TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 134


__ADS_3

Shock! Tidak percaya mengenai silsilah keluarganya Rani hanya bisa memandang kosong hamparan hutan yang kini ia berada.


"Entah aku juga nggak tahu dari mana berita itu! Aku juga nggak bertanya lagi Ran," Darman pasrah.


Ia awqlnyantidak percya hal itu tapi kenyataannya memang benar kalau Rani dan dirinya saudara, entah saudara bagaiamana, dan yang anwhnya ibunya tahu kalau ia dan Rani saudara.


"Itu hanya mengada ada saja ibu kamukamu saj! " ketua Rani.


Wanita itu beranjak dari tempat duduknya tanpa memperdulikan Darman yang masih menataonya, ia pergi bwgitunsaja dari tempat itu pulang ke rumah yang tidak jauh dengan tempat dimana ia dan Darman berada.


🦋


Malam hari telah turun Darman berjalan menuju rumah yang ditempatkan oleh Rani. Rumah itu memang bukan milik Rani, tapi bekas orang tapi dari pada tidak dihuni jadilah Rani menghuni rumah itu.


"Daripada nggak diisi. lebih baik aku yang mengisinya. " kata Rani suatu waktu pada Darman.


"Kamu berani diam di ruang ini sendirian? tanya Darman.


Rani mengangguk. Akhirnya dengan bantuan Tio, Darman membersihkan gubug tua itu dari sampah dan dedaunan kering yang berserakan disekitarnya.


"Akhirnya selesai juga!" teriak Rani gembira.


Gubug dengan. ukuran 4x5 ²itu cukup untuk didiami olwh Rani sendirian, apalagi setelah sibuatkan kamar untuk tidur Rani membuat wanita itu terasa nyaman sekali.


Awalnya Darman khawatir kalau Rani bakal kenapa kenapa tinggal disana tapi akhirnya ia membiarkan Rani mendiami gubug itu.


"Ran! Ran! " panggil Darman saat sampai ke rumah Rani yang telah bersih dan nyaman.


"Ran! Rani!"


Beberapa kali ia memanggilnya taoi orang yang dipanggil sepertinya tidak ada di rumah. Ia. langsung membuka pintu, tidak dikunci. Darman langsung masuk tanpa permisi lagi.


"Kenapa teriak teriak! " ketua Rank dari belakang.


"Kamu kenapa nggak nyaut saat di panggil? " ketua Darman.


"Males? "


"Kang, akang percaya begitunsaja sama ibu akang kalau kita saudara? " tanya Rani sambil duduk di amben.


Ia masih belum. percaya pada berita yang disampaikan oleh Darman kerena mungkin itu akal akalan ibunya Darman supaya tidak menikahkan dirinya dengan Darman..


"Jangan bahas itu! Aku datang kesini membawa berita yang terjadi!" potong Darman.


"Berita? Berita apa? "


"Berita gawat! Kalau samoai bocor kita yang dapat masalah!"


"Maksudnya? "


"Marni tahu kejadian suaminya di bunuh dan yang paling parah ia melihat semuanya, kita harus bertindak dekat! "


"Apa? Kamu teledor kenapa harus ketahuan! " sembur Rani twekwkit mendengar berita itu.


"Terus kita harus bagaimana? Aku. nggak. mau ya harus masuk penjara! Gara gara masalah ini."


"Tio lagi. mencari marni?

__ADS_1


" Bagiamana dengan Karya? Aku. nggak mau ya kalau sampai keduanya melaporkan semuanya, aku belum siap di penjara!" Rani terlihat rusuh.


"Kalau kamu nggak. mau apalagi aku, aku. punya anak dan istri terus mereka mau dikasih makan apa kalau aku tertangkap? " tanya Darman.


"Kang kita harus bwegrak cepat! bunuh saja si Karya! " pwrintah Rani.


"Bagiamana caranya?"


"Aku mendengar kalau ia bakal mwnemui. Hamdi. Aku hanya ingin si Karya jangan sampai menemui hamdi itu saja! "


"Tenang! Kalau masalah itu serahkan padaku, Marni sudah di kepung oleh Tio! Dan aku. juga menyuruh orang kepercayaanku untuk. membantu Tio.


"Kenapa harus rumit seperti ini," gerutu Rani kesal.


Ia tidak menyangka sama sekali kalau. kejadian. ini harus membuat ia harus turun tangan untuk menyelamatkan dirinya. maupun Darman dari masalah hukum yang berlaku.


Ia menyangka kalau setelah membunuh Rohman urusan bakal selesai, bukan selesai malah semakin rumit.


"Kamu lagi malah di jual tuh tanah milik. handi, seharusnya jangan di jual. dulu! " sudut Rani..


Ia tidak menyangka kalau Darman. malah menjual tanah bagian Hamdi jadi miliknya.


"Kamu kan. yang menyuruh aku menjaulnya? Kenapa harus marah? " tanya Darman tidak suka.


"Bukan.yang itu yang akun suruh jual taok yang satunya dekat perbukitan itu! " jelas Rani.


"Itu bukan milik Hamdi tapi milikku. " protes Darman.


"Aku.mwnyuruhnya bikan milik Hamdi taoi. milik. kamu? " rani gemasnya pada Darman.


"Bunuh Karya. Urusan Marni serahkan sama aku. Naskah Hamdi kamu. jangan apa apa kan dia itu bagian aku juga. " camkan Rani.


Rani benar benar risau oleh keadaan dirinya sekarang. Memang selama ini ia masih tinggal di desa itu, ia nggak akan bisa meninggalkan desa itu apalagi desa yang dengan cerita dirinya.


"Kenapa kamu ingin tanah yang dekat perbukitan. itu? "


"Aku suka perbukitan itu kerena masih sejuk dan. nyaman, kalau maku. menikah nanti aku ingin sekali buat rumah disana. "


"Ah daya khayalmu kuat juga ya, " cwmoh Darman.


"Maksudmu? "


Maksudku daya khayal kamu oke juga. Siapa yang mau menjual tanah itu? Itu tanah bagianku dan nggak akan pernah jadi milik orang lain, " cerca Darman memandang wajah Rani.


PLAK!


Rani dengan tiba tiba memukul bahu Darman dengan keras sekali. Sampai laki laki itu. meringis kesakitan saat tangan Rani mwmukul bahunya dengan keras, sedangkan Rani tertawa melihat Darman kesakitan.


"Kang! Jangan lupa suruh juga orang untuk menculik Anin. "


"Tapi Anin sering di rumahnya mbok Inem. "


"Nggak apa apa, culik saja kalau ada perlawanan serang saja mbok Inem dan uwa Iyannya." tegas Rani.


"Gampang si Anin, yang jadi. pikiran Marni ia. lari. kemana kira kira? " tanya Darman..


Pria itu masih memikirkan apa yang harus dilakukan oleh nya untuk membungkam mulut Marni.

__ADS_1


"Gampang! Bunuh saja kalau bikin masalah. "


"Ran, jangan mwngampangkan urusan bunuh membunuh, resiko kalau kita kagahian bagaimana? " tanya Darman.


Ia hanya mengelengkan kepala saja. mendengar kata kata Rani.


"Sudah kamu lebih baik. urus Karya jangan sampai lolos, kalau. Marni dan Hamdinserahkan sama aku biar aaku urus merka bersiaplah. "


"Ran, aku curiga sama Anin."


"Ngapain curiga sama bocah itu!? "


"Kemarin aku dan Tio waktu binatang bincang di rumah Tio aku lihat Anin seperti mwnguping pembicaraan kami. "


"Apa? Terus bagaimana tangapannya? " Rani terkejut.


"Ya biasa saja sih ia datang untuk. tanya anaknya. si Tio. "


"Kang! Jangan anggap remeh Anin, aku takut anak. itu yang bakal memenjarakan kita! " sembur Rani..


Wanita itu terlihat kesal kerena liht Ankn dengn. mata sebelah. Rani pernah. bertemu dengan. Anjn waktu bocah itu bermain dengan temannya. memang tidak dekat sih tapi ia melihat kalau. Anin berbeda dengan anak anak lainnya.


Rani menganggap Anin anak istimewa. Dan. ia. menduga kalau sebenarnya bocah itu tahu semuanya tapi. kerena masih kecil jadi tidak. ada yang merasa khwatir seperti Darman pada Anin..


"Aku nggak ya kalau sampai suatu waktu anak itu berhadapan dengan kita! " ketua Rani..


Wanita itu membayangkan kakau di masa depan ankn bakalan tumbuh menjadi gadis yang cerdas melebihi ayahnya Hamdi dan mengungkapkan semua kebenarannya.


"Terus kita harus bagaiamana supaya Anin nggak melakukan apapun pada kita? "


"Tolol! Kamu semakin tolol saja sih! Aku. ingin kamu culik dia, biar aku. mwngutusnya. " kata Rani..


Ya Rani ounyantunuan kalau. misal Anin di culik dan ia yang mwngirusnya Anin tudak bakal melaporkannya tindakannya lada polisi, itu yang Rani inginkan.


"Baik aku bakal lakukan itu! Tapi. kalau sampai. kamu. mendapatkan Ankn, apa kamu bakal tinggal disini? Sedangkan Anin pasti tahu daerah ini? " kata Darman ragu.


"Aku akan bawa ia kota, kami. bakal hidup bersama disana. Ia. bakal menyebut aku. mama. " kata Rani berkhayal kalau dirinya bakal disebut mama oleh Anin..


"Nggak gampang itu Ran. Anin bakal mengingat ibu dan ayahnya, apa lagi ia sudah tahu ibu dan ayahnya." ingat Darman.


"Asal jangan mengingat aku yang menjebloskan ayahnya saja kang, biar ia. mengingat Ayu dan Hamdi taok jangan mengingat aku sebagai pwmisah keluarganya. " ujar Rani tersenyum.


"Terserah apa yang kau inginkan, " ujar Darman.


"Kita rencananya culik Anin atau selesaikan sumu si Karya dan si Marni? "


"Aku lebih selesaikan urusan dengan Krya dan Marni setelah itu kita culik Anin. " kata Darman.


"Baik, aku sepakat apa yang kakang lakukan aku setuju. " Senyum Rani manis.


Ia membanyangkan kalau bocah bernama Anin bakal berada dalam pelukannya sebentar lagi. Ya ia masih ingat kata kata Ayj yang mengizinkan ia mengurus Anin bersama sama, tapi ia tidak ingin bersama sama mwngutusnya.


"Ya sudah aku pulang. Kamu jaga diri, jangan kemana mana ya sudah malam. " ingat Darman.


Zahra mengangguk. Darman malam itu. langsung pulang kw rumah secara diam diam kerena takut ketahuan. oleh istrinya.


Sedangkan Rani hanya bisa menghela nafas panjang, senyumannya terlihat mwnghiasi bibirnya saat ia bakal mendapatkan Anin. *

__ADS_1


__ADS_2