
"Pa, Zahra bagaimana? Kok anak itu nggak pulang pulang?" Tanya ibu Ani menatap wajah suaminya.
Wanita itu terlihat resah dan rusuh sekali. Ia modar mandir, duduk, berdiri, melihat ke jendela, duduk lagi. Melihat itu pak Bram yang membaca koran langsung menghentikan membacanya, ia menyimpan koran di meja kecil di depannya.
Wanita itu duduk kembali.
"Ma, tenang. Zahra bakal balik lagi kok, jangan khawatir dia bukan anak kecil lagi," kata pak Bram sambil memegang bahu istrinya.
"Tapi, pa. Rara sudah lama pergi deh!" Panik ibu Ani.
"Sebentar lagi pulang, tadi telpon sama papa, suruh bilang sama mama kalau Rara pulang agak lama," kata pak Bram menjelaskan.
Ia mengatakan begitu kerena tidak ingin membuat istrinya khawatir, tapi mendengar alasan pak Bram sang istri masih terlihat rusuh sekali, wajahnya tidak tenang, hatinya berdekup sangat panjang.
"Kamu tenang saja, Rara nggak lama kok, mungkin macet jalan ya." Ujar pak Bram.
Wanita itu menghela nafas panjang.
Pak Bram mengelus bahu istrinya dengan lembut sekali, ia tidak mungkin memaksa Zahra untuk tetap disini, kerena bagaimanapun Zahra harus ada di samping nya Ana.
"Pa, Ana seperti nya curiga." Kata Zahra waktu itu.
Ya pak Bram masih ingat percakapan nya dengan anaknya, tanpa kehadiran istrinya.
"Maksudmu?" Tanyanya menatap Zahra heran.
"Sejak kecelakaan yang menimpah Ana, Ana selalu ingin dekat Rara, pa. Itu yang membuat Rara bigung apalagi mama seperti nggak mau kalau Rara mendekati Ana." Keluh Zahra di hadapan papanya.
"Kamu lebih baik perhatikan Ana dan ibu Ayu dulu, setelah itu mama kamu, bagaimanapun mereka butuh kamu sekarang,"
Laki laki itu mengatakan itu kerena ia tahu pasti ibu Ayu dan Ana pasti membutuhkan tenaga dari Zahra, jadi ia memberikan keleluasaan Zahra untuk dekat dengan keluarganya.
"Terimakasih pa atas pengertian papa pada Rara."
"Sama sama Ra, kamu jangan pikirkan mama kamu dulu ya. Terpenting Ana sembuh dan bisa pulang ke rumah lagi,"
Zahra hanya mengangguk hari mendengar kata kata papanya, gadis itu langsung memeluk tubuh papanya dengan ketulusan hatinya.
Pak Bram juga membalas pelukan putrinya, ya gadis yang dipeluknya adalah putri yang menemani hari hatinya.
"Terimakasih sayang! Kamu telah menemani mama selama ini, kamu putri papa dan mama yang baik dan tegar."
Kata pak Bram sambil melepaskan pelukan dan mencium pucuk kepala Zahra. Laki laki itu benar benar terharu sekali kerena bagaimanapun Zahra lah yang selalu jadi semangat ia berkerja di kantor.
"Pa, jangan dia!" Rengek istrinya..
__ADS_1
"Telpon Rara suruh pulang!" Lanjutnya.
"Ma, lebih baik kita ke taman yuk!" Akan pak Bram mengalihkan pembicaraan.
"Asal sama Zahra ke tamannya pasti seru deh!" Ujar ibu Ani.
"Kita berdua saja. Mmh! Mengingat waktu kita belum punya anak bagaimana? Papa ingin sekali mengingat waktu kita pacaran, menikah sama mama," ujar pak Bram mengingatkan wanita itu pada masa pacaran mereka.
"Seru juga sih!"
"Makanya papa ingin sekali mengajak mama ke taman, kita ceritakan semua disana biar semuanya tahu kalau kita bahagia." Desak pak Bram.
"Dan juga kita bakal mengingat bahagia banget kita punya anak yang cantik, pintar kaya Zahra," lanjut pak Bram berharap.
Wanita itu tersenyum dengan manis sekali, akhirnya ia mengangguk mau diajak ke taman yang tidak jauh dari rumahnya.
Pak Bram sengaja untuk mengalihkan pembicaraan tentang Zahra. Dan ia hanya ingin membiarkan Zahra untuk lebih banyak dengan ibu Ayu.
"Pa, jangan bilang ya sama mama. Mungkin malam ini Rara ingin menemani Ana di rumah sakit, Ana ngedrop pa." Kata Zahra memberi tahukan keadaan Ana.
"Iya nggak apa apa, kamu temani Ana ya."
"Tapi mama bagaimana pah?" Tanya Zahra menanyakan keadaan wanita yang telah mengurusnya.
"Iya pa, terimakasih atas pengertian papa pada Rara."
"Iya putri papa yang manja,"
Pak Bram ingat percakapan tadi dengan Zahra sebelum gadis itu pergi meninggalkan rumah, dan pak Bram juga menyuruh zahra untuk memperhatikan Ana sampai sembuh.
Tanpa sepengetahuan ibu Ani, Zahra pergi hanya diantar oleh tatapan mata dari pak Bram, Zahra tidak bilang ke ibu Ani kerena pasti tidak diizinkan oleh mamanya.
Pak Bram melepaskan Zahra, ya biarpun hatinya sangat perih saat tahu posisi Zahra sekarang, tapi ia tidak mau egois. Iebih mementingkan kepentingan pribadi nya.
🦋
Seminggu lamanya Ana di rawat di rumah sakit hati itu ia pulang.
"Kak, kakak pulang bareng kami kan?" Tanya Ana.
Gadis itu menatap wajah Zahra dengan tajam, Zahra mengangguk dengan tegasnya. Melihat itu Ana tersenyum.
"Iya, kakak pulang bareng semuanya. Kan kakak disana kerja, masa harus tinggal di sini," ujar Zahra tersenyum..
"Ana hanya takutnya mama kakak datang lagi," lirih gadis itu menunduk.
__ADS_1
Deg!
Hati Zahra berdetak dengan.keras, mendengar apa yang Ana katakan pada dirinya. Zahra menatap wajah ibunya.
"Biarpun datang lagi tapi kan kakak kerja di desa itu, masa harus meninggalkan kerjaan disana?" Ucap Zahra.
Ana hanya mengangguk. Sedangkan ibu Ayu, mengusap bahu Ana dengan.lembut sekali, ia tahu apa yang dikatakan Ana kerena kemarin kedatangan ibu Ani.
Wanita itu dengan kasarnya malah mengusir Ana di rumah sakit, sampai Ana ketakutan sekali.
"Jangan harap ya kalau Anin bakal balik ke kalian jangan harap! Anin telah mampus!" Teriak ibu Ani kasar.
"Maksudnya?" Kata Ana heran..
"Kakak kamu telah meninggal camkan itu jangan berharap Anin hidup dan berkumpul dan kembali!"
"Berarti kak Anin masih hidup begitu bu dimana dia sekarang Bu, dimana sekarang Bu!" Teriak Ana..
Plak!
"Nggak Anin sudah meninggal!" Teriak ibu Ani sambil melayangkan tanganya menampar pipi Ana yang sedang duduk diatas ranjang.
Ana yang tidak menduga bakal di tampar hanya meringis kesakitan saat tangan wanita itu mendarat di pipinya yang mulus.
Wanita itu hampir saja menampar kembali wajah Ana tapi tangan ibu Ana langsung melayang di udara, saat dilihat ibu Ani dengan cepat memegang tangan ibu Ani..
"Lepaskan!" Teriak ibu Ani.
"Jangan sakiti anak saya!" Teriak Ibu Ayu kesal.
Ia melepaskan tangan ibu Ani."Sampai kamu menyentuh anak saya, saya nggak akan segan segan mengajak Zahra ke rumah saya lagi!" Lantang ibu Ayu..
"Kamu berani?"
"Kenapa nggak?" Tantang ibu Ayu sengit.
"Ibu sudah kalian jangan bertengkar disini!" Teriak Ana histeris melihat ibu nya dsn ibu Ani malah bertengkar.
Sedangkan di ruangan itu tidak ada siapa siapa selain dirinya. Zahra mengantarkan uwa Iyan beli baju untuk uwa Iyan kerena laki laki itu tidak membawa baju ganti. Awalnya laki laki itu menolak tapi Zahra agak maksa Iwa Iyan untuk mau dibelikan baju.
Akhirnya mau tidak mau uwa Iyan mau, jadi mereka ke mall, meninggalkan Ana yang masih terbaring. Zahra juga meminta izin pada Ana, gadis itu mengangguk saja.
Kerena gadis itu nyakin semuanya akan baik baik saja, tapi kenyataannya malah tidak sama sekali.
Ana tidak menyangka sama sekali kalau ibu Ani bakal datang dan marah marah tidak seperti itu, membuat ia kaget saja apalagi wanita mengatakan kalau Anin meninggal. Maksudnya apa?
__ADS_1