
"Warga desa itu menganggap beberapa kemungkinan yang terjadi pada Anin. Satu Anin memang dibunuh oleh Darman, entah ia membunuh Anin. mengunakan apa? "
"Kedua kemungkinan Anin. memang kabur meninggal akan rumah kerena ia. melihat kekeras yang dialami oleh ayahnya, "
"Dan ketiga Anin bisa saja menghilang terus meninggal kerena di terkam oleh binatang buas."
Itu hanya ocahan ocehan beberapa warga tentang Anin. Rani yang mendengar Anin menghilang hanya pasrah memang ia tidak bisa berbuat apa apa lagi, begitu juga dengan Marni.
Akhirnya kedua wanita yang berbeda itu menuju. kehidupan yang berbeda sa sekali. Rani melanjutkan hidupnya di kota meninggalkan segala kemiskinan yang ada di desa.
Sedangkan Mirna hidup berdua dengan Nining sambil sembunyi dari orang orang yang pernah mengejarnya.
BRAK!
"Jadi tanta Rani dalang dari semuanya!" teriak Ana yang tiba tiba memotong cerita dari wanita itu.
Gadis itu sampai mwn gebrak meja yang ada di hadapannya! Matanya memerah sangat marah mendengar cerita yang sebenarnya.
Zahra yang melihat kemarah n Ana langsung memengang tangan Ana dengan. cepat sekali.
"Lepas! " teeiak Ana dengan. kasar berusaha melepaskan pegangan tangan Zahra.
Ibu Ani dan ibu Marni berusaha menenangkan Ana yang berusaha berontak.
"Dek! sabar! " teriak Zahra.
"De, ingat tujuan kita ke sini untuk apa? " ingat Zahra pada Ana..
Gadis itu menatap wajah Zahra dengan tajamnya.
"De, ingat tujuan kita itu apa kesini, apa yang uwa iyan. katakan harus di laksanakan kalau. memang uwa Rani yang jadi dalang lwmbunuhannya maka kita bisa meringkus nya sekarang! " tekan Zahra tajam.
Ia berusaha dengan. kuat menenangkan Ana. Sebenarnya bukan Ana saja yang sakit mendengar kenyataan yang ada, Zahra lebih sakit lagi apalagi ibunya yang telah begitu percaya pada dirinya.
"Bu, benar kah Rani punya kwliarga? " tanya Ani penasaran.
"Menurut ceritanya ia punya. keluarga tapi. keluarganya. malah. membuang bdiri ke tempat ini. Entah tu anuannya apa? "
"Bu, jadi Rani punya anak dari ayah? Lalu anak itu? " tanya Zahra penasaran.
"Iya saya yang mendengar sendiri kalau Rani dan. pengakuannya adalah anak dari Hamdi."
Ana mengepalkan tanganya mendengarkan cerita Marni apalagi tentang kehamilan Rani tanpa di ketahui oleh ayahnya akibat minuman yang diminum kan oleh mang Tio.
"Jadi perbukitan itu yang sebenarnya kngin dimiliki oleh Rani itu tanahnya uwa Darman? " sungut Ana kesal.
"Ya tanah itu milik Darman yang sebenarnya sedangkan perkebunan dekat pekuburan itu sebenarnya masih hal ayah kalian! " kata Marni.
__ADS_1
"Tapi kan Ua Darman sudah menjualnya pada pak Rohman? " tanya Zahra.
"Iya menjualnya. Tapi ini kesalahan dari suami saya. Darman dan Rani membunuh suami saya kerena uangnya belum. mereka terima sampai sekarang juga.
" Oalah begitu ceritanya samoai uwa Darman dan Rani. mwmbunuh pak Rohman, tapi bagaimana pun mereka salah hatus mwmbunuh lak Rohman kalau bisa harusnya bicara baik-baik saja! " kata ibu Ani ikut me nimbrung.
"Mungkin itu kesalahan suami saya. Tapi baginsaya meeka nggak di penjara juga nggak apa apa asal pak Hamdi jangan di penjara. Tapi pak Hamdi sekarang sudah tiada. " kata Marni.
"Sekarang apa yang kita lakukan kak? " tanya Ana setelah mulai tenang.
"Kita pura pura nggak tahu saja? "
"Lebih baik kita cari uwa Darman. " lanjut ibu Ani.
Wanita itu merasa sakit hati mendengar Rani yang harus melakukan apa yang tidak harus Rani. lakukan.
"Apa kerena itu Rani membunuh pak Hamdi? " tanya Ani. menatap Marni dengan tajam.
Ia. masih belum. percaya apa yang dikatakan oleh wanita yang baru di kenalnya itu.
"Menurut saya Rani nggak keenah membunuh Hamdi, kerena ia juga mengandung anak Hamdi nggak. mungkin. kan? "
"Darman lah yang membunuh Handi dan Karya. Rani hanya menyuruh Darman mwmbunuh Karya dan suami saya. saya nggak tahun alasan Darman mwmbunh Hamdi. Kemungkinan ia takut kalau Hamdi mengatakan kalau ianneesalah dan nggak langsung menyered Rani. " alasan Marni.
"Bagaimana pun juga Rani adalah pembunuh suami saya yang harus masuk penjara. Jadi. Darman melindungi Rani kerena Rani yang membunuh suami saya. " lanjut Marni.
Zahra mengangguk angguk.
"Bu, apa Rani bisa di percaya kalau ia mengatakan dirinya ibunya anak tiga orang? " tanya Zahra.
"Kemungkinan, kerena waktu beberapantahin setelah ayahmu. meninggal Rani menikah dengan seseorang dan kehidupannya nggak sesuai dengan harapan nya. Ia bercerai kerwn suamianya selingkuh. " kata Marni memberi tahu kan pada Zahra dan dua orang yang ada disana.
"Saya nggak tahu Rani punya ana atau nggak dengan suaminya, tapi saya dengar ia masih mencari keluarganya yang entah dimana rimbanya. "
Marni mengingat apa yang pernah ia dengar dari orang lain tentang berita tentang Rani.
"Pokoknya aku harus. penjarakan dia! " Terima Ana masih kesal.
"Sabar, kita harus mencari bukti kenpa ia melakukan itu! " ujar ibu Ani yang diam saja.
"Buktinya telah nyata, ia telah bersengkongkol dengan Rani untuk. menghilangkan pak Rohman yang nggak bersalah. Ya biarpun pak Rohman nggak memberikan uangnya pada uwa.! " teriak Ana kasar.
"Kalau misal pak Rohman benar nggak membayar uang dari penjualan kebun. itu, kenoa uwa Darman nggak melaporkan pak Roham pada polisi itu lebih bagus daripada main hakim. sendiri! " terang Ana.
Gadis itu tetap menyalahkan Darman yang main hakim sendiri, apa yang dikatakan oleh Ana disetujui oleh Zahra maupun ibu Ani.
"Saya sebenarnya ikhlas kalau misal saya. maupun suami saya di laporkan kerena nggak pernah membayar uang pembelian tanah itu pada Darman. "
__ADS_1
Tapi yang saya sesali. kenapa mereka harus membunuh suami saya sebegitu sasisnya? "
"Jujur sampai saat ini saya nggak ikhlas kalau suami saya. meninggal kerena di bunuh! "
"Kita harus merencanakan Rani untuk di. laporkan pada polisi. "
🦋
Rani semakin gelisah saat ia mulai melihat Marni yang tiba tiba muncul dihadapannya, sebenarnya ia juga tidak. mwnyangka kalaumkrang yang bersama dengan Ani itu Marni wanita yang suamianya. meninggal gara gara tanah itu? "
"Kamu kenapa gelisah kaya gitu? " tanya ibu Ayu menatap Rani dengan. lwrasan herannya kerena dari tadi Tanin hanya diam saja.
"Nggak apa apa kok! Eh kamu kira kira tahu nggak Marni istrinya pak Rohman itu? " tanya Rani tiba tiba.
Ayu yang mendengar pertanyaan dari Rani. langsung menatap wajah Rani dengan. tajamnya, ia mermasa hetan atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Rani yang menurutnya tiba tiba.
"Kenapa memangnya? " tanya Ayu. heran..
"Nggak apa apa kok! Aku hetan saja sejak. kematian suaminya ia menghilang kira kira kenpa ya? " pancing Rani.
"Kenapa kamu menamyakan itu padaku? Kemu. kenpa sih! " tanya Ayj heran.
Ya tidak heran. bagaiamana sejak leetemuan. itu! Baru kali ini Rani malah ingin tahu keberadana Marni istrinya dari almarhum. pak Rohman.
Kemarin kemarin ia tidak. lwenah bertanya apapun pada dirinya taok sekarang malah bertanya tentang Marni. Bukannya Ayu. nggak. mau menjawab pertanyaan dari Rani tapi. kok tiba tiba sekali.
"Kamu sekarang aneh? Kenapa kamu. tanya masalah Marni padaku?" tanya Ayu. menatap tajam kearah Rani.
"Anehnya dari. mana? ' tanya Rani sambil mengajar bahu.
" Aneh saja? Kok sekarang kamunya nya Marni sedangkan kemarin. kemarin kamu. hanya diam saja. nggak lwenah tanya apa apa? Jangan. jangan kamu tahu sesuatu? " selidik Ayu tajam.
"Maksudmu? "
"Alah pastinya kami tahun sesuatu iya kan, kenoa Marni menghilang?" tanya Ayu..
"Nggak aku. nggak tahu apa apa twmtang Marni kok! " Rani gugup.
Ia. merasa bersalah karena harus menanyakan tentang Marni alda Ayu, ia hanya mwnghela nafas panjang lalu di hembuskan.
"Aku hanya ingin tahu saja sih! Tiba tiba aku ingat Marni. " ungkap Rani.
"Mendadak sekali ingatnya? Akun nyakin kamu tahu sesuatu ya twntang Marni? Apa itu Rani? " Ayu menyelidik Rani.
"Kenapa sih kamu. bicara itu! Aku hanya bertanya saja. " sewot Rani.
"Ran kok kamu sewot? Akun hanya tanya dsja sih sama kamu," kata Ayun heran..
__ADS_1
Fani akhirnya terdiam hatinya mengituk dirinya nyang asal bicara pada Ayu apa lagi menanyakan tentang Marni, sedangkan kakau. mau cerita ia juga tidak ada waktu kejadian itu ya itu. menurut mereka yang tidak tahu.*