
Wanita itu sangat terkejut sekali mendengar apa yang di ceritakan oleh Ana, Entin tidak menyangka kalau suaminya bakal datang ke perpustakaan.
Zahra begong. Ia baru saja melerai Darman tapi lelaki itu malah, melampiaskan kekesalannya ke perpustakaan dan anak anak yang membaca di sana. Tanpa menunggau waktu lagi Zahra langsung meninggalkan rumah Entin.
Ana dan Zahra langsung menuju perpustakaan desa, begitu juga dengn Entin. Ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya seperti itu.
Sesampainya di depan perpustakakan Zahra melonggo dan shock sekali hanya bisa mengelus dada nya, apalgi buku buku yang ada di rak kini turun semua ke halaman rumah, buku buku itu di buang oleh Darman, dilempar begitu saja.
Awalnya Zahra akan langsung berhadapan dengan Darman tapi Ana menghalangi langkah Zahra, wanita itu langsung melihat pada Ana yang menghalanginya. Ana menggelengkan kepala.
“Kak Zahra jangan! Aku nggak mau kalau uwa Darman melukai kakak,”
"Tapi de kalau di biarkan seperti ini,”
“Kak aku tahu siapa uwa Darman, aku nggak mau kakak kena masalah dengan dirinya bisa bias brabe kak,”Ingat Ana ssmbil menatap wajah Zahra.
“Ðe, kakak nggak mau membiarkan kalau uwa kamu melakukan itu, kasihan anaka anak lain kalau dia melaukan itu!”Teriak Zahra berusaha melepaskan tangan yang digenggam oleh Ana.
Tapi Ana bersaha tidak melepaskan genggaman tangan Zahra dari tangannya. Ana takut kalau Zahra kenap kenapa apalagi harus berhadapan dengan uwa Darman sendiri, semua orang tidak ada yang berani melawan kemarahan dari uwa Darman itu sendiri.
Tapi Zahra berusaha melepaskan tangan Ana dari tangannya. Setelah lepas ia langsung berjalan menuju Darman. Ana yang melihat itu langsung mengikuti Zahra ia sebenarnya takut pada uwa Darman melakukan sesuatu pada Zahra.
Sedangkan Entin, setelah datang hanya mengelus dada melihat kejadian itu. Ya dengan mata kepala sendiri ia melihat suamianya melakukan itu pada buku buku yang tertata rapi. Ia ingin mendekati suamianya tapi Ana menghalangi uwa Entin.
"Uwa lebih baik uwa disini dulu, jangan mendekati,
"Kak, kak! Kak Zahra!" Panggil Ana mengejar Zahra tapi Zahra tidak mengubris panggilan dari Ana.
"Hentikan!" Teriak Zahra saat ia berada di pinggir Daraman.
Ditatapnya wajah laki laki itu dengan tajamnya, ia sebenarnya ingin berteriak mengakui kalau dirinya adalah orang yang dicari oleh laki laki yang ada dihadapannya. Tapi Zahra mengurungkan niatnya nya, ia hanya saling tatap satu sama lainnya dengan Darman.
"Pak! Kenapa harus merusak perpustakaan, kenapa bapak lakukan itu? Apa kerena bapak takut apa yang dibicarakan warga?" Kecam Zahra emosi.
__ADS_1
Ana tertegun di tempat melihat kemarahan Zahra yang meluap saat berhadapan dengan uwa nya ia tidak menyangka kalau gadis yang selalu bersama nya akan semarah itu.
Tadinya ia ingin menarik tangan Zahra tapi melihat Zahara Seperti itu, ia membiarkan apa yang dilihatnya.
"Kamu bicara apa?" Gertak Darman..
"Kamu takut kan kalau Anin datang dan membalas apa yang pernah bapak lakukan padabkeluarga Anin? Akui lah kesalahan bapak dihadapan polisi!" Cerca Zahra berapi rapi.
"Bangsat kamu bicara apa? Pergi kamu! Kamu mau mampus?" Teriak Darman.
Dengan kasarnya Darman mendorong tubuh Zahra, untung Ana dengan cepat langsung meraih tangan Zahra.
"Uwa! Jangan kasar kaya gitu sih!" Ana berteriak dengan kerasnya menatap wajah Darman.
"Dasar cunguk!"
Hampir aja Darman memukul wajah Ana kalau tidak cepat Zahra menghalangi mungkin wajah Zahra bakal dihajar dengan kuat oleh Darman.
Darman yang terlihat kesal langsung mendorong tubuh Zahra sampai gadis itu teepalanting dsn terjatuh menimpah tumpukan buku yang terlihat acak acakan.
BUG!
Ana spontan memukul tubuh Daraman dengan sebuah buku besar dan membuat wajah Daraman meringis kesakitan. Daraman menatap berkilat melihat Ana yang telah memukulnya, tanpa menunggu waktu Darman mengeluarkan pisau dan menusuk ke tubuh Ana beberapa kali.
Ana yang tidak menduga kalau Daraman memengang pisau tidak bisa.menghindar sama sekali, kejadian itu berlangsung dengan cepat sekali. Tahu tahu pisau menembus perut Ana. Sampai gadis itu langsung tidak sadarkan diri..
Tubuh Ana langsung ambruk ke lantai dan mengeluarkan cairan berwarna merah.
Zahra terkasiap melihat adegan itu. Ia langsung bangkit, ia tidak peduli sama sekali melihat tangan Darman yang memegang pisau..
"Tolong,...Tolong!" Terik Entin dari kejauhan.
Beberapa warga yang mendengar teriakan Entin langsung berdatangan ingin tahu apa yang terjadi pada Entin. Saat warga datang mereka terbelalak ketikaelihat tubuh Ana tergeletak dan Darman sedang memegang pissunberkumuran darah..
__ADS_1
Wanita itu terkejut saat suamianya menghunuskan pissu dengan tiba tiba ke perut Ana. Ia spontan berteriak keras supaya ada yang menolong Ana.
Warga yang melihat langsung mendekati tubuh Ana dan membawa ke klinik yang tidak jauh dari tempat kejadian. Sedangkan warga lain memberitahukan ibu Ayu tentang kejadian itu.
BRAK!
Zahra dengan cepat langsung mengambil besi yang ada di dekatnya, entah siapa yang menyimpan besi itu di sana. Zahra dengan kekuatan langsung memukul tangan Darman yang memegang pisau yang penuh dengan darah.
Pisau yang di pegang oleh Darman terpental jauh sekali, Darman yang akan mengambil pisau dihadang oleh Zahra mengunakan besi itu!
"Licik!" Jerit Zahra bergematar kuat.
"Kamu bilang apa?" Tawa Darman seperti tidak menyesal telah melakukan pada Ana ponakan nya sendiri.
"Kamu benar benar gila!" Terima Zahra.
Saat matanya dengan jelas melihat cairan merah yang keluar dari tubuh Ana, cakaran yang keluar mengingatkan dirinya pada seseorang yang telah dibantai oleh Darman.
"Kamu nggak akan lolos, kamu harus mempertangungjawabkan semuanya!" Kecam Zahra tajam.
"Darman! Kamu tega ya telah menyakiti ponakan kamu sendiri, dimana hati nurani kamu!" Teriak uwa Iyan yang tiba tiba datang.
Ia sangat terkejut saat mendengar apa yang terjadi pada Ana. Ketika mendengar Ana celaka oleh Darman, uwa Iyan langsung mendatangi tempat diman Darman berada.
"Kakua saja anak ini nggak datang mungkin aku nggak akan pernah menyakiti Ana, jangan salahkan aku dong salahkan dia!" Teriak Darman melimpahkan kesalahan pada Zahra.
"Kamu benar benar nggak berubah!" Terima uwa Iyan murka.
Darman hanya tertawa, wajahnya seperti ada rasa puas, uwa Iyan benar benar tidak bisa mengontrol emosinya dengan cepat ia menghajar kepal Darman beberapa kali, kalau sja Zahra tidak menghalangi nya mungkin ia bakal membunuh laki laki yang ada dihadapannya.*
__ADS_1