
Ibu Marni tidak langsung menjawab pertanyaan dari Anin, ia hanya menimbang nimbang pertanyaan yang dilontarkan oleh Anin. Sebenarnya ia datang ke desaitj kembali hanya ingin meluruskan semuanya. Meluruskan kesalahpahaman yang terjadi pada keluarga pak Hamdi.
"Tadi aku. mendengar kalau kamu mengatakan padaku kalau aku membuat kamu janda maksudnya apa?" tanya ibu Ani saat ia melihat ibu Marni terdiam.
"Aku nggak pernah merasa membuat kamu janda, masalahnya aku ngak kenal dengan kamu sedikitpun juga. " lanjut ibu Ani.
"Ibu bilang begitu sama mama? " tanya Zahra heran.
"Mama? Dia bukan ibu. kamu! Ibu kamu itu ibu Ayu? " protes kbu Marni heran.
"Bu, ceritanya panjang! " tukas Zahra.
"Sepanjang apakah ceritanya? "
"Bu, ibu mau kan bantu Anin. please! Anin mohon sama ibu untuk bantu Anin dan ibu Anin. " kata Zahra memohon pada wanita utun dengan sangat.
Ya ia pernah mendengar percakapan ayahnya dulu dengan uwa Iyan kalau saksi kematian pak Rohman ada dua yaitu keluarga pak Rohman dan pak Karya.
"Bu, kenapa ibu dan keluarga ibu nggak. mengusut kematian suami. ibu? " tanya Zahra berharap penuh.
"Saya ngga tahu masalah itu! "
"Bu, bantu Anin. "
"Iya bu, apa yang dikatakan kak Anin, ibu kenla kan dengan tante Rani? " tanya Ana.
Ibu Ani hanya diam saja ia hanya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh dua kakak beradik itu.
"Tapi, dia? " tanya ibu Marni pada ibu Ani.
"Aman."
"Rani lah pelakunya. " kata Marni lirih
Deg!
Hati Ani dan Ana beegetar mwndengar pengakuan dari wanita yang ada dihadapannya. Begitu juga dengan Zahra yang ada dihadapannya wanita itu!
Si tatap nya wajah ibu Marni dengan tajam, ia melihat kejujuran dan amarah yang melual di matanya. Ada rasa sakit di hatinya Zahra mendengar semuanya.
"Itu yang dikatakan pak Karya padaku, ia sebenarnya ingin memberikan saksi tapi pak Darman mengancam keselamatan pak Karya. Sampai pak Karya yang akan mendatangi rumah pak Hamdi dibunuh juga! "
"Sebelum menceritakan pada orang lain pak Karya menceritakan pada ku tentang kematian bapak anak anak yang dibunuh secara sadis oleh wanita itu!"
"Tapi ibu tahu kalau lak Hamdi juga meninggal di malam dimana pak karya meninggal. " kata Anin memberitahukan meninggalnya pak Hamdi.
"Pak Hamdi meninggal? " tanya wanita itu shock sekali.
"Nggak pak Hamdi seharusnya nggak meninggal!" jerit wwnita itu histeris.
__ADS_1
Zahra berusaha menenangkan ibu Marni. Ana teemenung, ibu Ani tertegun.
"Pak Hamdi nggak salah!"
"Darman dan Rani harus bertangungjawab! ": teriak wanita itu sambil berdiri mau keluar dari. ruangan perpustakaan.
Tapi Zahra dengan cepat langsung menarik tangan ibu Marni untuk tidak leegindati sana.
" Bu, ibu tenang ya. Ibu harus tenaga supaya ibu bisa menceritakan semuanya pada Anin. Anin butuh jngormasindari ibu. " pinta Anin menatap wajah Marni.
Wanita itu akhirnya diam. Marni duduk kembali di tempat duduknya dan mengangguk.
"Bu, Anin hanya ingin mendengarkan semua cerita kematian suami kbu, serta kematian dari Pak Karya maupun ayah Anin. Apa semuanya benar pembunuhnya satu saja atau ada dua."
"Baik lah kalau kamu ingin mendengarkan apa yang ibu katakan. ibu harapkan semuanya bisa menghapus dosa ibu terhadap ayahmu. Tapin sebelumnya ibu. minta maaf kerena nggak membuka kasus ini dari awal.
Zahra hanya. mengangguk saja. Ana dan ibu Ani yang tadi berdiri akhirnya duduk untuk. mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh ibu Marni, seorang istri dari pak Rohman.
🦋
Tahun 2002.
Di. malam hari semua orang pada beranjak tidur untuk istirahat kerena besoknya akan beraktifitas kembali.
Tapi tiba tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana seorang laki laki terlihat rumah bersama dengan temannya. Rumah itu milik pak Hamdi yang harus menerima kedatangan tamu di malam hari.
Hamdi yang baru saja hendak tidur langsung bangun kerena kaget mendengar suara seseorang yang memanggil dengan suara keras dan melengking.
Untung Anin yang tidur disampingnya tidak terbangun oleh suara gedoran pintu serta teriakan orang yang memanggilnya.
"Ada apa mang, malam malam seperti ini teriak teriak!" seru Hamdi heran.
"Bahaya kang bahaya," gugup nya.
"Mang Tio yang tenang apanyang terjadi sebenarnya?" tanya Hamdi dengan tegasnya.
"Kang kang Darman kang."
Mang Tio terlihat rusuh dan gugup apalagi dihadapannya Hamdi masih menatap dengan wajah heran sekali.
"Iya ada apa dengan kang Darman, tadi kang Darman kesini kok! ada apa?" Hamdi mengatakan secara berlahan.
"Kang Darman di kebun dengan kang Rohman."
"Ya udah kalau begitu kita kesana."
Hamdi langsung mengajak Tio ke kebun. Kebun yang dimaksud adalah kebun warisan orang tua Hamdi yang telah meninggalkan kebun itu otomatis milik Hamdi.
Angin malam hari begitu dingin sekali apalagi rembulan dengan indahnya tersenyum melihat kedua orang yang sedang berjalan menuju sebuah kebun yang tidak jauh dari pemukiman.
__ADS_1
"Saya nggak tahu mereka sedang rundingan apa, kang Darman menyuruh saya ke rumah kang Hamdi." Alasan Tio pada Hamdi.
Hamdi mengangguk, ia sangat hapal watak dari saudaranya. Kalau misal dibiarkan bisa bisa berabe.
Tapi sebelum pak Tio menjemput pak Hamdi, seebnatnya pak Darman telah memanggil. pak Rohman dulu ke kebun yang seharusnya milik pak Hamdi.
Istrinya pak Rohman, mendengar kalau sang suami di panggil malam malam. oleh Darman sedikit curiga kerena ia tahu siapa Darman yang memanggilnya. Secara diam diam wanita itu menyuruh tukang kebun untuk mengikutinya.
"Mang! " panggil. Marni pada Mang Karya.
"Iya bu, ada apa? ''
" Tolong! Kamu ikuti mereka, laporkan semua yang kamu lihat sama saya! " perintah Marni sopan pada kang Karya pesuruh nya.
"Baik, bu. Saya akan mengikuti bapak.
" Kamu. laporkan semua. nya pada saya, kerena saya curiga kalau mereka bakal melakukan sesuatu pada suamia ssya. Saya tahu kalau tanah warisan itu milik pak Hamdi. "
Mang Karya yang mendengar perintah dari majikannya hanya mengangguk. Semua warga tahu kalau tanah yang kini jadi kebun oleh Darman adalah tanah milik Hamdi, awalnya pak Rohman menolak membeli tanah itu dari tangan Darman tapi laki laki mengancam akan membunuhnya.
Akhirnya pak Rohman membeli dengan hari terpaksa tapi ia malah memberikan satu tanah pada Hamdi, surat tanah itu oleh Darman di rampas dari Hamdi.
PLAK!
Rani dengan kerasnya menampar muka pak Rohman dengan kerasnya, sampai wajahnya pak Rohman memerah akibat marah pada Rani.
Pria usia 40 tahun itu hanya menatap sinis, hoi saja ia melayangkan tanganya ke pipinya Rani, kalau saja Darman tidak meraih tangan oak Rohman, mungkin saja tangan pak Rohamn telah mendarat dengan mulus.
Darman yang melihat itu langsung meraih dan menghentakkan tangan pak Rohman.
"Jangan berani pada wanita! Kalau kamu berani hajar aku saja! " teriakndarman marah saat melihat pak Rohman yang akan menyakiti Rani.
"He, kalian hanya berani keroyokan saja! " banyak pak Rohman sinis memandang wajah Rani.
"Kenapa kalau keroyokan masa nggak berani melawan kami berdua! " sembur Rani sambil. mendorong tubuh pak Rohman.
PLAK!
Pak Rohman yang emosi tidak memandang lagi, pipi mulus Rani langsung kena tampar dengan. kerasnya.
"Awh! " lwngking Rani menjerit saat tangan pak Rohman dengan kerasnya menghantam pipinya.
BUG!
Darman yang melihat kalau ak Rohman memukul Rani langung melancarkan serangannya meninju pelipis pak Rohan dengan keras.
"Jangan sekali sekali kalau sakiti dia, kalau kamu. mau sakiti aku!"
Teriak Darman beringas. *
__ADS_1