TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 159


__ADS_3

Brak! 


Vito mengebrak meja yang ada di hadapannya. Pemuda itu marah sekali saat telinganya mendengar apa yang Zahra katakan padanya. 


Ya Zahra meminta ia untuk membantunya supaya mamanya bertangungjawab atas perbuatan nya, Vito yang tadi duduk kini berdiri sambil mengebrak meja. Tatapan matanya membara menatap wajah Zahra. 


Zahra kaget dan terlihat ciut saat matanya beradu dengan tatapan mata Vito yang terlihat berkilat menahan marah. 


"Aku.nggak mau! Namun jangan berani memasukan mama aku ke penjara apapaun juga! Kamu jangan berani berani berbohong padaku tentang papa." 


"Mama nggak mungkin melakukan itu pada papa! " Teriak Vito. 


Sebenarnya Zahra ingin menerangkan kembali masalah kesalahpahaman itu pada Vito tapi pemuda itu malah pergi begitu saja dari hadapannya. 


Zahra yang tadinya akan mengejar Vito malah dihalangi oleh Rey. Rey dengan cepat langsung memwgang tangan Rey. Zahra menatap wajah Rey dengan tajam, pria itu hanya mengelengkan kepalanya dengan tegas. Zahra. Hanya. Mendengus melihat gelangan kepala dari Rey. 


Vito dengan gusarnya ia langsung pergi begitu saja dengan hati yang tidak karuan sama sekali. Kata kata Zahra membuat hatinya terluka tanpa darah dama sekali. 


Ia menghembuskan nafas kasar. Masih ingat kata kata dan pembicaraan dirinya dengan Rani dengan mamanya sebelum wanita itu menghilang sampai sekarang tidak diketahui. 


"Kamu kenapa? " Tanya Rani saat melihat Vito datang sambil marah marah tidak karuan


"Ma siapa papa Vito! Vito diejek kalau Vito anak haram nggak punya papa? " Tangis Vito perih. 


Rani langsung terdiam seketika juga saat mendengarkan apa yang Vito omongan, ia tidak menduga anaknya bakal bicara itu. Kata kata Vito memang wajar kalau diutarakan olwh anaknya kerena anak orang lain punya orang tua lengkap sedangkan Vito. 


"Vit, papa kamu kerja di sebuah desa, kapan kapan pulang! " Dusta Rani. 


"Kaoannya? Mama bilang kapan? Tapi kenyataananya sama sekali nggak ada. Mama dari dulu bilang kapan pulang taoi samapia Vito kuliah papa nggak pernah pulang pulang! " Teeiak Vito marah. 


Ia sudah beberapa kali mendengar mama nya bilang begitu tapi kenyataannya sama sekkai tjdak. 


"Mama janji tahun depan papa kamu pulang, mama janji sayang! " Uang Rani sambil memeluk tubuh Vito. 


"Ah! Mama nggak leenah bisa dipercaya. " Protes Vito berontak. 


"Ma, mama nggak merasakan apa yang Vito rasakan. Sejak kecil Vito belum. Pernah ketemu papa, samapai kapan! " Sembir Vito sengit. 


"Iya nanti kita kesana ya sayang, mama akan menyusul papa kamu. " 


"Mama nggak bohongan? " Tanya Vito menatap tajam mamanya. 


"Nggak kita sama sama ke sana sayang, mama juga kangen ahah kamu. " 


"Tapi ma, apa mama tahu kenapa gambar papa bersama gadis kecil itu siapa? " Tanya Vito lagi. 

__ADS_1


"Nanti kalau kamu ketemu papa kamu tanya saja siapa hadia kecil yang bersama papa kamu. " 


Vito begitu percaya dengan apa yang dikatakan papanya, sampai ia tidak menyadari apa yang dikatakan mamanya hanya untuk mengelabuk dirinya saja. 


Pemuda itu thdak pernah mencati tahu apa yang pernah terjadi pada dirinya dan mmanya. Vito sebenarnya orang tidak lwenah ambil pusing, ia tidak akan pernah menuntut apapun dari mamanya. Kalau thdak ada jrang yang bicara tentang papanya tidak mungkin ia bakal tanya papanya. 


Tapi kenyatan nya sekarang bukan lagi. Apa yang dikatakan mamanya tidak terbukti sama sekali, ia beberapa kalai dilukai oleh kedusataan mamanya tapi ia masih percaya pada mamanya. 


"Ayah sudah meninggal, mama kamu hanya membohongi kamu! " Teriam Zahra waktu itu. 


"Nggak aku nggak percaya! " 


Vito mwngamuk. 


Zahra hanya diam melihat Vito fristasi mendengar kenyataan yang didengar dari Zahra, bukan hanya papa yang meninggal ia jiga mwndengar kalau ia bukan anak nasab itu menyakitkan. 


"Kamu nggak percaya? " Itu kenyataan yang ada! " 


"Aku anak nasab papa! " 


"Kalau memang kamu anak nasab ayah kenpa mama kamu menyembunyikan identitas ayah pada kamu! Seharusnya mama kamu jujur pada kamu! " Desak Zahra. 


Ia benar benar hancur berkeping-keping mendengar kemyataan dirinya kalau. Ia hanya anak biologis papa, anak yang lahir tanpa ikatan pernikahan ini lebih menyakitkan daripada mendengar berita papa meninggal dunia. 


Tapi belum sampai ke rumah mamanya di jalan xXx ia tiba tiba mengerem mobilnya dengan cepat kalau tidak mungkin ia pasti menabrak seseorang. 


"Bangsat! " Teriak Vito marah. 


Ia memukul pengemudi dan langsung turun dari mobil, pintu mobil dibanting sangat keras sekali. 


"Goblok! Mata kamu di taroh dimana? Samaoai mobil yang melaju nggak kelihatan!" Bentak Vito sambil menuding laki laki yang ada di hadapan nya. 


Bukan sadar atas kesalahan yang ia lakukan, pria setengah baya itu menatap tajam ke arah Vito dan dengan sinisnya ia berucap. 


"He! Anak muda seharusnya kamu yang bawa jangan ngebut samoai mau menabrak apa kamu nggak bisa lihat aku yang tua ini berjalan. " 


"Eh! Malah menyalahkan orang lain. Kamu yang salah, seharusnya kalau mau lewat harus lihat lihat dulu bukan lanhsung jalan! " Teriak Vito kesal. 


Ia sudah kesal dengan apa yang didengar dari Zahra yang berbeda dengan mamanya sekarang ketemu laki laki yang tidak dikenalnya. 


Vito langsung membuka pintu hendak masuk ke mobil lagi, entah kenapa laki laki yang didepannya tadi malah menarik tangan Vito dengan cepatnya. Vito yang tadi akan masuk kedalam mobil akhirnya mengurungkan diri masuk, ditatap wajah laki laki yang ada di hadapannya dengan tajam. 


"Apa sih pegang pegang! Nggak sopan! " Terima Vito sambil menarik tanganya dari tangan laki laki itu. 


"Kamu kenapa?" Tanya lembut. 

__ADS_1


"Kamunya tanya aku kenapa? " Tanya Vito heran. 


"Kamu.punya masalah? " 


"Banyak! " 


"Kenalkan saya Darman! " Kata laki laki itu menguljrkan tangnya dihadapan Vito. 


Vito langsung menatap pria yang ada dihadpannya, nama pria itu tidak asing lagi di telinganya. Nama yang sering disebut oleh mamanya dan juga Zahra. 


"Darman? " Tanya Vito heran. 


"Iya saya Darman. Kamu sudah kenal sama saya? " Tanya pria itu heran. 


"Nggak kok! Kita belum kenal sama sekali" Vito menggelengkan kepala saja. 


Darman akhirnya mengajak Vito ke gubugnya. Pemuda itu mengikuti Darman pria yang baru saja di kenalnya. 


"Nak, kamu siapa? " Tanya Darman saat mereka sudah duduk. 


Pemuda itu tidak langsung menjawab pertanyaan pria setengah baya yang ada dihadapan, ia masih bimbang apa yang harus dilakukan pada pria yang baru dikenalamya biarpun nama pria itu ia kenla sejak sebelum bertemu dengan nya. 


"Vito! " Ujarnya lirih. 


Tapi masih terdengar oleh pria yang mengaku bernama Darman itu. 


"Kamu kenapa bawa mobil seperti kesetanan? " Lembut Darman. 


Entah saat melihat vito, Darma seperti mengingat seseorang dalam hatinya. Waktu melihat pertama kali, hati Darman berdesir sangat kuat sekali. 


Darman berusaha menghalangi Vito untuk tidak masuk ke mobil hanya ingin bicara sesuatu pada pemuda yang tadi memarahinya. 


"Jangan ikut camour urusan orang!" Ketua Vito. 


"Kamu seperti punya masalah yang menganggu hatimu, boleh aku tahu masalah kamu! " Katanya sambil menatap wajah Vito tajam. 


"Kamu bawa aku kesini hanya tanya itu saja! Buang buang waktuku saja! " Sembir Vito. 


"Nggak aku manggil kamu kesini kamu hanya mengingatkan aku pada seseorang yang telah lama nggak lwenah bersua. " 


"Siapa? " Tanya Vito penasaran


Pria yang ada di hadapannya hanya menghela nafas panjang mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh pemuda muda itu. Sedangkan Vito langsung menatap wajah pria yang ada dihadpannya. 


Vito ingin rasanya menanyakan sesuatu pada pria yang ada dihadapannya, tapi ia ragu untuk menanyakan pada pria itu. Apalagi ia dan pria itu masih situasi kenalan, masa harus menanyakan hal hal pribadi? *

__ADS_1


__ADS_2