TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 122


__ADS_3

Pak Bram dan wanita itu saling tatap, ada aura yang tidak mengenakan saat pak Bram menatap wajah wanita itu.


Tapi Zahra tidak memperhatikan perubahan wajah pak Bram dan wanita itu, ia hanya fokus pada apa yang diucapkan oleh uwa iyan.


Zahra langsung beranjak dari amben, ia langsung mendekati mamanya, dan mengajak mamanya untuk. lergindsri tempat itu. Zahra sengaja membawa mamanya ke perbukitan. itu! Ibu Ani yang terbelelak melihat perbukitan yang indah dan nyaman sekali.


Sedangkan wnita itungan yang lainnya hanya diam saja. Melihat Zahra mengajak mamanya ke perbukitan itu!


"Ma, coba sih dengarkan apa yang uwa iyan katakan? Mama kesian buat laa kalau hanya bikin onar daja, kemarin waktu zRara masih disini mamas seperti ini sekarang juga begitu! " rajuk Zahra menatap tajam.


"Paling mama mau bilang mama khawatir sama kamu Ra, hati ibu nggak bisa dibohong! " ulang Zahra mengingat kata kata mamanya.


"Ra, kamu nggak pernah merasakan sebuah kehilangan, "


"Ma, Rara nggak mau mengungkit itu. lagi! Rara nggak mau membahs masa lalu lagi! Cape! " kata Rara cepat.


"Dengarkan mama Ra! "


"Apa lagi ma, Rara cape kalau. mama seperti ini. "


"Kamu cape apalagi. mama yang memikirkan kamu tiap harinya. "


"Ma, dengarkan Rara, Rara kesini pjnyantynuan yang pasti. Mama ingat waktu mama mwnjebloskan uwa darman? " tanya Zahra mengingatkan mamanya.


"Iya, memang ada apa dengan mama? "


"Bukan mama yang harus dipertanyakan, tapi kematian Narti uang harus dipertanyakan."


"Maksudnya? "


"Maksudnya kematian Narti seperti ada hubungan dengan. kematian sebelumnya, kalau memang uwa darman melibatkan diri dari pwmbunjhan Narti disana ada papa, " Zahra menguraikan kata katanya.


"Papa bisa dijadikan saksi pembunuhan Narti, uwa Darman saat Narti terbunuh ia nggak ada disana," lanjut Zahra.


Ibu Ani hanya diam mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Zahra secara rincinya.


"tApi dalam penyelidikan polisi, yang membuat polisi menyenangkan kepala kematian Narti bisa dihubungkan dengan kematian pak Rohman, pak Karya dan ayah. Kerena mereka juga mengalami kematian yang mirip dengan Narti. " jelas Zahra.


"Jadi benar kakau Kak Rani membunuh Narti? " tanya ibu Ani terbelalak.


"Entah lah kita nggak perlu mwniduh tanpa bukti, Rara dan uwa iyan sebenatnya curiga pada iwa Rani yang melakukannya, "

__ADS_1


"Tapi kenpa kita nggak lapor polisi saja, seharusnya kan langsung lapor polisi nantinya ditangkap. "


"Nggak semudah itu, ma. Rara kesini hanya menyelidiki dan ingin mengorwk keterangan saja pada uwa Rani. "


"Itu sebenarnya membahayakan kamu sebenarnya, apalgi ia tahu kakau kamu anak hamdi."


"Tapi kenapa kamu memanggil wanita itu uwa? " Ibu Ani terkejut saat mendengar Zahra menyebutkan wanita itu dengan. panggilan uwa, sedangkan kemarin kemarin. ia. mndengar Zahra memanggil mama.


"Uwa Rani sebenatnya sudah tahu sejak lama kalau Rata bukan anak mama, Rara memanggil uwa juga kerena menurutnya Rara masih ponakan dari dirinya. " ujar Zahra..


Ani terdiam. Apa yang di katakan Rani memang benar bagaiaman pun juga Zahra adalah ponakan dari Rani, kerena bagaimana pun Rani adalah kakak dari Ani. Wanita itu hanya menarik nafas panjang lalu di hembuskan kembali keluar.


"Ma, mama nggak usah khawatir, sebenarnya uwa Rani juga sayang nama Rara hanya keadaan kah yang membuat ia kasar pada Rara. Rara nyakin kalau uwa Rani baik kok! " kata Zahra serius.


"Kamu begitu percaya pada wanita itu! " dengus ibu Ani kesal.


"Rata hanya mencoba untuk percaya ma, bukan nya percaya. "


"Rara habya ingin menyelidiki kebenarannya, masalahnya tempat ini adalah tempat dimana ayah meninggal hanya beda remot sih! " kata Zahra memberitahukan semuanya.


"Mama tahu kan, kalau nggak salah Rara pernah cerita kalau pak Karya sebagai saksi kematian pak Rohman?" tanya Zahra mengingatkan mamanya.


Ya Zahra setelah identitasnya diketahui. oleh orang lain, akhirnya menceritakan pada ibu Ani tentang kematian pak rohman oleh uwa darman, taoinsetekahbdua hari cerita malah ibu Ani menjebloskan daramn ke penjara.


Hanya beberapa minggu Darman meringkuk di penjara malah ada yang mengeluarkan Darman dari penjara, banyak pertanyaan yang mengatakan kalau ibu Ani melakukan nya mengeluarkannya, tapi ibu Ani sendiri tidak tahu menahu.


"Apa uwa iyan kamu mencurigai Rani? "


Zahra mengangguk pelan. Melihat anggukan Zahra ibu Ani hanya teepekurbsaja ia tidak menyangka.


"Tapi kenapa harus uwa draman yang tertuduh? " tanya ibu Ani menatap wajha Zahra.


"Terus apa ia tega membunuh Hamdi, sedangkan hamdi tamannya juga? "


Ibu Ani melanjutkan pertanyaannya.


"Makanya dengan itu uwa iyan sebenarnya menyelidiki semuanya, ya biarpun melibatkan Rara. Bagaiaman pun Rara anak dari ayah dan juga anak dari mama, jadi Rara di berasa dalam. lingkaran Uwa Rani."


Akhirnya Zahra memberikan alasan pada mama nya kenoa sampai uwa iyan malah melibatkan Zahra pada permainan yang dilakukan oleh uwa iyan.


Uwa iyan hanya ingin melihat seberapa jauhnya Rani mengingat kebaikan yang diberikan Hamdi dan Ayu padanya, jadi dengan ia mibatkan Zahra atau Anin bakalan menjadi cerita yang lain buat Rani melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Hamdi pernah menyanyanhi Rani, sebelum ayahmu menikah dengan ibumu. " Cerita uwa Iyan terhiang hiang di telinganya.


"Kalau misal Rani membunuh Hamdi ia lakukan kenapa? Sedangkan status Rani dan Darman bukan siapa siapa lagi? Apa ini dendam Rani pada orang tua Hamdi? Atau ada motif lainnya? "


Uwa iyan menjelaskan semuanya pada Zahra, sebelum mama dan ibunya kw desa itu. Akhirnya Zahra memahami semua yang uwa iyan rencanakan.


"Jadi Rani yang membunuh ayah kamu? " tanya Ibu Ani heran dan shock!


"Entah, semuanya masih simpang siur, ini kerena mama yang begitu cepat menjebllskan uwa Darman. " ujar Zahra yang menyesali tindakan mamanya waktu dulu.


Sebenarnya Zahra telah mengumpulkan bukti kejahatan Darman yang merampas haknwarisan dari Hamdi, tapi ia belum. sepenuhnya mwngusut kematian Hamdi dan yang lainnya. Tapi ibu Anin dengan lancangnya malah melaporkan Darman sebagai pwmbunuh Hamdi!


Memang ia masih melihat dengan jelas orang yang membawa ayahnya kwn sebuah kebun, tapi ia hanya melihat uwa Daramnndan tannya saja. Jadi itu lah yang ia ingin selidiki.


"Ra, lebih baik libatkan polisi itu lebih baik, kamu juga lebih aman, "


"Nggak ma. Mungkin Rara hanya ingin menjalankan apa yang di perintahkan oleh uwa Iyan." tolak Zahra lembut.


"Namun lebih percaya sama uwa Iyan kamu! " dengus ibu Ani tidak suka.


"Ma, bukan Rara nggak percaya sama polisi, tapi Zahra hanya ingin melacak kebenatan saja. Kita nggak tahu kan siapa uwa Rani apa yeelibat atau nggaknya." kata Zahra.


"Terserah kamu saja lah, " ketus ibu Ani cemberut.


Zahra hanya tersenyum saja.


"Jadi ini tempat kak Rani bersama tan tannya? Indah juga sih! " komentar ibu Ani mengangumi perbukitan kecil milik pedesaan yangbsujuk dan nyaman.


"Katanya kamu punya tempat selain ini?" tanya ibu Ani menatap pitrinya.


"Mama mau kesana? " tanya Zahra.


Wanita itu mengangguk, melihat anggukan mamanya Zahra akhirnya mengajak ibu Ani menuju tempat dimana peristiwa ayahnya di bunuh. Zahra sebenarnya sengaja mengajak mamanya kesana hanya ingin. mwngingtkan dirinya pada sosok ayahnya.


"Disini lebih indah lagi! " cwkwtuk ibu Ani tersenyum.


Apalagi saat ia melihat pemandangan yang indah apalagi disiang hari, biarpun matahari sudah tinggi taoinudata sekitarnya masih terasa sejuk sekali.


"Ma, sebenarnya kebun ini yang Rara ceritakan itu, ini milik. kami taoi uwa Darman merampas dari kami. "


"Sampai sekarang kebun ini dimiliki uwa Darman." lirih Zahra melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Ibu dan Ana hanya menempati tanah yang sekarang saja, "


"Sabar ya sayang." Ibu Ani langsung memeluk tubuh Zahra dalam. pelukannya. Ia tidak menyangka sama sekali kalau Zahra memiliki kehidupan yang sama sekali tidak pernah di dalam pikiran orang lain.*


__ADS_2