
"Mama aku, kak. " ujar Vito berkata lirih.
Zahra hanya diam mendengar apa yang dikatakan oleh Vito, sejujurnya apa yang dikatakan Vito sebenarnya ia juga memikirkan.
"Kamu sabar ya Vit, nanti juga mama kalau ditemukan kok! "
Zahra menghibur hati Vito. Bukan ia yang menghibur hati Vito, sejujurnya ia juga menghibur hatinya sendiri atas Rani yang menghilang ditelan bumi.
"Tapi kalau mama kenapa kenapa bagaimana? " tanya Vito khawatir.
Zahra tersenyum manis. Gadis itu mengenggam tangan Vito dengan. lembut sekali, pemuda itu hanya diam saat tangan kakaknya mengenggam tangannya.
"Kamu jangan berpikir yang bukan bukan yang penting kamu berdoa pada Tuhan supaya mama kamu nggak kenapa kenapa. "
Apa yang dikhawatirkan oleh Vito, Rani juga merasakan itu pada perasaannya.
"Mama kamu licik! Mau enak sendiri saja nggak pernah mikirin orang lain! "
Tiba tiba Ana datang dan berkata seperti itu dihadapan Vito dan Zahra, entah kata kata itu keluar begitu saja dari gadis itu atau hanya ungkapan kekesalan saja kerena ia tahu kalau Rani salah satu dari orang yang meloloskan diri dari hukum.
"Ana!"
Zahra menatap kedatangan gadis itu. Mata Ana menatap wajah Vito, Zahra yang melihat itu langsung menarik tangan Ana au tuk menjauhi tempat itu tapi gadis itu menepiskan tangan zahra kasar.
"Kenapa kak? Apa aku salah aku menyebut wanita itu licik nggak punya hati! "
Teriak Ana kasar. Saat ia merasakan kalau Zahra menarik dirinya untuk masuk kedalam rumah tapi Ana menolaknya, ia hanya ingin bicara dengn Vito. Pemuda itu hanya menghela nafas dan melas untuk ribut dengan Ana jadi ia tidak membalas perkataan Ana.
"Na! jaga bicara kamu! " Teriak Zahra.
Zahra langsung menatap wajah Ana dengan tajamnya. Ia membalikan wajaha Ana untuk menatap wajahnya, tapi Ana hanya mendengus saat tatapan matanya beradu dengan nya.
"Kakak bela dia, apa?"
Tanya Ana bicara pada Zahra.
"Apa yang dikatakan Ana sebenarnya sama Ana benar kok kak, mama aku lah yang jadi menyebabkan semuanya. Mungkin pak Darman juga kalau mama nggak pernah menghasut mungkin nggak akan pernah melakukannya."
__ADS_1
Vito akhirnya nya angkat bicara. Mendengar itu Zahra hanya diam saja, apa yang dikatakan Vito sebenarnya benar kalau saja Rani tidak pernah datang ke kehidupan Darman setelah pria itu menikah tidak akan mungkin masalah datang seperti ini. Tapi Zahra masih bisa menerima dengan lapang dada, semua masalah datang kerena sudah takdir dan itu thdka akan dirubah sama sekali.
"Cukup!" Teriak Zahra tegas.
"Na, kamu kesini buat apa? " tanya zahra tajam.
Sebenarnya Zahra tidak suka kalau Ana bicara banyak apalagi tentang keluarga Vito. Ia masih ingat ketika Rani datang kesini bicara masalah Vito yang akan tinggal dimana saat dirinya di penjara nanti. bukannya memeberikan solusi pada semuanya Ana malah ikut campur.
Ditambah lagi pak bram seperti memihak pada Ana dan membenarkan apa yang Ana katakan, bukannya ia membela Rani bukan tapi cara Ana yang tidak pernah menghargai Rani yang ingin bicara. Itu meme buat Rani pergi begitu saja tanpa pamit pada Vito anakanya, bukan hanya Vito yang kehilangan Rani ia juga lebih kehilangan Rani.
Tapi ia tidak terus terang pada pak Bram dan ibu Ani, Zahra lebih memendam perasaan nya dibandingkan menceritakan apa yang dirasakan hatinya. Kerena apa yang akan diceritakan pada mereka pasti mereka bakal menyebut dirinya membela Rani.
"Na, kakak heran sama kamu kalau ada orang bicara dengan kakak, mau itu tante Rani, uwa Darman kenapa kamu ikut campur?"
"Tapi saat kakak nggak bicara sama tente, uwa maupun sama Vito kamu nggak pernah mendatangi mereka bertiga kenapa begitu Na."
"Kalau misal kamu mau silahkan ungkapkan apa yang ada di hati kamu tentang Vito, uwa dan tante, kamu bicara bicara sama ibu dan tante Ani maupun om Bram."
"Kamu masih ingat waktu tante Rani ingin bicara sama kakak dan ibu? Kamu yang lebih banyak bicara dibandingkan ibu dan kakak, ditambah lagi om Bram selalu bela kamu,"
"Dan sekarang Vito sedang bicara sama kakak, tapi kamu tiba tiba datang dan malah menjelakkan mamanya, mau kamu itu apa sih! Sebenarnya? "
Ana yang mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Zahra hanya twrdiam saja seketika juga. Ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan Zahra, begitu juga dengan Vito pemuda itu dari tadi hanya diam sambil duduk di tempat yang semula.
"Kenapa kamu diam? " tanya Zahra lembut.
Ana tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Zahra, gadis itu langsung pergi begitu saja tanpa berkata apa apa lagi. Zahra yang melihat adik nya pergi hanya bisa menghela nafas panjang dan langsung menghampiri Vito.
"Maafkan Ana ya Vit. "
Pemuda itu mengangguk.
"Kak kira kira mama pergi kemana ya? sampai polisi nggak bisa menemukan mama? " tanya pemuda itu.
"Kakak juga nggak bisa menebak mama kamu pergi kemana, tapi kakak nyakin mama kamu berada ditempat yang aman. "
"Kak, kak Ana bencinya sama mama? " tanya Vito hati hati.
__ADS_1
"Kak Ana cuma kesal sama sama mama kamu. "
"Benar kak apa yang dibilang kak Ana, kalau mama biang keladi dalam masalah ini. Vito juga heran kenapa mama lakukan ini pada keluarga kakak. "
Pemuda itu terdiam, ia merenungi apa yang pernah dialami oleh mamanya. Zahra mengusap tangan Vito dengan lembutnya.
Saat Vito terdiam pikiran Zahra melayang sosok Rani yang menghilang tanpa jejak sama sekali. Tapi ia ingat percakapan ibu Ayu.
"Rani nggak menghilang hanya orang orang nggak tahu saja. "
"Maksud ibu? " tanya Zahra.
"Ibu yakin kalau Rani berada di desa itu! "
"Desa? " tanya Zahra heran.
"Iya, desa dimana ia tinggal. "
Zahra hanya bisa mengangguk saat ingat percakapan dengan ibu Ayu tentang Rani.
"Wanita itu nggak akan jauh dengan desa dimana ia tinggal ya mungkin lahirnya bukan dindesa itu tapi ia benar benar dibesarkan di desa itu! "
"Kalau misalkan kamu nggak percaya sama ibu datangi Rani di desa itu! ibu nyakin kalau wanita itu ada di perbukitan. "
Kata kata ibunya terhiang hiang di telinga Zahra tentang Rani. Ia ingin sekali membawa Vito kesana kemari tempat dimana papanya Vito dikuburkan.
Tapi gadis itu belum bicara pada Vito untuk mw ngejak ke desa itu. Ya dulu Vito ingin sekali ke desa itu sambil menengok kuburan papa nya disana tapi belum jadi saja.
"Kak, kenapa diam? " tanya Vito heran.
"Nggak apa apa kok! Kakak cuma mikirin kemana mama perginya ya. "
"Apa jangan jangan mama ke tempat itu? " tanya Vito.
"Ke tempat mana? "
"Kuburan papa. "
__ADS_1
Deg!
Hati Rani bergetar saat Vito mengatakan kalau Rani kemungkinan di kuburan papanya. Zahra hanya mengangguk saja mendengar apa yang dikatakan oleh Vito, bukan hanya Vito saja sih mengatakan itu tapi ibunya juga mengatakan itu pada dirinya.*