
"Hal penting apa sampai kamu datang ke rumah ini? " tanya pak Bram curiga.
Pria itu menatap wajah Rani dengan tajam, pikiran pak Bram pergi kemana mana saat matanya saling tatap dengan wanita itu, ia tidak bisa membanyangkan kalau dirinya masuk perangkap itu! Kalau saja Narti ya wanita itu harus meninggal kerena menolong dirinya.
"Ya hal penting kalau nggak penting nggak mungkin aku datang ke rumah ini?" ujar Rani kesal.
Suara wanita itu terdengar sangat kesal mendengar apa yang Bram. Katakan padanya..
"Apa tujuan kamu kesini hanya ingin korban baru seperti yang kau lakukan pada Narti! " hardi pria itu tajam.
"Jangan bicaramu! " Rani beeteriak.
"Jaga bicara? Seharusnya anda lah yang jaga bicara. Apa anda pikir dengan keadaan anda yang bebas seperti ini bisa melakukan apapun yang Anda lakukan? "
Bram menunggu jawaban dari Rani tapi wanita itu hanya menghela nafas panjang saja. Wanita itu sebenarnya tidak mau berdebat dengan pria itu.
"Lupakan lah!" tepis Bram ketika matanya melihat Rani hanya diam dan membuang nafas panjang.
"Sudah buat janji belum? " tanya pak Bram.
"Dari kemarin juga aku sudah janjian dan Ayu, ribet amat sih mau ketemu Ayu juga? " ketus Rani kesal.
Sebenarnya dari kemarin juga ia malas datang ke rumah Ani itu juga ini, masalahnya harus ketemu Bram dan berbelit belit seperti mau ketemu pejabat saja.
"Kenapa harus sewot? " ujar Ana.
Gadis itu hanya diam saja akhirnya ikut menimbrung juga.
"Kamu bisa diam nggak sih! Kalau orang tua bicara coba jangan ikut bicara. " hardik Rani.
Wanita itu benar benar kehabisan kesabaran menghabiskan kata kata yang tidak kenting pada Ana dan Bram. Tapi ia tidak bisa berbuat apa apa kecuali bersabar, dalam hatinya ia ingin kalau Ayu dan Zahra bisa keluar dari dalam rumah supaya ia tidak menunggunya di depan seperti ini.
"Anda seharusnya masuk ke dalam rumah kalau orang tua bicara jangan cuma menguping! " lanjut Rani ketus.
"Oke, kalau kamu ingin ketemu dengan ibu Ayu dan Zahra tapi harus ada izin saya dulu Tapi kalau saya nggak mengizinkan ya sudah kamu pergi saja." kata pak Bram tegas.
"Bram, saya mohon ya izinkan saya bertemu dengan Ayu dan Zahra," Rani akhirnya meminta izin.
Rani tahu kalau Bram pasti tidak akan mengizinkan ia datang ke rumahnya ingin bicara dengan Ayu, tapi ia melakukan itu kerena ragu.
"Oke! Kalian bisa ketemu tapi ingat jangan sampai membuat onar di rumah ini! " tegas Bram.
Ana menganggukndaat pak Bram memberikan kode buat memanggil ibunya dan Zahra.
__ADS_1
Zahra waktu itu memang tidak tahu ada keributan yang terjadi di luar kerena ia sedang asyik di depan laptop dan duduk di teras belakang.
Begitu juga dengan ibu Ani yang sedang membaca majalah tentang masakan dengan ibu Ayu, kedua wanita itu rukun dan damai sekali terlihat.
"Bu, ada teman ibu tuh! " kata Ana menghampiri ibu Ayu.
"Teman?" tanya Ibu Ani dan ibu Ayu menatap Ana. Gasia itu mengangguk begitu saja.
"Rani!" Seru ibu Ayu menebak.
"Na, benar uwa Rani? " tanya Zahra menatap Ana ayang tidak jauh darinya.
"Iya tante Rani pengen ketemu ibu dan kakak." kata nya.
Ibu Ayu mengangguk mengiyakan sedangkan Zahra hanya mengkerut kan kenjngnya daja, ia tidak tahu kalau rani memang hanya menelpon ibu Ayu saja bukan menelpon dirinya.
Zahra menatap ibunya.
"Kemarin telpon ibu, ingin ketemu di seuatu tempat tapi ibu menolaknya, ibu menghakimi ketemuan di sini. " akkunya pada Zahra.
"Sama Anin juga? " tunjuk Zahra pada dirinya.
"Iya sama kamu juga. " jelas Ibu Ayu tersenyum.
Akhirnya ibu Ayu dan Zahra ke depan untuk menemui Rani. Memang benar Rani sudah ada di sana, senditian. Setelah menurun Ana memanggil ibu Ayu dan Zahra, pak Bram langsung meninggalkan Rani di depan tanpa bicara apapun lagi.
"Kok kamu bicara seperti itu? " tanya Rani tersinggung.
"Ran kamu ada apa kemarin menelpon? Ada keperluan apa? " tanya Ayu sambil mempersilahkan Rani.
Rani tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ayu, ia duduk di dekat Ayun sedangkan Zahra agak menjauh dari mereka.
"Uwa, ada apa sih! Seharusnya uwa menyerahkan diri ke polisi bukan bicRa dengan kami. "
"Uwa datang tujuan itu kok! Nin. Kalau budal uwa di penjara siapa yang mengurus Vito, sedangkan ia tidak punya saudara."
"Tante jangan alasan! Itu cuma alasan tante saja kan bicara itu? " tiba tiba Ana datang menghampiri ketiga wanita itu.
"Apa yang dikatakan Ana apa benar? Itu cuma alasan yang uwa bicarakan pada kami?" selidim Zahra langsung merespin apa yang dikatakan oleh Ana.
"Uwa, kalau masalah Vito sebenarnya uwa jangan risau bagaiamana pun ia adik kami berdua. Jadi kenpa uwa ribut kaya gitu sih! " sambung Rani kemudian.
"Itu bukan alasan, ibu juga pernah bilang kalau Vito boleh tinggal bersama kami bagaimanapun ia adik aku dan kak Zahra. " ujar Ana senada dengan apa yang dibicarakan oleh Zahra.
__ADS_1
Ibu Ayu hanya diam saja apa yang dikatakan oleh Ana, sebenarnya apa yang dikatakan oleh Ana sudah dirundingkan di rumah itu tanpa ada Rani sama sekali.
"Jadi jangan ada alasan lagi! Lebih baik tante langsung ke kantor polisi saja! " Ana geram.
Ya gadis itu merasa kalau Rani datang ke rumah ini hanya alasan saja. Kenyataan ya tidak ada sama sekali.
Sebenarnya ibu Ayu sudah malas bertemu dengan Rani, kerena ujug ujugnya seperti ini malah bertengkar. Akhirnya tanpa menunggu waktu lagi wanita itu langsung beranjak dari duduk dan pergi begitu saja tanpa memperdulikan Rani dan Zahra.
Brak!
Rani yang mendengar apa yang Ana katakan langsung mengebrak meja yang ada di hadapannya, Rani yang awalnya duduk langsung berdiri sambil memukul meja, tatapan matanya langsung menatap wajah Ana yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa harus marah! Seharusnya mengakui itu lebih baik jangan berbelit belit! " bentak Ana kasar.
Plak!
Rani yang tidak menguasai emosinya langsung melayangkan tangannya menampar pipinya Ana, gadis itu langsung menjerit kesakitan untung Zahra langsung menarik tangan Rani dengan kasarnya.
"Uwa sudah! Sudah!"
Mendengar teriakan Zahra, pak Bram yang tidak jauh dari dan langsung menghampirinya.
Pria itu sebenarnya tidak ingin melihat Rani di rumahnya langsung menarik tangan wanita itu dengan kasar untuk tidak menemui orang yang ada di rumahnya.
Ana yang melihat itu terkejut sekali, kerena tidak menyangka pada pak Bram bakalan melakukan itu pada Rani. Tapi hatinya bersorak dengan senang melihat pak Bram dengan tegasnya langsung membawa wanita itu keluar gerbang rumahnya.
"Maafkan Rara, uwa. Rara nggak bisa menolong uwa lagi!" gumam Zahra.
Zahra langsung masuk kedalam rumah thdak memperdulikan Rani, sedangkan Ana dan pak Bram menuju depan.
Biarpun Rani berteriak teriak tapi pak Bram tidak memperdulikan sama sekali.
"Keluar! Jangan pernah kembali ke rumah ini!" usir pak Bram dengan kasarnya.
"Saya ingin ketemu dengan Ayu dan Zahra, bukan ketemu dengan kamu! " Rani emosi melihat apa yang pak Bram lakukan pada dirimu.
"Ini rumahku, Zahra dan Ibu Ayu tinggal di rumahku, jadi kalau mau ketemu harus izin dulu padaku! "
"Tadikan mengizinkan tapi kenapa seolah oleh lupa apa yang dibicarakan nya? " Rani merasa heran dengan apa yang dikatakan Bram pada dirinya.
"Tante lupa, apa yang dikatakan om Bram? Kalau tante mau ketemu dengan ibu dan kak Zahra jangan ribut!"
Suara Ana terdengar kembali. Membuat Rani ingin sekali merobekkan mut gadis itu.
__ADS_1
"Diam kamu! "
"Kamu yang diam?" ujar Ana sewot.