
Bukan hanya Darman saja yang terkejut. Rani yang ada di samping Zahra juga terkesiap mendengar apa yang Zahra katakan dihadapannya.
Wanita itu melonggo kerena tidak menyangka kalau Zahra bakal tahu semuanya, Rani langsung menatap Darman, ia langsung menuduh pria yang ada di hadapannya yang menceritakan pada Zahra.
Tapi melihat ke marahan Darman, Rani jadi urung menuduh Darman. Rani akhir ya menatap Zahra tajam sambil berkata;
"Nin, kamu tahu dari mana kisah itu?"Tanya Rani pelan.
Sebenarnya Rani juga berga ya tanya dimana Zahra sampai tahu semuanya, memang hatinya tidak menamoik apa yang dikatakan oleh Zahra. Tapi kan Zahra dan dirinya beda tahun dan sekarang Zahra tahu. Kira kira tahun dimana?
"Uwa aku punya telinga punya mata, Rara bisa melihat dan mendengar apa yang perlu Rara dengar, dari siapapun juga itu. " kata Zahra tegas.
Sambil membalas tatapan mata Rani. Zahra tidak mau mau menywbit nama siapa orang yang telah pemberitahuan cerita itu, iya nyakin kalau Rani pasti akan mencari tau orangnya.
"Rara! Kamu Anin!" teriak Darman sambil mencengkram kedua bahunya Zahra dengan kuat sampai gadis itu meringis kesakitan di kedua bahunya.
Darman benar benR sangat gusar saat Zahra mengatakan itu pada Rani, hatinya sangat bergetar sangat kuat sekali sampai tangannya langsung mencengkram kedua baju Zahra dengan dua tanganya.
"Uwa! " teriak Zahra spontan. Kedua ya hanya diangkat ke atas di depan dadanya lalu di turunkan kembali.
"Lepaskan! "
Teriak gadis itu dengan kerasnya sambil berontak sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Darman.
Melihat itu Rani langsung menepiskan tangan Darman dari bahunya Zahra karena ia melihat wajah Zahra yang kesakitan akibat cengkraman tangan Darman. Apalagi melihat Zahra yang berusaha melepaskan, dari tangan Darman yang kuat.
Tapi cengkraman tangan Darman sangat kuat sekali mwnanjab di bahu Zahra. Pria itu dengan marahnya menatap wajah Zahra yang menatap wajahnya dengan tajam.
"Pasti dari Ayu! " Teriak Darman emosi.
Sambil mendorong kedua bahunya Zahra kerasa sekali, untung ada Rani yang menolongnya jadi gadis itu tidak terjatuh.
Pria itu nyakin kalau Ayu lah yang menceritakannya, tidak ada orang yang bakal menceritakan pada orang lain selain Ayu. Dugaan Darman salah semua, Ayu tidak pernah menceritakan kisah silamnya pada Zahra. Jangankan pada Zahra pada Ana yang hidup bersama dengannya juga tidak pernah menceritakan.
Ana bukan tidak menanyakannya, ia sering seki menyakan alasan ayah dibunuh, atau Anin menghilang tapi Ayu tetap tidak
"Rara atau Anin sama saja! Kenapa uwa begitu ngotot kalau aku Anin? Memang aku Anin. Anin anak pak Hamdi yang kau bunuh!"
"Bagiku Anin atau Zahra itu sama saja. Kerena mereka tetap menyanyangi aku sampai sekarang juga kenapa uwa seperti kepanasan mendengar nama Zahra! " selidik Zahra tajam.
"Alah itu nggak penting! " hindari Darman.
"Nggak penting? Tapi kenapa uwa seperti nggak mau mendengar nama Zahra, Rara nyakin kalau ada sesuatu yang uwa sembunyikan? " tanya Zahra tajam.
Rani yang mendengarkan apa yang Zahra katakan langsung menatap wajah Darman, ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Zahra tentang namanya. Hati wanita itu bertanya tanya apa sebenrnya yang terjadi atas nama Zahra?
__ADS_1
"Uwa, camkan ibu Ayu nggak pernah menceritakan apa yang terjadi pada Rara dan Ana. Kenapa Rara tahu kerena memang Rara lihat sendiri apa yang dilakukan uwa terhadap ayah. "
Zahra sengaja memancing menyebutkan nama Rara dihadapan Darman. Rani hanya bisa menghela nafas panjang melihat kenekatan Zahra menyebutkan nama Rara. Untuk dirinya sih Zahra, Rara dan Anin sama saja orang yang sama bukan beda hanya penyebutan saja yang beda.
"Kalian menyerang aku! " dengus Darman agak kesal.
"Terus kalau bukan dari Ayu kamu dari mana tahu masalah itu? " tanya Darman tajam.
Pria itu masih tetap menyangka kalau Ayu lah yang jadi biang masalah yang menceritakan kejadian lampau sedangkan Ayu sendiri sebenarnya lebih memilih diam saja.
Ya biarpun Zahra tahu, Ayu hanya berpikir mungkin dari orang lain, ia hanya menceritakan setelah Zahra tahu semuanya, Darman tidak menduga kalau uwa iyan lah yang menceritakan semuanya ta la menyadari kalau itu Anin.
"Ibu nggak pernah menceritakan ayah, Rara sendiri yang tahu semuanya. " Zahra mwnjelaskannya.
"Rara nggak habis pikir kenapa uwa Rani dan uwa Darman melakukan itu pada kami. Kejujuran kalian lah yang ingin kami dapatkan tapi malah sebelaiknya, " suara Zahra getir mengingat semuanya..
"Jadi tujuan kamu kembali ke desa itu hanya untuk mencari kami? " tanya Rani tajam.
"Salah satunya itu, keduanya Rara ingin kumpul dengan ibu juga Ana. Rara nggak ikhlas kalian berkeliaran dengan bebas sedangkan ayah telah meninggal tanpa dosa sedikitpun. " lirih Zahra.
Gadis itu membayangkan betapa tersiksanya ayah yang harus meninggalkan di depan anaknya sendiri, menahan sakit dan dinginnya malam hati ditambah lagi jasadnya tidak langsung di kuburkan.
Rani hanya diam saja, telinganya mendengar apa nyang diceritakan oleh Zahra. Tiba tiba banyangan dirinya yang tidak terima kalau Hamdi meninggal dunia si tangan kakaknya Darman.
Plak!
Rani waktu itu sangat histeris mendengar pengakuan Darman kalau hamdi meninggal dunia, ia tahu itu ketika pagi telah tiba dan semua. Orang sudah mendengar kalau ditemukan jasad Hamdi dan Karya di perkebunan milik pak Rohman!
Darman yang mendengar teriakan Rani hanya diam saja. Ia juga tidak menyangka kalau dirinya yang membunuh Hamdi.
"Kang! "
Rani hanya bisa menangis.
"Maafkan aku Ran, maafkan aku Ran. Ran, Anin kata waraga hilang entah kemana. " kata Darman lirih.
"Apa? Bilang? Hilang kemana kang kok sampai menghilang kang! "
Bukan ya berhenti menangisnya. Mendengar berita Anin hilang Rani mengamuk seketika juga, sampai Darman kewalahan untuk menenangkan ya.
Rani masih mengingat itu semuanya.
"Jadi tujuan kamu ke desa itu hanya ingin melihat kami, " Rani angkat bicara.
"Iya, " jujur Zahra.
__ADS_1
"Rara nggak mau kalau ayah menagih janji pada Rara, kerena Rara pernah berjanji bakal memasukan kalian ke penjara. " tegas Zahra tajam menatap keduanya.
Di sisi lain.
Ana dan ibu Ani yang ada tidak jauh dari tempat ketiga orang itu hanya diam saja, tapi tiga orang tidak tahu kalau ada yang mencuri dengar.
Ana yang ada si samping ibu Ani hanya bisa menggigit bibir bagian bawah kerena mendengar cerita Zahra, cerita yang ia dengar hanya sepotong sepotong tidak utuh.
"Uwa kenapa uwa nggak mau mendengar nama Zahra atau Rara? " tanya Zahra tajam.
"Sejujurnya aku juga ngak mau mendengar nama Zahra atau sebutan Zahra melekat dalam diriku, kerena Zahra bukan nama asliku tapi uwa kenapa? " tanya Zahra kembali mengungkit nama itu lagi.
"Nggak uwa cuma ingin kamu tahu nama kamu itu Anin bukan Zahra. " pria itu gelagapan saat mendengar Zahra mencari alasan yang tepat.
"Apa yang terjadi? " desak Zahra pada Darman.
"Kang, apa yang sebenarnya terjadij dengan nama Zahra? Aku heran kenapa kamu seperti takut kalau ada orang lain tahu? " desak Rani.
Wanita itu juga penasaran melihat tingkah laku Darman yang sangat berbeda sekali apalagi saat Zahra menyebutkan nama Rara? Rani nyakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Darman.
"Apa uwa kenal dengan Zahra Anindya! " kata Zahra menyebutkan nama Zahra dengan nama panjangnya.
Darman sejenak tertegun mendengar nama itu!
"Nggak uwa nggak kenal dengan nama itu! " gugup Darman.
"Nama itu nama Rara sendiri uwa. " senyum Zahra sinis.
"Uwa apa yang sebenarnya yang terjadi pada Zahra! "
"Maksud kamu apa? " tanya Darman geram.
"Uwa kan yang menghilangkan Zahra! " selidik Zahra.
"Jadi kamu yang telah membunuh Zahra? " tiba tiba ibu Ani yang dari tadi hanya mengikuti pembicaraan mereka langsung menghampiri mereka.
"Uwa benar benar jahat! '' teriak Ana.
Ketiga orang itu hanya bengong saja karena tidak menyadari kedatangan kedua orang wanita yang berbeda umur ujug ujug datang tanpa permisi sama sekali.
"Mama! Ana! " teriak Zahra kaget melihat Ana dan mamanya datang.
Plak!
Ani tanpa menunggu waktu lagi langsung menampar muka Darman. Pria itu hanya diam saja hanya matanya melirik wajah Ani yang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Aku nyangka kalau kamu yang melakukannya. Pantas kalau kamu di penjara juga?! Teriak Ani marah.*