
Memang kalau mengingat kejadian dari awal terbunuhnya pak Rohaman di kebunnya Hamdi, dan kebun itu adalah warisan dari orang tua Hamdi yang telah dirampas oleh Darman..
Sebagian warga desa itu! Banyak menduga kalau Darman yang menjadi biang keladinya dalam terbunuhnya pak Rohaman. Tapi ada sebagian orang yang cuek, dalam kabar kematian pak Rohaman.
Orang yang menuduh Darman sebegai pembunuh pak Rohman adalah uwa Iyan dsn mbok Inem, apalagi saat mereka tahu semua milik Hamdi malah menjadi milik Darman semuanya.
"Udah jangan di lanjut, kita nggak tahu apa yang sebenarnya yang terjadi malam itu. Hanya Tuhan yang tahu." sanggah uwa Iyan.
"Jadi apa benar kalau Anin juga melihat semuanya?" tanah mbok Inem memandang wajah uwa Iyan.
"Kemungkinan Anin melihat, tapi entahlah kerena aku juga nggak tahu."
"Kita harusnya tanya pada Zahra!"
"Jangan! Buat apa, memory masih belum stabil. Ia terlalu kecil waktu itu, nggak sepenuhnya tahu kejadian yang sebenarnya." sanggah uwa Iyan.
Sebenarnya uwa Iyan juga pernah bertanya Maslah kematian Hamdi di hadapan Anin. Tapi gadis itu hanya mengelengkan kepala, keburu ia tidak sanggup melihat kejadian yang benar benar membuat dirinya tidak sanggup.
"Zahra juga nggak ingat apa yang terjadi uwa,, mungkin kerena Zahra masih terlalu kecil untuk mengingat itu." masih terhiang kata kata Zahra waktu ia menanyakan semuanya..
"Ra, seharusnya kamu mengingat semuanya " protes uwa Iyan waktu itu.
"Uwa!" teriak Zahra memanggil Iwa Iyan dengan sebutan uwa.
"Aku nggak mengingat semuanya uwa, aku juga nggak tahu apa yang terjadi lada malam itu, cuma aku melihat ada laki laki yang membawa arit terus di iris kulit ayah," ujar Zahra.
"Kamu benar benar nggak mengingat?"
"Nggak sedetil sih! Mungkin kalau kejadian itu direkayasa atau diulang Rara bakal mengingat."
"Semoga saja nggak ada kejadian terulang lagi," ujar uwa Iyan menatap Zahra.
"Ya Rara juga nggak mau sih! Tapi kalau semuanya terjadi kembali mungkin Rara bakal mengingat semuanya."
Uwa Iyan hanya menarik nafas panjang mendengarkan apa yang diceritakan Zahra. Ditatapnya wajah Zahra yang ada dihadapannya, ia menemukan kejujuran di matanya.
"Maafkan Rara uwa kerena Rara nggak bisa mengingat semuanya. Rara ingat juga kerena uwa pernah menceritakan semuanya."
Uwa Iyan hanya mengusap tangan Zahra dengan lembut.
"Kang!"
Teriak mbok Inem dengan keras. Kerena melihat suaminya hanya diam termenung saja.
__ADS_1
"Ada apa sih!" ujar uwa Iyan agak terganggu teriakan dari istrinya.
"Kang, kenapa diam aja, apa yang kamu pikirkan dari tadi bukannya menyimak apa yang aku bicarakan malah diam pura pura tidak mendengar!" terima mbok Inem emosi.
"Iya kamu mau bilang apa? Katakan saja sekarang!" kata uwa Iyan.
Pria setengah baya langsung memengang tangan mbok Inem yang akan pergi meninggalkan dirinya, wanita itu memandang wajah suamianya dengan perasan kesal dan gemas.
"Sudah ceritakan apa yang kamu ingin ceritakan." kata uwa Iyan menggoda istrinya.
Mbok Inem akhirnya duduk kembali ketika mendengar godaan dari suamianya.
"Kang apa yang akang pikirkan?" tanya mbok Inem.
"Aku hanya memikirkan apa yang Zahra katakan sebenarnya. Gadis itu juga nggak tahu apa yang terjadi, terlalu kecil untuk mengingatnya.
"Pasti orang yang tahu adalah pak Karta!" ujar uwa Iyan pasti.
"Tapi sayang kang Karya sudah tidak ada, Kalau nggak meninggal mungkin kita nggak baka bertanya tanya seperti ini,"
"Kamu ini, kalau kang Karta masih hidup nggak Hamdi dan Anin hilang!" dengus uwa Iyan saat mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Mungkin juga mereka punya anak banyak, bukan hanya dua saja," lanjut uwa Iyan.
Belum sempat mereka melanjutkan percakapan nya tiba tiba sebuah mobil berhenti di rumahnya uwa Iyan.
Kedua orang tua itu hany diam dan melihat siapa orang yang keluar dari mobil itu.
"Nak Zahra!" seru mbok Inem terkejut, melihat kedatang Zahra dan Rey.
Bukan hanya mbok inem yang terkejut, tapi uwa Iyan juga terkejut melihat kedatangan Zahra dan Rey, pria itu menyangka kalau keduanya datang pasti ada apa apa nya.
"Mbok bagaimana keadaannya?" tanya Zahra sambil memeluk wanita itu dengan eratnya.
Begitu juga dengan uwa Iyan.
Mbok inem langsung menyediakan singkong rebus dan teh manis.
"Ada apa?" tanya uwa Iyan menatap wajah Zahra.
"Narti meninggal uwa," Zahra memulai bicaranya..
Pria itu tidak langsung menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Zahra. Gadis itu berhenti dulu dan menatap wajah pria setengah baya yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Ceritakan apa yang kamu ingin ceritakan." saran uwa Iyan menunggu apa yang bakal di ceritakan oleh Zahra.
"Kematian yang aneh sekali, Narti ditemukan di sebuah Solokan dekat Villa xXXx?" ujar Zahra.
Ia sengaja berhenti bicara seperti menunggu apanyang akan Iwa Iyan katakan, tapi pria setengah baya itu hanya diam saja.
"Papa cerita kalau sebelum kematian Narti, papa ketemu dengan Rani. Uwa, boleh Rara bertanya siapa sebenarnya Rara?" tanya Zahra menatap wajah uwa Iyan dengan tajam.
"Rani? kamu kenal dari mana Rani?" tanya uwa Iyan terkejut.
"Apa kang, Zahra kenal dengan Rani? Kamu kenal dari mana wanita itu!" sembur Mbok Inem yang ada di dalam langsung keluar matanya menatap wajah Zahra tajam sekali.
"Rani pernah menyekap Zahra mbok, jadi Rara tahu Rani, Rani juga pernah bercerita kalau ia pernah berasal dari desa ini.
Wanita benar benar licik!" geram mbok inem.
"Mbok mengenal Rani?" tanya Zahra heran.
"Kami nggak pernah asing dengan. Ran. Kalau dikatakan sih ia adalah kembang desa ini, banyak yang suka sama Rani, tapi sayang banyak yang ditolak olehnya." tutur uwa Iyan. seperti mengingat kembali memory yang tidak pernah dibuka kembali.
"Apa Rani menolak nya secara kasar jadi lara lelaki tersakiti?" tanya Rey yang dari tadi diam saja kini bersuara.
"Nggak, Rani terlalu baik. Ia seorang gadis yang baik banget, lembut. Ia menolak cowok cowok yang datang padanya secara halus dan tutur kata lembut." jelas uwa Iyan.
"Salah satu cowok yang suka pada Rani yaitu Hamdi. Ayah kamu menyukai Rani, tapi Rani menolak Hamdi dengan lembut. Rani malah menyukai Darman.
Zahra hahyandiam saja mendengarkan apa yang diceritakan oleh uwa Iyan. Cerita tentang Rani memang benar sekali, Rani pernah menolak beberapa pria yang menyukainya.
"Uwa Darman?" tanya Zahra heran.
Tapi dalam hati ia membenarkan cerita Ana tentang Rani yang kekeh mencintai Darman biarpun laki laki itu meninggalakan dirinya.
"Kasihan pokoknya Rani, mungkin ia nggak pernah mendapatkan kebahagian pada orang orang lain," ujar uwa Iyan.
Apa yang dikatakan oleh Ana pada Zahra memang benar kenyataan nya seperti itu juga. Ya Ana pernah menguping pembicaraan antara Rani dengan ibu Ani di rumah itu.
"Kasihan kak, ia pernah cerita pada tante kalau ia benar benar belum pernah mendapatkan kebahagian," suara Ana terhiang di telinga Zahra.
"Masa sih!" ujar Zahra tidak percaya.
Memang ia sempat kaget saat Ana pertama kali menceritakan tentang percakapan antar Rani dengan mamanya, dan sekarang apanyang dikatakan Ana benar apa adanya tersampaikan oleh mbok inem maupun uwa Iyan sendiri.
"Hati baik, tapi biarpun baik kalau tersakiti pasti bakal menjadi orang yang jahat," kata mbok Inem.
__ADS_1
Zahra hanya mengenal nafas, dsn mengingat apa yang Ana katakan pada dirinya tentang seorang Rani, Rani yang selalu menanti kasih sayang.*