TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
choater 149


__ADS_3

"Kenapa kalian diam saja! Apa kalian bisu, tuli? kalian ngomongin mama Rani dan papa Hamdi kan, kemana papa Hamdi berada? Kenapa kalian nggak jawab? " teriak Vito menanyakan keberadaan Hamdi.


Ia selama ini tidak tahu keberadanan papanya, saat ditanyakan pada mama, mama bilang papa masih ada dan tinggal di desa yang jauh dari kota ini.


"Jawab! Kenapa kalian hanya diam saja! " teriak Vito keras.


Zahra menatap mata Vito dengan tajam, kedua. bola matanya saling tatap dengan Vito. ia melihat ada kerinduan yang sangat di wajah cowok itu! Tapi Zahra hanya diam saja tidak menyatakan apa apa. Ia hanya menghela nafas panjang.


"Apa sebenarnya yang terjadi pada papa? Kamu tahu kan papa aku? " kejar Vito bertubi tubi.


"Tanya saja sama mama kamu keberadaan papamu itu, Vit. Kerena ia lebih tahu daripada kami! " ketus Zahra.


Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan. gejolak jiwanya yang hampir luluh.


"Cukup! Jangan kamu teruskun pertanyaannya! " teriak Dio mencegah Vito untuk bicara kembali.


Kerena ia melihat kalau Vito ingin bicara, Vito yang ingin bicara lagi akhirnya menatap kakak sepupunya dengan herannya.


"Vit, lebih baik kamu pergi dari sini. Kamu nggak akan bakalan mengerti apa yang kami bicarakan," tegas Dio sambil menarik Vito supaya menjauh dari tempat itu.


"Nggak kak, aku harus tahu kenapa kakak membicarakan papa? Kalian tahu kan keberadaan papa? Apa jangan jangan kalian tahu juga papa di desa itu? "


Desak cowok itu menatap ketiga wajah orang yang ada disana. Dio yang menarik tangan Vito hanya menatap Vito, ia tidak ingin ada pertangkaran antara Zahra dan Vito di sini. Apalagi ia tahu Vito bakal terus mengajar dimana keebardaan papa nya.


"Memangnya mama kamu nggak bilang keberadaan papa kamu? Seharusnya bilang bukan disembunyikan seperti ini? " tanya Zahra merasa heran.


"Jangan sok tahu. Mama bilang papa di desa X, ia bekerja di sana! " Teriak Vito.


DEG!


Hati Zahra menangis mendengar pengakuan dari Vito. Menurut gadis itu terlalu polos sekali mudah percaya pada apa yang dibicarakan tanpa mencari tahu kebenaran yang terjadi.


Dio dan ibu Nining yang masih di tempat yang sama hanya mendengarkan perdebatan yang terjadi di antara Zahra dan Vito, ibu Nining hanya tahu kejadian kematian Hamdi hanya diam saja. Tapi hatinya telah menyadari kalau Vito salah satu dari anak Hamdi yang tidak disangka sangka atas perbuatn Rani!


"Papa kamu sudah meninggal! Kamu puas, sebelum kamu dilahirkan! " sembur Zahra memberitahukan pada Vito.


Akhirnya gadis itu dengan bisa memberitahukan tentang Hamdi. Zahra langsung mwnyusut cairan bening di matanya yang akan keluar.


"Kamu nggak tahu kan hal ini, kerena mama kamu nggak bakal memberitahukan sama kamu." lanjut Zahra. kemudian.


"Nggak mungkin papa meninggal! Kamu hanya bohong ya sama aku, kata mama papa sedang bekerja! " Teriak Vito nggak suka..


Ia menggelengkan kepala sambil menatap wajah Zahra hasia yang baru tadi dikenalanya.


"Vito!" teriak Dio gusar.

__ADS_1


"Kamu lebih baik pergi! "usir Dio sambil menatap wajah Vito.


" Dio, sudahlah. Seharusnya ia tahu papanya, ya bagaimanapun keadaannya Vito harus tahu ini, " cegah Zahra.


"Pantas saja uwa Rani ingin membawa aku waktu dulu kerena ini juga sih! "


Kata Zahra menyadari semuanya. Ia baru sadar kalau gambar gambar dirinya dengan ayah kenapa bisa di pajang di dinding kamar itu! Zahra hanya tersenyum getir.


"Sekarang aku bisa menjawab semuanya Dio kenapa di rumah itu, banyak sekali gambar gambar ayah dan aku yang sedang berduaan. Aku sekarang mengerti uwa Rani hanya ingin mempertemukan aku dengan dirinya. mungkin. " kata Zahra pelan.


Dio akhirnya diam saja, ya Zahra pernah menceritakan tentang gambar dirinya dengan. ayahnya di dinding kamar milik Rani.


"Apa ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu? " tanya Dio waktu itu.


"Aku nyakin kalau wanita itu menyembunyikan apa yang terjadi. "


"Aku juga heran pada sebutan kamu pada dirinya, mama. " kata Dio menatapnya.


"Aku nyakin Dio semuanya pasti sudah dipersiapkan oleh wanita itu, dan Rara bakal cari tahu itu semuanya. "


"Apa.sih yang kalian bicarakan? " tanya Vito heran.


"Kalian sebenarnya mau ngapain pada papa aku? Jangan coba coba untuk menyakiti nya? " ancam Vito marah.


Ia tidak suka pada orang yang bicara malah mencueki dirinya. Zahra langsung menghampiri Vito, sedangkan Dio hanya diam saja dengan ibu Nining awalnya dia mencegah Zahra manghampiri Vito.


"Dio izinkan aku mencerigakan yang terjadi pada ayah, "


"Tapi? "


"Jangan non! "


Dio dan ibu Nining serempak mencegah Zahra, tapi gadia itu mengelengkan kepala. Akhirnya keduanya tidak bisa mengelak.


Zahra mengajak Vito ke teras rumah Dio, sedangkan Dio dan ibu Nining hanya menghela nafas panjang melihat kenekatan Zahra untuk. menceritakan Hamdi. Sebenarnya sah sah saja sih Zahra menceritakan tentang Hamdi tapi ibu Nining malah ragu.


Apalagi kalau Zahra menceritakan tentang kematian pak Rohman yang tersangka nya Rani.


Zahra mengajak Vito duduk di kursi. Mau tidak. mau akhirnya Vito duduk di depan Zahra hanya tehalang oleh meja kecil saja. Sedangakan Dio dan ibu Nining hanya melihat keduanya dari kejauhan.


"Kamu memanggil aku kesini untuk apa? Menceritakan atau menjelekkan papa? Aku nggak suka ya sama orang yang menjelekan papa didepanku! " sinis Vito mantap tajam Zahra.


"Aku ngga bakal menjelekan papa kamu tenang saja! " ujar Zahra lembut.


Hatinya teriris perih mengingat ayahnya. Dan ia juga merasakan perih apalagi kalau cowok yang ada dihadapannya tahu siapa papanya, meninggal dunia yang tidak pernah semuanya duga sama sekali.

__ADS_1


"Kenapa kamun diam? Apa kamu mikir mikir dulu untuk menjelekan papa aku. Aku nggak mau ya kalau ada orang yang berani menjelakan papa ku. Ingat papaku laki laki yang sempurna!" tegas Vito.


"Aku nggak akan pernah menjelekkan papa kamu, Vit. Tenang saja. Namun jangan takut ya kalau aku bicara tentang papa kamu. Satu yang aku bigungkan kenapa mama kamu nggak cerita pada kamu tentang papa kamu? " tanya Zahra..


Ia berusaha tidak menangis didepan Vito. Apalagi saat ia mendengar berapa bangganya cowok itu pada papanya tanpa tahu kalau mamanya lah yang jadi pelentara papanya meninggal. Akibat mempertahankan kebenaran yang harus ditegakan.


"Pak Hamdi memang tinggal di desa X, tapi beliau sudah meninggal Vito! itu yang kamu nggak tahu dari papa kamu. "


BRAK!


Vito dengan kerasnya memukul meja yang ada dihadapannya. Matanya menatap tajam. kearah Zahra, hadia iyu kaget saat mendengar gebrakan meja yang dipukul oleh Vito.


"Kamu tahu dari mana kalau papa sudah meninggal, jangan sok tahu ya. Kamu hanya orang lain! " tunding Vito kasar.


Tapi Zahra hanya diam melohat kwmarahan dari Vito, ia membiarkan Vito melakukan apapaun juga pada dirinya.


"Aku bohong! tanya saja sama mama kamu apa yang sebenarnya terjadi! " ujar Zahra lbur.


"Banyak saksi kalau papa kamu telah meninggal sebelum kamu lahir ke dunia ini, " tutur Zahra kembali.


Diliriknya wajah cowok yang ada dihadapannya dengan tajam.


"Mama kamu nggak cerita tentang papa kamu? " lanjut Zahra kerena melihat Vito diam saja.


"Kenapa tanya tanya tentang papa? " sembur Vito.


"Ya sudah kalau kamu nggak mau tahu tentang papa kamu, " ujar Zahra beranjak dari duduknya.


Melihat itu Vito langsung meraih tangan Zahra dengan cepat supaya gadis itu tidak meninggalkan tempat itu. Ia yang melihat Vito memegang tangannya langsung menepiskan tangan Vito.


"Aku nggak akan cerita tentang papa kamu! " ujarnya sambil duduk lagi.


"Oke! "


"Kata mama papa kerja di desa X dan yang anehnya papa sampai sekarang nggak pernah kembali atau. mnemui aku. " kata Vito polos.


Dari suaranya terdengar ada kerinduan. Dihati Zahra ada syukur kerena pernah merasakan kasih sayang ayahnya ya biarpun singkat.


"Sampai sekarang aku belum pernah melihat papa. Tapi memang banyak gambar gambar papa di kamar rumah mama, aku sering lihat gambar itu sama gadis kecil ya kita kira 6 tahunan. " kata Vito menjelaskan..


"Dan aku anehnya papa hanya mengirim gambar yang telah lalu bukan fhoto sekarang? " tanya Vito seperti pada dirinya sendiri.


"Kamu percaya begitu saja pada cerita mama kamu? Kamu nggak tanya gadis yang bersama papa kamu? " kejar Zahra mentap wajah Vito.


Vito hanya mengelengkan kepala saja, Zahra apalagi ia tidak bisa mengatakan apa apa saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Vito.

__ADS_1


__ADS_2