


"Bi, kenapa mama seperti itu?" keluh Zahra pada bi Narti.


Zahra juga tidak habis pikir, sama sekali oleh tingkah laku mamanya seperti itu.


"Seperti apa non, ibu baik baik saja." ujar Narti Art yang dipercaya oleh ibu Ani untuk menjaga dan melayani Zahra.


Zahra juga sering menemukan keanehan dari art tersebut, ya memang semua art di rumahnya selalu menyebut mamanya ibu, tapi yang anehnya art disini menyebut ibu Ani sebagai Rani.


"Bi, mama bukannya namanya Ani bukan Rani?" tanya Zahra..


"Iya nama beliau Ani kok! saya juga menyebut Bu Ani bukan ibu Rani," elak Narti gugup..


Wanita itu tidak menangkap kalau majikan mudanya mendengar kalau ia salah menyabut nama majikannya.


"Mbok, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Zahra mengejar Kartu dengan pertanyaan..


"Nggak ada apa apa kok non," katanya.


Narti langsung meninggalkan Zahra yang ada di ruangan makan, diikuti tatapan heran Zahra. Gadis itu juga heran kenapa dirinya dilarang keluar rumah?


"Apa ada sesuatu yang disembunyikan mama?" tanya hati Zahra.


Ia beberapa kali hendak melarikan diri tapi si Narti sang ART malah memihak pada ibu Ani dan sering melaporkan apa yang terjadi pada dirinya.


Bug!


Bug!


Narti dengan tiba tiba menerjang Zahra yang akan lari dari rumah itu! Sampai tubuh Zahra terjungkal dan menghantam lantai teras itu!


"Argh!" runtuh Zahara memegang kepalanya yang terasa sakit.


Saat ia melihat, dibelakang Narti sedang memegang sapu lantai. Zahra menatap tajam melihat Narti yang masih berdiri dihadpannya.


"Bi!" teriak Zahra.


Ia beranjak dari jatuhnya, berdiri dihadapan Narti yang sedang memandangnya dengan tajam sekali.


"Kamu mau ngapain ngendap ngendap kaya orang maling?" tanya Narti.


"Kabur,"polos Zahra sambil nyengir kuda.


Ia hampir saja kabur di rumah itu! tapi Narti dengan cepat memukul badannya dengan sapu yang dipengang ya. Zahra tidak menyadari kalau Narti selalu mengawasi dirinya.


"Non, kalau non kabur saya bakal.lapor sama ibu,"

__ADS_1


"Bi, please biarkan Rara pergi dari sini?" Zahra memohon pada Narti..


"Nggak! Sekali lagi kamu kabur saya bakal menyakiti kamu!" terima Narti kasar.


"Bi, sebenarnya siapa mama yang sebenarnya?"tanya Zahra.


"Kenapa kamu tanya sama saya? Seharusnya kamu tanya lada mama kamu sendiri." jawab ketus Narti menghindar.


"Bi, kalau bibi berani memukul Rara, bibi bakal dilaporkan ke polisi!" ancam Zahra..


"Saya nggak takut, saya cuma takut sama ibu." Dengus Narti yang tahu darinya diancam.


"Masuk!" teriak Narti.


"Coba jangan teriak terikat!" sembur Zahra tidak suka mendengar teriakan dari Narti.


Seingatnya mama tidak suka mendengar art di rumahnya main terikat terikat seperti Narti.


"Jangan salahkan Rara kalau Rara juga bakal nekad!" ancam Zahra.


"Rara tahu kalau bibi diperintahkan untuk jaga Rar, tapi mam lupa siap Rara yang sebenarnya."


"Maksud non?"


"Bibi tahu kan mama yang sebenarnya? Bibi pasti sudah lama kerja disini, kenapa mama seperti ini?" tanya bertubi tubi Zahra.


Narti malah menghindar dari pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis yang ada dihadapannya.


Zahra akhirnya masuk rumah lagi, bukan hanya pintu rumah yang di kunci pintu pagar juga dikunci. Zahra merasa ada hal aneh lada mamanya, satu hal yang ia heran kan mama tidak pernah bilang punya rumah yang sekarang ia tempati.


Zahra menghela nafas panjang. Ia langsung beranjak dari kursi ruang makan langsung masuk ke kamar, begitu seterusnya.


"Apa coba yang disembunyikan mama? Kenapa malah bikin aku pusing!" gerutu Zahra sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk.


Bukan hanya Zahra yang keheranan, Rey juga merasa heran Zahra tidak ke kantor selama dua Minggu, bukan itu saja hp Zahra di hubungi juga tidak pernah aktif. Dan yang Rey herannya ibu Ani selalu menanyakan keberadaan Zahra.


"Rey Zahra kemana?" tanya wanita itu.


Rey langsung begong mendengarkan apa yang diucapkan oleh ibu Ani, sorot mata nya memang penuh dengan keheranan yang sangat.


"Ma, seharusnya Rey tanya ke mama, mama bawa Rara kemana?" tanya Rey heran..


"Lho kok harus kamu yang tanya ke mama, seharusnya mama kan yang tanya ke kamu?" tanya Ibu Ani membalikan kata katanya.


"Ma, mama nggak ingat apa yang mama lakukan pada Rara? Ma, mama ingat nggak waktu Rey datang ke rumah bertanya tentang Zahra." tanya Rey mengingatkan ibu Ani.


Wanita itu langsung terdiam, ia ingat waktu Rey berteriak teriak mencari Zahra, lalu Rey pergi begitu saj tanpa bicara apa apa pada dirinya.

__ADS_1


"Iya mama ingat, tapi mam bersumpah mam nggak pernah mengajak Rara pergi!"


"Ma, sudah lah. Mama bilang nggak tahu tapi mama yang melakukannya!" teriak Rey emosi.


"Rey mama nggak pernah melakukan apa pun pada Rara." ujar ibu Ani memebela diri.


"Sudahlah ma, Rey nggak ngerti apa yang mama lakukan." Dengus Rey.


Rey langsung meninggalakan ibu Ani yang masih berdiri di depan kantor. Ya pagi itu ibu Ani datang hanya menanyakan tentang keberadaan Zahra, sedangkan seingat Rey kalau ibu Ani datang dan tidak Meu Zahra memeluk ibu Ayu.


Tanpa mereka sadari kaku ibu Ayu melihat semua adegan antara ibu Ani dan Rey, setelah Rey pergi ibu Aya hanya menghela nafas panjang. Ya ia tanpa sengaja mendengar percakapan mereka.


"Maafkan aku," bisik ibu Ayu sambil meninggalkan tempat itu menuju kantin..


Di kantin ibu Ayu langsung membantu Ana yang sedang mencuci piring, tadi memang banyak pembeli yang makan dan minum di kantin.


"Bu, kok kak Zahra nggak masuk kantor sudah beberapa hari," keluh Ana.


"Mungkin mamanya butuh Zahra, biarkan saja."


"Kak Zahra di telpon juga nggak aktif hpnya, kenapa ya Bu?"


"Ibu juga nggak tahu,"


"Bu apa Ana susuk saja ka Zahra ke rumahnya?" tanya Ana..


"Buat apa?"


"Buat ceri tahu tentang ka Zahra di rumahnya,"


"Jangan pergi, biarkan kak Zahra bersama keluarganya." cegah Ibu Ayu mengelengkan kepala tidak mengizinkan Ana pergi.


"Ana minta antar ka Rey," Ana keukeuh.


"Na, kata ibu jangan ya jangan jangan maksa kaya gitu!" ketus ibunya nggak suka.


Ana langsung Dian sekatika juga mendengarkan apa yang ibu nyankatakan, ada rasa kesal pada ibunya kerena tidak mengizinkan ia pergi ke rumahnya Zahra.


"Kenapa sih Bu, Ana nggak boleh menemui kak Zahra?"


"Kemungkinan Zahra nggak ada di rumah," kata ibu Ayu.


"Ibu tahu dari mana kalau kak Zahra nggak di rumah?" kejar Ana.


"Siapa tahu saja mamanya mengirim ke suatu tempat yang kita nggak tahu,"


Ana langsung menghempaskan pungungnya ke kursi yang ada di sampingnya. Ana sangat kecewa sekali mendengar apa yang ibunya katakan terlihat dengan jelas di wajahnya.

__ADS_1


"Maafkan ibu, suatu waktu kalian bakal bertemu kembali," kata Ibu Ayu sambil menyentuh kedua bahu Ana dengan lembut sekali..


Gadis itu menghela nafas dalam dalam, sambil membuang nafas ada rasa kesal dihatinya, sang ibu mengusap bahu anak MB ya dengan lembut, hatinya ingin sekali mengatakan tapi ia ragu, akhirnya ia lebih baik diam*


__ADS_2