TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 28


__ADS_3

Anin bergetar tubuhnya saat mengingat apa yang Darman katakan dengan Tio, benak Anin terus dihantui oleh kata kata Darman, ia merinding sekali tapi tidak bisa mengungkapkan sama.orang lain termasuk pada orang tuanya.


Siang itu! Ia sedang bermain dengan temannya, tanpa sengaja melihat Daan yang sedang menuju rumah Tio. Anin yang pinter itu langsung mengikuti Darman secara diam diam tanpa diketahui oleh Darman.


Siang itu! Anin mwndengrakan semuanya, mwndengrakan kejadian yang seharusnya tidak pernah ia tahu, kejadian yang membuat Darman mengancam dirinya.


Sampai di rumah Tio, rumah itu sepi sekali istrinya Tio tidak di rumah, menurut Tio istrinya lagi di rumah ibu Minda.


"Hahaha," semuanya tidak bakal tahu kalau aku yang bunuh Rohman!"


"Kamu jangan katakan ini, kalau sampai kamu.mwbgatakan ini mampus!" cerca Darman.


"Aku nggak bakal bicara sama siapapun, tapi mana bagian yang kakang katakan itu!" kata Tio.


"Tenang, aku bakal memberikan ini buat kamu," kata Darman sambil melempar segepok uang.


Wajah Tio benar benar senang sekali melihat uang itu! Hatinya berbunga bunga sekali.


"Wah! Aku kaya!" tawa Tio riang.


Darman tersenyum.


"Kamu juga harus lakukan apa yang aku perintahkan, aku nggak mau Hamdi berkeliaran di desa ini!" tegas Darman.


"Bagiamana caranya?"


"Usir Hamdi di desa ini bersama anak dan istrinya."


"Aku nggak ingin Ayu dan Anin tahu rencana ini?"


"Oke!"


"Aku bakal lakukan apa yang kakang lakukan pada Hamdi."


"Jangan sampai tercium rencana kita bisa brabe,"


Darman begitu gigih untuk melenyapkan Hamdi di desa itu! Ya biarpun Hamdi kadang merasakan dunia luar itu hanya beberapa hari saja, nantinya Hamdi bakal di penjara kembali.


"Jangan sampai warga tahu, kalau sampai warga tahu semuanya bakal tahu kejahatan kita."


"Kang kenapa kakang melakukan ink pada kang Hamdi?" tanya Tio heran..


Ya ia sangat heran sekali, kerena Darman melakukan pada Hamdi, sedangkan ia tahu kalau Hamdi adalah adik angkat dari Darman! Darman sampai sekarang tidak tahu siapa wanita yang melahirkan dirinya, dan ada satu keluarga yang ikhlas mengasuh Darman dengan penuh kasih sayang tapi malah Darman melakukan apa yang tidak pernah dipikirkan oleh semua orang termasuk orang tua angkatnya.


"Aku hanya iri sama Hamdi mentang mentang dirinya anak dari ibu, ibu malah memberikan semua tanah dan semuanya pada Hamdi!" cetus Darman.


"Itu wajar kan?"


"Wajar sih wajar. Seharusnya tanah itu milik ku, bagaiamana caranya."

__ADS_1


"Tapi kakang dapat juga kan warisan?" tanya Tio bertubi tubi.


Tio pernah mendengar kalau ibu angkat Darman pernah meberikan tanah pada Darman, tapi oleh Darman tanah itu di jual untuk main judi.


"Kamu jangan sok tahu!" ketus Darman tidak suka.


"Aku bukan sok tahu, tapi banyak orang yang bilang begitu," kekeh Tio tertawa.


"Sudah sudah kamu itu diajak kerjasama malah ngomong nggak karuan sama sekali!" Dengus Darman tidak suka.


Tio hanya bisa manyun mendengarkan apa yang keluar dari mulut Darman.


Mereka tidak tahu ada sepasang mata yang melihat kelakuan mereka, hatinya hancur mendengarkan kenyataan yang ada di hadapannya.


'Jahat!' bisik Anin dalam hati.


Ia awalnya akan pergi dari tempat itu tapi fatal ia menyenggol pot bunga dan pot itu meluncur dan Brak! jatuh ke bawah sampai pecah.


Darman dan Tio yang ada di dalam rumah langsung menatap ke luar, kedua wajah mereka terkejut melihat Anin yang berada di pojok menatap keduanya.


Darman langsung menghampiri Anin, begitu juga dengan Tio.


"Kamu mau apa kesini?"


"Ari ada uwa?" tanya Anin menatap wajah Tio..


Ari adalah anak dari Tio, umur mereka hanya beda satu minggu duluan Ari dibandingkan Anin.


"Terus kapan pulangnya?" tanya Anin lagi.


"Sore!"


Setelah percakapan itu Anin langsung pergi, biarpun hatinya sangat berdebar sangat keras sekali takut ketahuan. Tapi gadis kecil itu bisa memerankan peranan dirinya.


"Nin, kamu kesini hanya ingin ketemu Ari atau hanya ingin tahu sesuatu?''tanya Darman curiga.


"Aku cari Ari uwa, emang ada apa?" tanya Anin menatap wajah Darman tajam.


"Kamu nggak pernah menguping apa apa kan?" tanya Darman melotot.


"Memangnya uwa Darman dan uwa Tio bicara apa?" dusta Anin polos.


"Sudah kang, masa Anin mendengarkan apa yang kita bicarakan, apa nggak cukup alasan Anin," bela Tio.


Sebenarnya hati Anin berkerut mendengar Darman menyakan sesuatu lada dirinya tapi bocah kecil itu menjawab secara wajar saja. Tapi Darman Seperi tidak percaya atas kepolosan wajah Anin, ia mendekati Anin dan dengan kasarnya menarik tangan bocah itu.


"Kalau kamu macam macam aku bakal bunuh kamu!" ketus Darman sambil mendorong tubuh kecil itu.


"Kang!" teriak Tio.

__ADS_1


Tio langsung menghampiri Anin dan membangunkan Anin yang tersungkur ke tanah.


"Aku nggak dengar apa apa uwa. Apa sih yang ua Darman katakan sama uwa Tio? Bikin curiga orang!" Dengus Anin menatap darman.


"Kang! sudah Anin anak kecil!" teriak Tio.


Ia.menghalangi Darman untuk menyakiti bocah kecil itu. Tio menyuruh Anin pulang, bocah 5 tahun itu hanya mengangguk saja, lutut kecilnya perih kerena terluka. Tapi hatinya lebih perih mendengra apa yang dibicarakan oleh Darman dan Tio.


"Kenapa aku nggak besar besar, Bu?" tanya Anin saat ia telah sampai di rumah.


"Kamu bilang apa?"


"Kapan aku besarnya?"


"Biar bisa bela ayah," lanjut Anin menatap wajah ayu dengan tajamnya.


"Anin kamu kenapa? Kamu mengigau?" tanya Ayu kanget mendengar apa yang dibicarakan oleh Anin.


"Nggak Anin nggak mengigau ibu, Anin hanya ingin bela ayah!"


Ayu memeluk tubuh Anin, ia mengatakan kalau sebenarnya Anin tidak baik baik saja. Benar! Saat ia memeluk tubuh Anin, bocah itu malah menangis dalam pelukan ibunya.


Ayu tidak tahu apa yang terjadi pada Anin, tapi ia berusaha memberikan kenyamanan dalam memeluk tubuh anaknya.


"Anin kenapa sayang! Bilang sama ibu?" tanya Ayu melepaskan pelukannya.


"Bu, ayah nggak jahat kan, ayah nggak jahat!" kata Anin berkaca kaca matanya.


"Nggak kok, ayah nggak jahat. Kenapa Anin?" tanya Ayu lembut.


"Uwa Darman lah uwa Darman lah yang pembunuh pak Rohaman!" meledak tangisan Anin.


Deg!


Hati Ayu bergetar mendengar pengakuan Anin.


"Anin tahu dari mana?"


"Tadi waktu Anin main, Anin lihat uwa darman menuju rumah mang Tio. Mang Tio juga jahat!" terbata bata Anin menceritakan semuanya.


Ayu memeluk kembali tubuh Anin. Ia ingin percaya semuanya yang dikatakan oleh Anin, ia nyakin putrinya tidak berbohong! Tapi Ayu ragu mengatakannya pada polisi kerena anak dibawah umur 10 tahun tidak akan pernah jadi saksi. Dan saksinya bakal ditolak oleh semua orang.


"Anin mwndengrakan apa yang mereka.katalan?" tanya Ayu melepaskan pelukan anaknya.


"Iya, mang Tio jahat telah mengatakan yang nggak benar pada warga!" celetuknya.


"Maksudnya?"


"Mang Tio mengatakan kalau ia nggak disuruh uwa darman."

__ADS_1


"Anin Mei jadi besar ibu biar bisa melihat ayah lagi! Ayah nggak usah di penjara kerena nggak salah." bujuk Anin.


Perih hati Ayu mwndengrakan apa yang Anin katakan, tapi ia juga tidak ingin gegabah dengan Darman. Kalau cerita Anin benar juga percuma kerena semua.warga pastinya bakal lebih percaya Darman daripada dirinya yang suaminya telah menjadi tahanan.*


__ADS_2