TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 111


__ADS_3

Senja mulai turun, raja siang yang garang kini meredup dengan cahayanya yang mulai menghangat, seorang gadis duduk di sebuah batu yang berada disana.


Zahra hanya termenung di bukit yang dimana ibu dan ayahnya bertemu dengan Rani. Bukit itulah yang menjadi saksi antar pertemanan Ayu, dan Rani.


"Dulu bukit itu tempat dimana ibu kamu dan Rani duduk berdua disana, mencurahkan hati dan perasaannya." ungkap uwa Iyan tadi pagi.


"Tempat itu mereka berempat selaku bersama sama, tapi sejak Darman menikah dengan wanita pilihan orang tua angkatnya, Darman mulai menghilang nggak pernah duduk disana lagi." lanjut uwa Iyan termenung.


"Apa separah itukah nenek nggak merestui mereka?"


"Entah uwa juga nggak tahu pastinya."


"Ua menduga kalau sebenarnya orang tua Darman nggak setuju kerena Rani nggak punya orang tua yang jelas." tekan Iwa Iyan..


"Uwa Iyan, kalau itu alasannya, sebenarnya uwa Darman anaknya siapa? Nanak kaya nya lupa kalau uwa Darman juga hanya sebatas anak pungut." Hela nafas Zahra.


Ia seperti menyesali apa yang diungkapkan neneknya. Kalau saja ia menjadi Rani mungkin ia akan membalikkan kata katanya.


"Uwa, emang ibu Rani nggak tahu kalau uwa Darman hanya anak angkat?"


"Rani lebih dulu tahu kalau Darman adalah anak angkat mereka, tapi Rani nggak pernah mempermasalahkan nya." ujar Uwa Iyan memberitahukan pada Rani.


"Uwa apa mungkin uwa Darman melakukan merebut warisan ayah kerena itu?" tebak Zahra menatap wajah Uwa Iyan.


Peri itu hanya mengelangkan kepala saja kerena ia memang tidak tahu masalah yang terjadi.


"Rara hanya ingin tahu apa sih alsan uwa Darman melakukan. itu lada ayah dan yang lainnya kalau nggak ada masalah dengan nenek?" tanya Zahra.


"Rara harus cari tahu uwa, masalah itu." lanjut Zahra.


"Kalau uwa sih curiga sama istrinya Darman yang telah meninggal." kata uwa Iyan.


Ya laki laki itu mulai mengetahui perubahan Dalam ketika Darman menikah dengan pilihan orang tuanya. Tapi waktu itu ia tidak pernah mengubrisnya, kerena setiap laki lak yang telah menikah pasti berubah dari segi hal lain. Apalagi dari segi ekonomi Darman lebih memprihatinkan dibandingkan dengan Hamdi.


"Apa istri uwa Darman jahat atau bagaimana?" tanya Zahra.


Nggak sih! Dari awal menikah sampai ia meninggal dunia wanita itu begitu tegar sekali menghadapi kelakuan. suaminya." uwa Iyan menceritakan sisi lain sang istri dari Darman.


"Pokoknya istrinya baik sekali, nggak pernah galak atau pun menyakiti siapa pun juga." jujur uwa Iyan.


"Kata ua Iyan, kalau uwa Iyan berubah maksudnya berubah menjadi apa kelakuannya?"

__ADS_1


"Kasar, mudah tersinggung dan sasarannya pasti istri nya." cerita Uwa Iyan.


Tanpa diointa oleh Zahra, uwa Iyan menceritakan kebrutalan dari saran sejak menikah dengan pilihan orang tua angkatnya. Sang istri yang menerima pukulan, cacian, serta hardikan tapi wanita itu begitu tegar sekali.


Zahra dengan santai mendengarkan apa yang diceritakan oleh uwa Iyan sendiri.


"Apa jangan jangan uwa Darman melakukan kejahatan kerena itu uwa?" tanya Zahra.


"Bisa jadi sih! Tapi anehnya perubahannya saat dia sudah menikah?" uwa Iyan termenung merasa heran.


"Kalau saja istrinya uwa Iyan nggak meninggal, kemungkinan kita bisa tanya tentang perilaku uwa Iyan," Hela nafas Zahra.


Zahra mengenal nafas juga, kalau ia bisa memutar waktu mungkin ia bisa kembali lagi ke masa lalu. Tapi di masa lalu itu lah ia hanya seorang bocah kecil yang tidak tahu menahu masalah yang dihadapi orang dewasa.


"Aku cari cari nggak tahu nya kamu di sini Ra?" tanya Rey yang tiba tiba sudah duduk di samping Zahra sambil menatap lurus pepohonan..


"Kamu tahu tempat ini dari siapa?" Zahra kaget saat Rey menemukannya.


"Uwa Iyan, tadi aku nyari nyari kamu, untung ketemu sama uwa Iyan." jawab Rey.


"Kamu kenapa disini?" lanjut Rey bertanya pada Zahra.


"Dulu kamu nggak pernah kesini, ya waktu kamu masih di desa ini. Tapi kenapa sekarang malah asyik disini?" tanya Rey kemudian.


"Tapi kenapa kamu baru kesini, Nin?" kejar Rey melirik Zahra.


"Sebenarnya untukku tempat ini bukan tempat yang bagus, kerena waktu dulu ayah nggak pernah membawa aku," ungkap Zahra.


Ya Zahra masih ingat waktu kecil, ayahnya sering membawa ke sebuah kebun. Kebun yang sekarang menjadi milik uwa Darman, ia mengenal kebun sisi kuburan juga, tempatnya nyaman sekali.


Dan dari kecil sampai sekarang, batu kali ini ia mengunjungi bukit yang tidak jauh dari desanya, mungkin kalau ia tahu ia lebih nyaman tinggal disini.


Tanpa mereka sadari Rani memandang kearah mereka.


"Ra, kamu juga punya tempat favoritnya, tapi lebih suka datang kesini," bisik hati Rani lembut.


"Maafkan aku Ra, aku memang bukan ibu angkat kamu. Tapi kamu lebih memperlakukan aku sebagai ibu kandungku sendiri." gumam wanita itu.


Ya la ia sadari ia malah langsung menyusut cairan bening yang keluar dari bola matanya. Ada rasa haru yang menyelinap dihatinya.


"Aku nggak bisa menjadi mama kamu Nin, kamu anak itu yang aku jaga kerena.kamu anak Ayu." lirihnya.

__ADS_1


Sebenarnya bukan hanya Rani yang berada di sana, uwa Iyan juga ada di sana melihat Rani yang sedang melihat Zahra dan Rey, uwa Iyan juga tidak tahu apa yang di pikirkan oleh Rani yang sedang memandang Zahra dsn Rey yang asyik berbicara.


"Apa yang kau pikirkan tetang dia anak itu?" tanya uwa Iyan menghampiri Rani, wanita itu sedikit tertegun saat mendengar suara uwa Iyan.


"Kamus hanya mengangetkan saja," Dengus Wanita itu.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Uwa Iyan membalas tatapan mata wanita itu.


"Nggak apa apa, kenapa kamu kesini?" tanya wanita itu sinis.


"Aku hanya ingin menjemput Zahra saja bukan untuk mencari kamu." uwa Iyan langsung meninggalkan wanita itu.


wanita itu menatap kepergian uwa Iyan, sedangkan laki laki itu tidak memperdulikan tatapan wanita itu.


"Ra, pulang!" teriak uwa Iyan memanggil Zahra.


"Uwa?" tanya Zahra.


Gadis itu menatap kedatangan uwa Iyan, bukan hanya uwa Iyan yang dilihat, ia juga melihat wanita itu yang memandang dirinya.


"Sudah sore, waktunya pulang!" ujar uwa Iyan.


Zahra memandang Rey yang menatapnya, akhirnya keduanya mengangguk kerena tahu Senja mulai redup.


"Mama kenapa kesini?" tanya Zahra menghampiri wanita itu.


Tapi wanita itu hanya dia. saja tidak mengubris apa yang Zahra bicarakan.


"Ma, hari sudah mulai malam, kita pulang yuk!" ajak Zahra lembut.


Zahra menarik tangan wanita itu tanpa diduga wanita itu hanya menepiskan tanganya dari tangan Zahra. gadis itu akhirnya menetap tajam kearah wanita itu, sedangkan wanita itu hanya melihat samping.


"Ra, biarkan ia sendiri. Kami pulang ya jangan lama lama di sini nya." kata uwa Iyan sambil mengajak Zahra untuk pergi meninggalakan bukit.


Sedangkan wanita itu membisu saat uwa iyan bicara tadi seperti itu. Sedangkan wanita itu hanya menghela nafas panjang. Ia benar benar tidak menyangka kalau bayi dalam pelukan Ayu kini memanggil dirinya mama.


Panggilan yang tidak pernah ia banyangkan sebelumnya, apalagi kehidupan dirinya dengan Zahra berbeda jauh sekali.


"Aku ingin Anin memanggil aku mama" ujar dirinya sewaktu belasan tahun yang lalu.


"Kenapa nggak? Aku izinkan kok Anin memanggil kamu mama, asal kamu mau disini terus bersama Anin." ungkap Ayu menatap Rani dengan tajamnya.

__ADS_1


Wanita itu menghela nafas mengingat kecakapan dengan Ayu, ya seperti mimpi yang tidak mungkin terjadi, tapi ink benar benar terjadi pada Zahra. ya biarpun sekarang namanya Zahra tapi ia tetap Anin. Ia melirik Zahra yang meninggalkan tempat itu.*


__ADS_2