
Ada keharuan yang luar biasa menyelusup hatinya. Wanita itu hanya tersenyum melihat Rey mengangguk pada dirinya.
"Terimakasih ya nak Rey atas perhatian nak Rey pada Anin." Kata ibu Ayu tulus.
"Iya da sama Bu, Rey juga senang kok membantu Anin," jawab Rey tulus.
"Ya saya kagum pada Anin Bu, ia selalu.membangga kan ibu dimana pun juga. Mungkin itu yang membuat mama agak marah pada zahra dan ibu," lanjut Rey menjelaskan.
Wanita itu tersenyum samar. Tanpa ia tahu juga sebenarnya Zahra didepannya sellau membanggakan dirinya sebelum.ia tahu siapa ibu kandung Zahra.
"Bu, mungkin hari ini kami akan langsung ke kota. Saya dan Rey mau pulang saja, menyusul Zahra." Kata pak Bram pamit pada ibu Ayu.
"Pak, titip Anin ya."
"Iya saya akan jaga Zahra buat ibu dan nak Ana."
Dengan tatapan dari ibu Ayu dan Ana, pak Bram dan Rey langsung pergi meninggalkan desa itu, setelah kedua orang itu pergi ibu Ayu hanya menghela nafas, ada kekosongan dihatinya saat Zahra tidak ada disisinya.
Sedangkan Zahra yang dibius langsung dimasukan ke kamar oleh ibu Ani, wanita itu menyelimuti tubuh Zahra dengan kasih sayang. Apa yang dibicarakan oleh ibu Ayu memang benar, ibu Ani tidak bakal menyakiti Zahra.
"Ra, maafkan mama. Mama lakukan ini kerena mama nggak ingin kamu pergi lagi, kamu adalah anak mama satu satunya," tangis ibu Ani.
Wanita itu menangis sambil mencium tangan Zahra.
"Mama nggak mau kalau kamu pergi dari sini sayang. Mama sayang kamu,"lanjut wanita itu memeluk tubuh Zahra dengan lembut sekali.
Ia juga membelai kepala Zahra. Kerena perjalan jauh akhirnya ibu Ani pun tertidur di kamarnya Zahra. Waktu gadis itu bangun ia sangat terkejut sekali kerena berada di kamarnya kembali.
"Mama," gumam gadis itu.
Saat ia melihat disampingnya ibu Ani tertidur. Ia hanya menghela nafas panjang, saat ingatannya melayang pada kejadian yang tadi siang di desa itu.
'Bu, maafkan Anin nggak bisa belain ibu,' rintih Zahra perih.
'Ya Tuhan,'jerit Zahra dalam hati.
__ADS_1
Ia masih ingat saat tubuhnya di seret oleh mamanya disuruh masuk saat ia mengakui kalau ia adalah Anin lada Ana. Zahra masih ingat saat ia masuk mobil, ia melihat Ana akan mwngjera nya tapi ibunya malah memegang tangan Ana, dan ia tidak ingat lagi.
'Ma, kenapa sih mama seperti ini?'Bisik hati Zahra menatap wajah mamanya.
"Kamu harus jadi Zahra selama ini, maafkan mama kamu ya." Terdengar suara papa mengatakan perkataan itu padanya.
"Pa, apa mungkin Anin bisa jadi Zahra, sedangkan Anin nggak kenal dengan Zahra?" Tanyanya waktu itu.
"Entahlah Ra, papa juga nggak ingin sebenarnya tapi bagaimana lagi." Dengus papanya menatap Zahra..
"Pa, kalau seperi ini Rara nggak akan bisa ketemu sama ibu dan adik, Rara sebenarnya ingin ketemu sama ibu dan adik Rara sendiri." Keluh Zahra.
"Kamu harus bersabar ya Ra, insya Allah suatu waktu nanti kalian ketemu."
"Pa, bukan itu saja Rara juga ingin sekali melihat uwa Darman mempertangungjawabkan kesalahannya pada hukum,"pinta Zahra.
"Tenang, kamu harus cari bukti dulu tentang kejahatan uwa kamu, jangan sampai salah sasaran."
"Aku nyakin pa, Kaka uwa Darman yang salah."
"Pa tapi bagaimana cara nya Rara bisa ketemu mereka? Sedangkan Rara disini?" Tanya Rara meminta solusi pada papanya.
Apa yang dilakukan oleh pak Bram dilakukan olehnya, Zahra bahagia sekali saat mendengar kalau ia diangkat sebagai pustakawan di salah satu desa dimana desa itu adalah tempat tinggalnya dulu.
"Kamu sudah bangun?" Tanya ibu Ani saat melihat Zahra melamun.
"Ah! Mama mengagetkan saja," ujar Zahra tersipu kerena ketahuan melamun..
"Ada apa yang kamu pikirkan Ra?"
"Ma, kenapa mama lakukan ini pada Rara? Rara sebenarnya ingin sekali bersama ibu dan adik." Ungkap Zahra kemudian.
Sejak lama ia ingin mengatakan perkataan itu pada mamanya, tapi baru sekarang ia mengatakan nya pada wanita yang ada dihadpannya.
"Rara nggak bakal meninggalkan mama, Rara bakal balik kesini lagi ma, tapi jangan pisahkan Zahra dengan mereka." Kata Zahra.
__ADS_1
"Nggak Ra, mama nggak bakal melepaskan kamu ke desa itu, kamu hanya ingin kalau pak Darman di penjara kamu bakal balik. Sekarang pak Darman di penjara, tapi kamu seperti ini." Protes ibu Ani gusar.
"Ma, memang Rara ingin sekali pak Darman dipenjara, tapi jangan seperti ini. Mama malah yang memenjarakan pak Darman bukan Zahra." Protes Zahra.
"Sama saja Ra!" Teriak ibu Ani emosi.
Zahra hanya menghela nafas panjang mendengar apa yang mamanya katakan, ia langsung beranjak dari kasur. Tapi wanita itu memegang tangan Zahra, akhirnya gadis itu mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar itu.
"Ma, ada apa lagi?" Tanya Zahra.
"Mama hanya ingin kamu tetap disini, lebih baik kamu mutasi kerjanya dari desa itu!" Tekan ibu Ani.
"Ma, nggak semudah itu!"
"Tapi Ra, mama nggak mau kamu bakal betah di desa kumuh itu!" Sembur ibu Ani tidak suka.
"Tapi kenyataan nya Anin berasal dari desa kumuh itu ma, dan mama yang mengambil Rara disana." Dengus Zahra.
"Ra!" Teriak ibu Ani tersinggung.
Ibu Ani tidak menduga sama sekali mendengar Zahra mengatakan itu lada dirinya. Gadis yang ia asuh dan urus kini telah menjadi gadis yang dewasa dan bisa membalikkan kata katanya.
Zahra merasa kesal. Jadi ia mengatakan kaku ia berasal dari desa itu kalau di punggung oleh ibu Ani.
"Kenapa? Apa Rara salah bicara sampai mama marah?" Tanya Zahra melihat wajah mamanya.
Gadis itu melanjutkan kata katanya, sedangkan wanita yang ada di hadapannya langsung terbungkam mendengar apa yang dikatakan oleh Zahra. Bukan Zahra yang meninggalkan kamarnya, tapi wanita itu yang meninggalkan kamar Zahra, gadis itu hanya melihat saja dan menghela nafas panjang melihat mamanya seperti itu.
"Ma, Rara harus seperti apa?" Tanya Zahra dalam hati.
Ia akhirnya meraih fhoto bocah kecil, didalam foto itu tertera nama Zahra Anindya.
"Ra, kenapa kamu pergi seperti ini?"
"Kalau kamu nggak pergi mungkin cerita kita nggak akan seperti ini Ra, kalau saja mama mengerti, mungkin aku nggak bakal cape," keluh Zahra di fhoto bocah kecil itu.
__ADS_1
Zahra hanya bisa mendengus kesal kalau mengingat sebuah perjalanan dirinya sampai ia berada di sebuah rumah yang megah. Ia datang ke rumah itu hanya untuk menggantikan anaknya yang telah tiada, ia juga tidak mengenal Zahra.
"Ra kamu benar benar jahat!" Gumam Zahra sambil menyimpan fhoto bocah itu kembali ke tempat semula.*