TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 156


__ADS_3

Sepulang dari pertemuan Vito masih belum. lwrcaya sepenuhnya dengan. apa yang ia dengar dari Zahra, ia sangat twepukul apa yang diceritakan oleh hadiah itu. Kalau masalah Zahra dan Ana adalah kakak dirinya itu tidak masalah, dan itu bisa dibicarakan lagi tapi ini masalah mama yang telah mama yang jadi pelantara meninggalnya papa.


Ia masih belum. lee caya apa yang Zahra katakan, kerena alam yang diceritakan oleh Zahra dan mamanya sangat jauh sekali, kalau. mama mengatakan papa bekerja dan. jika lwenah pulang alasan jauh. Sedangkan Zahra memang masuk akal sih! Papa tudak pulang kerena pala sudah meninggal.


Kalau. masih hidup mungkin jarak bukan halangan. untuk bertemu dengan mama dan dirinya, memang cerita Zahra lebih masuk akal dibandingkan cweita mama nya.


"Aku terpisah dengn ibu dan adikku kerena hal itu, Vit. Aku nggak mungkin meninggalkan desa X kalau misal ayah nggak meninggal dan aku saksi satu satunya. " terdengar suara Zahra. menjelaskan.


"Aku latindarindesa itu keren aaku. takut sekali pada uwa Darman! Takut dibunuh! " sambung Zahra kembali.


"Mungkin kakau ayah nggak dilibatkan dalam. pwmbunuhan pak Rohman aku juga ngak akan pergi jauh meninggalkan desa X. "


Vito mengangguk mengerti apa yang dibicarakan oleh Zahra. Memang kalau dipikir sih benar juga kalau Zahra kecil tidak akan meninggalkan desa itu kalau tidak terjadi sesuatu. Buat apa coba ia meninggalkan desa igu kalau tidak ada sebab yang lain, seperti dirinya yang harus punya ibu angkat.


"Vit, kenapa? " tegur Dio yang tiba tiba ke rumah Vito.


"Nggak apa apa kak. " elak vito.


"Mama kamu tadi telpon kalau. kamu sejak diakan ketemuan di restoran kamu banyak diam. dan banyak. melamun. " kata Dio menatap Vito.


"Akun telpon Zahra ya, biar Zahra tahu kamu itu kenapa? "


"Kenpa sih harus telpon dia? " tanya Vito nggak suka.


"Kalian ketemuan. kan? kalian sebenarnya bicara apa sih dengan Zahra? " tanya Dio heran.


"Kepoo banget sih! " ketua Vito males..


"Vit, Zahra pasti cweita banyak twntang mama dan lala kamu. kan? Jadiin kamu seperti ini nggak bisa menerima apa yang diceritakan oleh Zahra. " tebak Dio.


"Kak! Kalau kakak bicara ini lebih baik kamu pulang! " teriak Vito marah.


Pemuda itu langsung beranjak dari tempat duusknya. akan meninggal akan tempat itu, tapi dio langsung menghalangi Vito.


"Kak! "


"Vito! Kamuanjangan kasar sama kakak kamu! Kakak kamu hanya ingin tahu kamu itu kenpa! " bentak ibu angkatnya.


"Ma, apa mentang mentang Vito anak angkat mama, jadi. mama bela kak Dio! " ketua Vito meradang.

__ADS_1


Pemuda itu menatap wajah ibu angkatnya dengan perasaan yang tidak menentu sama sakali.


"Vit, mama bukan begitu sayang. Tapi mama kepikiran. kamu. saja sejak ketemu dengan Zahra dan Ana kamu murung seperti itu, mama telpon kakakmu. " kata ibu angkatnya menatap anak nya.


"Sama saja ma, mama hanya memikirkan kak Dio bikan memikirkan aku! " ujar Vito langsung meninggalkan keduanya.


Ibu angkat Vito mengejar Vito, tapi Dio lebih dulu. mengejar Vito. Wanita itu hanya mengelengkan kepala saja melihat perilaku dari Vito.


"Vit, maafkan kakak kalau. kaka salah, kakak hanya ingin tahu apa yang kalian bjactakan? " kata dial sambil mwmgejar adik sepupunya.


"Buat apa? " Kakak pasti lebih tahu. " ujar Vito cemberut.


"Kakak nggak tahu apa apa kok! kakak hanya tahu kamu bukan anak tante itu saja."


"Aku.sekarang pengen menyusul mama Rani pengen tahu kebenaran nya. " cerocos Vito.


Vito terlihat marah, dan. nafasnha yutjnnaik. menahan emosi yang tiba tiba datang di kalbunya.


"Kenpa aku harus seperti ini? Kenpa harus aku. kenpa bukan orang lain lain kak? " tanya Vito.


Dari kata-kata nya terdengar suara yang fristasi menghadapi semuanya.


"Kerena kamu kuat dan bisa menerima semua yang Tuhan berikan pada kamu, " ujar Dio.


"Vit, Tuhan nggak akan pernah memberikan cobaaan melebihi keimanan seseorang. Kalau. misal Tuhan memebeikan cobaan lada kamu, berarti kamu mampu untuk bertahan. " kata Dio. memberikan nasehat.


"Itu hanya kata katamu saja kerena Tuhan nggak pernah memberikan ujian pada manusia. "


"Vit, ujian Tuhan pada manusia berbeda beda nggak ada yang sama, contohnya cobaan yang Zahra alami berbeda dengan cobaan yang kau alami, " Dio memberikan pengertian pada Vito.


"Jadi apa yang Tuhan berikan pada kamu bersyukurlah. "


"Ngapain bersyukur pada Tuhan? Tuhan yang membuat aku yatim tanpa papa tahu. kalau di perut mama ada aku! " ketua Vito.


Pemuda itu masih belum percaya kalau papanya meninggal, sebenarnya ia sudah menunggu moment yang berharga sekali untuk berdua sama papanya. Tapi kenyataannya malah seperti ini.


"Sebenarnya aku berharap kalau papa masih hidup dan kami bisa bertemu. " lirih vito.


Dio menepuk baju Vito.

__ADS_1


"Kalian bakal beetemu di pintu surga, papa kamu. pasti. menjemput kamu kok! Kamu diapain papa kamu supaya tenang disana. " ujar Dio.


Dio. memeluk Vito dengan eratmya. Vito hanya diam saja hatinya benar benar gamang, masih belum percaya berita itu.


Ditempat yang berbeda, terlihat Ana dan Zahra sedang berdua. Ana. kekekh ingin supaya ibu tahu sedangkan Zahra menolaknya.


"Kakak nggak mau ada keributan, kalau sampai ibu tahu ini. Masalahnya ibu sampai sekarang juga nggak tahu kalau Rani punya anak dari ayah. pasti ibu terkejut dek! "


"Wanita itu benar benar ular! "


"Pelakor dimana mana. "


"Seharusnya dia yang lagi bukan ayah! "


Ana benar benar geram. melihat tingkah laku Rani yang seperti nya baik tapi nyataaannyataaan? Zahra menyentuh tangan Ana, ia merasakan apa yang Ana rasakan. Sebenarnya ia juga geram sekali, taok ia berusaha untuk bersikap tenang.


"Ibu hanya ingin kau tetap tenang menghadapi apapun juga, jangan mengunakan emosi. " ibunya yang bjcara itu.


Zahra masih mengingat kata kata ibunya, ketika ia dan ibunya bicara berdua di desa ituu ketika masih menyelidiki tentang Rani.


"Iya bu, Anin bakal mengingat apa yang ibu katakan kok! "


"Pinter, "


"Ibu sebenarnya lebih keecaya sama kamu dibandingkan Ana, ya biarpun ibu dan kamu. baru beberapa minggu kenla tapi kamua. seperti ahahmu yang begitu tenaga menghadapi masalah. "


"Anin akan usahakan bu, tenang aja apa yang ibu katakan anin bakal ingat. "


"Dek, Tuhan telah menentukan jalannya kita seperti ini. Kehilangan ayah, sudah diatur bukan. kehendak kita. "


"Benar sih! Tapi kan seharusnya uwa Darman dan wanita itu tahu siapa yang berhak dan siapa yang nggak berhak. " ketua Ana.


"Kalau misal ayah masih hidup mungkin ceritanya ngak kaya gini de? Ini sudah jalan yang harus ditempuh kita. "


"Kak, memangnya kakak nggak risi ha dekat sama wanita ular itu! " sembur Ana.


Zahra menyentuh bahu Ana lembut.


"Kakak merasakan kok, perih banget harus berbagi ayah dama orang lain apalagi dalam keadaan ayah nggak menyadarinya. Tapi kita harus kuat dek. Tuhan sedang memilih kita untuk Dia angkat derajatmya. "

__ADS_1


Ana menghela nafas panjang.


"Kita hadapi bersama ya, jangan sendiri sendiri. Kakak mohon kamu jangan sampai tahu ini, ribet ka aku diceritakan. " ujar Zahra.


__ADS_2