
PLAK
Sebuah tamparan dengan keras mengenai wajah Zahra, gadis itu sangat terkejut melihat kelakuan ibu Ani yang tiba tiba main tangan ke padanya. Seingat nya mam tidak pernah memukul dirinya bagaimana pun juga, tapi hati itu ia sangat terkejut mama memukulnya dengan keras.
"Aww!" jeritnya tertahan.
Saat pipi kirinya terasa panas sekali akibat pukulan yang mendarat.
"Mama!" terik Zahra tertahan..
"Kaskus kamu macam macam mama nggak akan pernah memaafkan kamu!" sembur ibu Ani dengan pandangan matanya membara.
"Ma kenapa mama lakukan ini sam Rara kenapa ma!" teriak Zahra histeris..
Ia benar benar seperti tidak mengenal wanita yang ada di hadapannya, ia seperti asing melihat mamanya sendiri.
"Mama nggak mau mendengar nama itu lagi, mam adalah mama kamu yang sebenarnya!" ketus ibu Ani tajam.
"Ma, kenapa mama seperti ini sama Rara, apa salahnya Rar la dekat sama ibu dan Ana, mah? tanya Zahra heran.
Ya ia merasa heran mwndnegarkan alanyang diucapkan oleh ibu Ani, dari awal memang ibu Ani tidak pernah menyetujui kaku dirinya dekat dengan Ana. Alsan mendasar ia takut kehilangan Zahra anaknya.
Sedangkan Zahra sendiri tidak pernah membedakan mamanya dengan ibu, tapi kenyataannya lain lagi.
"Ma, dengarkan Rara. Rara tetap anak mama untuk selamanya, tapi jangan begini caranya, Rara juga ingin berang dan ini dan Ade," ungkap Zahra terus terang.
Sejujurnya kalau suruh memilih ia ingin sekali bersama dengan Ibu dan Ana tapi kenyataannya lain lagi, ibu Ani malah kekeh tidak mengizinkan apa yang ia inginkan.
"Ma, apa sih yang mama takutkan dari ibu dan Ana? Mereka malah mengizinkan Rara ketemu dengan mam sedangkan mama?" tanya Zahra lembut.
Ia mengatakan itu secara berlahan supaya mamanya tidak tersinggung sama sekali oleh kata katanya.
"Mengizinkan? itu hanya taktik mereka saja hanya untuk memisahkan mama dengan kamu!"
"Ma, mereka siapa yang mama maksud?"
"Ayu dsn Ana."
"Bukan nya mama yang memisahkan Rara dengan mereka?" sudut Zahra pada ibu Ani.
BRAK!
Wanita itu langsung memukul meja yang ada dihadapannya, sampai gadis yang ada di sana terkejut sekali kerena melihat kemarahan dari wanita itu. Zahra benar benar ciut seketika melihat mama nya marah seperti itu.
"Mama aneh!" Dengus Zahra meninggalakan mamanya menuju luar.
__ADS_1
"Jangan pergi!" teriak ibu Ani
"Kalau mama seperti ini aku akan pergi nggak akan kembali lagi!" ancam Zahra..
Gadis itu tidak memperdulikan teriakan dari ibu Ayu, ia langsung keluar dari rumah itu menuju teras. Dalam hatinya ia heran kenapa mama punya rumah selain rumah yang di tempati bersama.
"Rumah ini untuk kamu, saat kamu menikah dengan Rey nantinya." kata ibu Ani menghampiri Zahra yang di teras.
"Rara nggak mau rumah ma, Rara hanya ingin sama ibu dan Ana." ungkap Zahra.
"Kembali ke desa kumuh itu?" tanya sinis ibu Ani.
"Tapi Rara berasal dari desa itu, mama lupa?" tanya Zahra.
Wanita langsung terdiam saat Zahra mengatakan itu, ada rasa kesal didalam.hati wanita itu kerena gadis yang ada dihadapannya selalu melawan.
"Mama sebenarnya sayang sama kamu Ra, sayang. Mama nggak mau kehilangan kamu, kamu anak mam satu satunya." ujar Ibu Ani merangkul tubuh Zahra.
Zahra langsung menghindar dari rangkulan wanita itu, ia menatap wajah mamanya..
"Tapi jangan seperti ini ma, Rara nggak mau mama seperti ini." ujar Zahra.
"Seperti ini apa maksudnya Ra, apa salah mama sayang sama kamu?" tanya ibu Ani meyakinkan Zahra.
"Maksud Rara jangan posesif sama Rara, ini itu jangan! Rara mengerti kala itu mama sayang sama Rara tapi jangan overthiking seperti ini."
"Sudah lah ma, Rara nggak mau debat sama mama lagi!" Zahra langsung meninggalakan mamanya.
Ia masuk ke dalam rumah, dan duduk di kursi ruang tamu dengan pikiran yang kemana mana. Melihat itu ibu Ani mengikuti Zahra yang masuk ruangan tamu, ditatapnya wajah Zahra dengan tajam. Sedangkan ia hanya bisa menghela nafas saat menatap wajah Zahra.
"Kalau kamu lelah istirahat saja di kamar depan. Itu kamar kamu," kata ibu Ani langsung meninggalkan Zahra.
Zahra melihat ibu Ani melangkah menuju ruangan belakang, sedangkan Zahra langsung menuju kamar yang ditunjukan oleh ibu Ani.
Mata Zahra melotot saat ia membuka kamar depan. Disana banyak gambar dirinya, dengan pak Hamdi.
"Mama!" teriaknya dengan kerasnya.
"Mama!" ulang Zahra kembali.
Ibu Ani yang mendengar teriakan Zahra yang melengking langsung menghampiri putrinya yang masih di pintu..
"Kamu terima teriak kenapa?" tanya ibu Ani keget.
"Mam kenal sama ayah?" tanya Zahra menatap wajah mamanya dengan heran..
__ADS_1
Apalagi fhoto fhoto ayah dan. dirinya sewaktu kecil terlihat di tembok.
"Kejutan! Mam kenal dengan ayahmu, sangat kenal, makanya mama hanya ingin kamu tinggal disini." kata ibu Ani tersenyum.
"Kenapa mama menjebloskan Darman kerena mama ingin Darman merasakan apa yang Hamdi rasakan. Tapi nyatanya laki laki itu kabur!" Dengus ibu Ani dengan sorot mata marah.
Zahra hanya terdiam. Mulutnya seakan akan terkunci seketika mendengarkan apa yang mamanya katakan, ibu Ani dengan tiba tiba langsung memeluknya.
"Yu, maafkan aku. Aku mengunakan Anai untuk melakukan ini, maafkan aku." bisik wanita itu dalam hati.
Hatinya sangat rapuh. Di pelukan Zahra ia begitu nyaman sekali, ada kehangatan yang menyelusup dalam hatinya.
'Yu, aku nggak akan melepaskan anakmu, aku nggak akan pernah melepaskan ya untuk kamu biarpun kamu adalah ibu kandungnya," bisiknya.
"Ma, kenapa mama lakukan ini?"
"Mama lakukan ini kerana mam sayang kamu Ra, mama akan lakukan apapun demi kamu." ujar ibu Ani.
"Mam harap kamu jangan temui ibu Ayu lagi apalagi Ana," lanjut wanita itu tajam. s
Sambil melepaskan pelukan ya dari tubuh Zahra. Gadis itu hanya diam saja mendengarkan apa yang diucapkan oleh ibu Ani.
"Sekarang kamu istirahat ya, na ti siang kita makan kesukaan kamu." kata ibu Ani sambil tersenyum.
Zahra mengangguk. Ia langsung masuk kamar dan membaringkan tubuhnya, pikirannya kecap balai melihat gambar yang berada di dinding kamar. hampir semua gambar dirinya dengan Hamdi.
"Ada apa sih dengan mama, kok aku sepertinya begitu asing dengannya?" tanya Zahra dalam hati.
"Apa yang terjadi sih dengan mama, kenapa banyak fhoto ayah di kamar ini?"
"Sama sekali tidak ada gambar papa?"
Pertanyaan demi pertanyaan di dalam hati terlontar begitu saja, ada perasan heran, aneh, pada sikap mamanya yang seperti itu.
Sedangkan di sebuah kantin ibu Ayu hanya termenung saja, melihat Zahra yang ditarik.olwh wanita yang tidak asing baginya. Tapi ia ragu untuk menyimpulkan.
"Bu, kenapa ibu diam sja waktu kak Zahra ditarik?" tanya Ana.
"Wanita itu nggak akan melukai Zahra, Na. Ibu nyakin pasti ada sesuatu yang terjadi di masa lampau." lirih ibu Ana.
"Maksudnya apa sih! Ibu mau bilang apa sama Ana?' tanya Ana heran.
Ibu Ayu hanya mengelangkan kepala saja, Ana menghela nafas panjang melihat gelangan kepala ibu.
"Suatu waktu kamu bakal tahu semuanya Na," ujar Ibu Ayu meninggalkan Ana.
__ADS_1
Sedangkan Ana hanya diam saj.*