
Rani akhirnya pulang dengan perasaan yang tidak menentu sama sekali, ini yang tidak diharapkan oleh wanita itu! Ia sama sekali ingin bicara pada Ayu tapi nyatanya pak Bram sama sekali tidak pernah mengizinkan dirinya itu yang membuat ia sangat kecewa.
Ya semuanya berawal dari Ana yang selalu mwnyambar kakaku bicara ditambah lagi pak bram memang dari sejak awal tidak suka kehadiran dirinya otomatis saat ia berteriak pada Ana, dan teriakan di dengar oleh pak Bram otomatis pria itu marah dan malah mengusir dirinya tanpa ampun lagi.
Rani yang diusir oleh pak Bram merasa kalau pria itu benar benar membenci dirinya jadi saat ia melakukan kesalahan ia lah yang jadi korban. Dengan perasaan yang tidak karuan akhirnya Rani pulang, pikirannya sudah ke Darman, ia ingin kalau Darman membantunya ya biarpun itu tipis sekali.
Di perjalanan menuju rumah Darman pikiran Rani benar benar tidak fokus ke jalan, pikirannya kemana mana.
"Aku harus cari perhitungan dengan kamu Bram aku nggak bakalan berdiam diri sekarang, aku harus hancurkan kehidupan kamu! " bisik Rani dengan geramnya.
Di perjalanan juga ia mengerutu seorang diri, seolah olah dihadapannya ada orang yang mendengarkannya.
"Seharusnya Bram dengarkan apa yang aku katakan? "
"Apa salahnya kalau aku khawatir sama Vito?"
"Mereka sih nggak akan pernah mikirin Vito, kerena Vito bukan anak mereka."
"Kalau saja kamu nggak ada mungkin aku juga nggak akan seperti ini! "
"Awas kamu Bram, apa yang aku rasakan sekarang akan kamu rasakan besok! "
Rani berbicara di dalam mobil sambil menyetir mobil, suaranya biasa saja seperti ada orang di pingirnya yang mendengarkan apa yang ia katakan. Kerena tidak ada orang di sampingnya maka tidak ada yang menyaut apa yang di bicarakan oleh Rani.
" Mereka nggak pernah peduli!"
"Semuanya gara gara Ana, bocah bau kencur!"
Wanita itu merasa kalau keluarga Bram menyampingkan dirinya, ia pulang ke rumah juga tidak membawa hasil sama sekali dari rumah Ani, sebenarnya ia hanya ingin kalau Vito mau tinggal dimana selama ia di penjara. Itu yang dipikirkan, jadi selama itu juga ia tidak bakal menyerahkan diri pada polisi kerena alasan ya Vito.
Ya sebenarnya ia datang ke rumah Bram hanya ingin Ayu membantu dirinya keluar dari masalah yang ia hadapi sekarang. Tapi mereka tidak mendengarkan dirinya malah mereka lah yang banyak bicara pada dirinya bukan memberikan kesempatan pada darinya.
__ADS_1
"Itu hanya alasan dia saja sih! Jangan pedulikan Rani! " suara lantang Bram masih terdengar dengan jelas di telinga Rani.
Mendengar apa yang dikatakan pria itu membuat hatinya Rani terluka sangat. Ia juga belum bicara panjang lebar tapi Bram malah mengatakan itu di hadapannya, bukan hanya diri saja disana juga banyak orang.
Pria itu sangat geram saat mendengar alasan yang dikemukakan oleh Rani, pria itu benar benar tidak peduli dengan alasan itu! Melihat pria itu marah Zahra hanya tertunduk saja begitu juga orang orang yang ada disana.
"Papa nggak mau kamu Zahra menerima wanita itu lagi di rumah ini! " pak Bram benar benar geram sekali.
Deg!
Rani hanya terdiam seketika juga mendengar apa yang dikatakan oleh pak Bram dengan tehasnya membuat hati diri ciut tidak seperti dulu lagi saat berhadapan dengan pria itu!
"Kalian benar benar ya sekarang! Kamu yang mengajak aku perang tunggu lah!" ketus Rani emosi.
Rani yang mendengar kata kata itu langsung beranjak dari duduknya tanpa menunggu waktu lagi Rani meninggalkan tempat itu, diantar oleh tatapan mata semua orang.
Pak Bram hanya melihat Rani yang pergi begitu saja, ia tidak memperdulikan kepergian Rani, sedangkan Ani sangat istri hanya menatap suaminya dengan hati kesal tapi tidak bisa melakukan apapun.
"Rara juga nggak tahu kalau uwa Rani bakal datang ke rumah ini, kata ibu kemarin ia menelpon, " kata Zahra melirik wajah ibu Ayu.
Ibu Ayu yang di liriknya langsung menganggukkan kepala.
Pak Bram hanya menghela nafas panjang melihat anggukan dari ibu Ayu, tanpa bicara lagi pria itu meninggalkan mereka. Melihat papanya pergi begitu saja Zahra hanya mengelus pungung ibunya dengan lembut.
"Sudah jangan diambil hati, mungkin memang kak Rani sebenarnya butuh bicara sama ibu Ana tapi keadaan yang belum mendukung. " ujar ibu Ani mendekati ibu Ayu.
"Kalau mau ketemu nanti saya bantu kalian bertemu. "
Lanjut wanita itu sambil tersenyum. Ibu Ani juga punya hati dan perasaan ia sejujurnya ingin juga bertemu dengan Rani, tapi perasaan itu ditahannya.
Pak Bram masuk ke ruang kerjanya ia dengan kesal langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi sambil tatapan matanya lurus.
__ADS_1
"Aku harus melakukan sesuatu sekarang! Aku nggak bisa menunggu lagi, aku harus melakukan demi Zahra dan istriku, " geram pak Bram sambil meninju meja.
Sedangkan Rani langsung menuju rumah Darman tapi tangapan Darman biasa saja malah terkesan cuek sekali pada dirinya.
"Aku hanya ingin kamu mengikuti apa yang aku perintahkan, kalau kamu seperti ini aku nggak bisa menolong kamu lagi! " kata Daraman tajam.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Darman sebenarnya itu muncul di hatinya. Ia masih ingat apa yang dikatakan oleh Anin di hadapannya.
"Anin nggak bisa melakukan apapun kalau sampai uwa melakukan sesuatu pada uwa Rani."
"Kang! Kenapa akang seperti ini sekarang? Aku nggak mau?" teriak Rani histeris.
"Aku bakal mempertahankannya, aku nggak mau! " lanjut Rani sambil memandang wajah Darman beringas.
Wanita itu tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Darman! Dengan perasaan kesal. Tanpa menunggu lama lagi wanita itu langsung pergi meninggalkan darman.
"Ran, besok aku mulai ditahan! Jadi jangan cari aku lagi kalau ada apa apa? Aku sudah berusaha membantu kamu tapi kamu seperti ini jadi aku nggak mungkin batu kamu lagi. " kata Darman.
Rani yang belum begitu jauh meninggalkan Darman langsung berhenti melangkah dan menatap wajah pria yang ada di hadapannya. Hatinya berkecamuk antara sedih, kecewa, dan frustasi mendengar apa yang Darman katakan pada dirinya.
"Aku.juga nggak akan ada untukmu lagi Ran, jangan harap kan aku jadi pelindung dirimu lagi setelah ini."
Rani tidak menjawab apa yang dikatakan Darman ia langsung pergi begitu saja dan tidak pernah datang kembali ke Darman.
"Ran, maafkan aku ya! Aku lakukan ini aku sayang kamu, kalau aku tidak melakukan ini kamu bakal terjerumus, " bisik Darman lembut.
Ia hanya bisa menghela nafas panjang.
Rani dengan perasaan yang semakin amburadul langsung melakukan avanza nya kearah rumahnya.
Brak!
__ADS_1
Dengan emosi tingkat dewa Rani melabrak pintu yang tertutup, Vito yang ada di ruang TV terkejut mendengar suara keras diarah pintu. Pemuda itu langsung menuju depan rumah dan melihat mamanya sedang duduk di kursi ruang tamu dengan wajah yang merah menahan amarah.
Vito hanya bisa menelan ludah tanpa bisa berkata kata, ia hanya bisa garuk kepala tidak gatal. *