TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 176


__ADS_3

Apa yang dikatakan Rey memang benar sekali, kalau Darman yang mengeluarkan Rani dari penjara. Pria itu tidak mau kalau Rani di penjara seperti dirinya, ia awalnya. mendatangi Vito ke rumahnya untuk mengajak anak itu supaya membebaskan Rani dari tahanan. 


Tapi Vito tetap tidak mau  kalau mamanya di keluarkan, kerena ia mendengar sendiri kalau memang Rani bersalah dan harus mempertanggungjawabkan semuanya pada polisi atas kesalahan yang ia pernah di perbuat. 


Darman yang mendengarkan alasan dari Vito, ia benar benar naik pitam sekali kerena Darman tidak menyangka kalau Vito menolak ajakan dirinya untuk mengeluarkan Rani. 


Plak! 


"Kamu seharusnya bantu aku untuk mengeluarkan mama kamu! " Teriak Darman kesal pada Vito. 


"Pak, seharusnya bapak sadar apa yang mama lakukan sama orang lain. Tapi bapak malah ingin mengeluarkan mama dari penjara! " Sembur Vito geram. 


Vito langsung menyerang Darman yang tiba tiba datang tanpa ada pemberitahuannya dulu. Ia merasakan  pipinya terasa panas sekali, karena ditampar oleh Darman. Ia juga tidak menduga kalau laki laki itu tahu alamat rumahnya sedangkan ia sendiri tidak pernah bilang kalau tinggal di rumah ini. 


"Kamu tahu dari mana kalau ini rumah mama?" Tanya Vito tajam. 


"Kamu jangan heran, aku tahu rumah kamu. Kamu seharusnya jangan turuti Anin! " Kata Daraamn tegas. 


"Kamu nggak sayang sama mama kamu, seharusnya kamu lah yang harus balas dendam pada Anin. " Sambung Daraamn menghasut Vito. 


"Kenapa begitu? " 


"Karena ia lah yang harus mempertanggung jawabkan semuanya. Mama kamu masuk ke penjara atas perbuatan Anin, kamu wajib mengeluarkan mama kamu sekarang juga. ' Darman begitu antusias untuk mengeluarkan Rani. 


" Kalau aku nggak mau bagaimana? " Ujar Vito santai. 


Plak! 


Sebuah tamparan mendarat di pipinya Vito. Pemuda itu langsung menjerit seketika, tamparan ini lebih sakit dibandingkan yang tadi, sampai ia berteriak keras saking sakitnya. 


"Pak! Bapak nggak tahu kalau mama terlibat dalam pembunuhan pak Rohman! " Teeiak Vito emosi. 


"Kamu tahu apa?" Tanya Darman tersulut emosi dengan kata kata nya Vito. 


"Bapak yang dulu cerita kalau bapak bunuh papa juga kerena mama? Tapi kenapa bapak malah bela mama yang benar benar salah! " Balik Vito mwngungkit apa yang pernah Darman katakan padanya. 


Pria itu tertegun sejenak ia tidak menyadari kalau ia pernah mengatakan itu pada Vito. Darman hanya mendengus mendengar ikatan emosional Vito pada dirinya, ia sangat lupa kalau ia pernah mengatakan itu pada anak yang ada di hadapannya. 


"Sudahkah, tangkis Darman. 


" Kamu sebenarnya mau nggak melepaskan mama kamu, bapak banyu kok. " Tanya Darman lembut. 


"Vito nggak mau pak, mama harusnya di penjara untuk mempertanggungjawabkan semuanya. " Kata Vito pasrah. 


Pemuda itu benar benar pasrah seklai, ia masih mengingat apa yang dikatakan Zahra padanya. Tentang wanita yang pernah melahitkannya, wanita yang telah membesarkannya tapi itu hanya sebentar saja. Kerena wanita itu langsung memberikan pada orang lain. 

__ADS_1


"Mama harus menjalani hukuman, pak. Seharusnya dulu ia menjalani hukuman itu, tapi demi aku ia harus mengundurkan masa tahanan."


"Bukan aku nggak sayang, ia juga menghalangi saksi kebenarannya. "


Lirih pemuda itu. Darman sangat wmosi mendengar apa yang Vito katakan pada dirinya, biarpun lirih juga tapi masih kedengaran. 


"Kamu lebih bela Anin dibanding akan mama kamu! " 


"Pak, aku dan Anin maupun Zahra juga anaknya papa Hamdi, aku nggak bisa memilih mana yang aku harus pilih. " Kata Vito.


Pemuda itu memang sedang kalut sekali, disisi lain mamanya yang telah melahirkan, dan sisi lain papanya. Jujur ia tidak bisa memilih tapi kalau lihat kejahatan dari mamanya ia lebih baik mamanya Mempertanggungjawabkan dulu pada polisi tentang kesalahan dirinya. 


"Kamu benar benar nggak bisa diharapkan oleh mama kamu." Dengus Darman kesal. 


Sebenarnya kalau Vito mau ia ingin Vito berada di sisinya supaya jadi pilar kemenangan nya tapi melihat pemuda itu keukeuh pada pendiriannya Darman menjadi pesimis. 


"Terserah pandangan bapak terhadapku. Pak, apa mama pernah berpikir kalau ia melakukan sesuatu bakal mendapat ganjaran seperti apa? " 


"Apa mama melakukan pembunuhan nggak berpikir tentang keadaan aku saat aku lahir nanti nya? " 


Oceh Vito kembalikan kata kata Darman yang dikatakan padanya. 


Mendengar apa yang dikatakan Vito, Darman langsung pergi begitu saja dari rumah itu dan menuju ke tahanan dimana Rani berada disana. Ia berusaha untuk mengeluarkan Rani dan diajaka untuk manyun rencana kembali. 


"Kamu benar benar nggak bisa dihatapakan oleh mama kamu," Terhiang kata kata Darman di telinganya tentang mama. 


Vito hanya menghela nafas panjang saat tahu kalau ua Darman bicara itu. 


"Maafkan aku pak, aku hanya ingin mama menyadari semuanya. Kalau. Mengikuti ego sih aku ingin kumpul sama mama kerena nggak mungkin hidup lagi, " Lirih Vito. 


"Aku kangen ayah! " Suara Ana terdengar di telinga nya. 


"Aku nggak sempat melihat ayah, waktu itu aku masih kecil nggak tahu apa apa." Sambung Ana kembali. 


"Waktu itu Vito hanya diam saja kerena ia juga merasakan yang sama seperti Ana. Tapi untuk mengatakan pada Ana ia tidak berani, mengatakan kalau. Ia juga rindu papa. 


"Kamu yang kuat ya. " Hanya itu yang ia katakan pada gadis dihadapannya. 


"Sama kamu juga yang kuat ya, " Balas gadis itu. 


"Na, kamu benar nggak tahu ayah? " Tanya Vito penasaran. 


"Iya aku nggak tahu apa apa tentang ayah." Jujur Ana. 


"Kita senasib! " Sambung Ana lagi. 

__ADS_1


Vito hanya menghela nafas ingat percakapan dengan Ana, beda dengan Zahra yang telah mengingat ayah samar samar. Ya mungkin umur 6 tahun masih telatif muda apalagi ingatan anak anak masih lemah. 


"Aku samar samar sih! Tapi hanya nama yang melekat kuat dalam hatiku, wajah, kulit aku sudah lupa mungkin tidak ingat lagi" Kata zahra menjelaskan. 


"Vit! Aku bakal mengeluarkan mama kamu di penjara ingat itu! Aku bakal bilang apa yang kamu lakukan terhadap dirinya! " 


Vito tertegun sejenak. Ia mengeram saat matanya melihat Darman datang lagi kejadapannya. 


"Kenapa nggak pergi? " Tanya Vito agak sewot. 


Pemuda itu tidak suka melihat darman datang kembali ke rumah itu! Datang tiba tiba tanpa permisi dan pulang juga seperti jelangkung. 


"Kamu nggak suka aku datang lagi ke rumah ini? " Tanya Darman menatap Vito. 


"Bikin onar saja sih orangnya. " Dengus Vito. 


"Siapa yang bikin onar? " 


"Kamu? " Tantang Vito tajam. 


"Kurang ajar! Kamu bilang aku bikin onar? " Darman marah seketika juga. 


"Iya, nggak jelas nya kalau aku bilang bikin onar ya bikin onar! " Ketus Vito. 


Pemuda itu langsung beranjak dari tempat duduknya mau pergi meninggalkan Darman. Tapi Darman dengan cepat langsung memegang tangan Vito dengan cepat, Vito beeongak tapi nihil. 


"Lepaskan! Kamu mau apa? " Teriak Vito beringas. 


"Aku nggak akan biarkan mama kamu mendekap di penjara! " 


"Terserah kalau itu menurut kamu baik ya udah jangan mengajak aku untuk mengeluarkan mama kamu saja! " teriak Vito marah. 


Pemuda itu dengan menghentakan genggaman tanganya tapi  nihil Darman dengan sangat kuat menggenggam tangan Vito sampai pemuda itu meringis kesakitan. 


"Aku nggak akan membiarkan kamu diam saja melihat mama kami menderita seperti ini Vino! " Ujar Darman geram.


Pria itu tidak menyangka kalau Vino bisa seperti tidak peduli pada Rani yang telah berjuang membesarkan dirinya, dan berani menanggung resiko ocehan dari orang lain.. 


"Kalau aku nggak mau bagaimana? Mama yang salah tapi kenapa aku yang harus bertangungjawab! " Teriak Vito kasar. 


"Lepaskan! Kalau kamu nggak lepaskan aku telpon polisi supaya kamu juga si penjara! " Teriak Vito emosi. 


"Anak yang tidak tahu diri! Sudah dibesarkan susah payah malah melawan! " Hardik Darman tidak suka. 


Pria itu akhirnya langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Vito dan pergi begitu saja dengan kesalnya. Ia sebenarnya berharap sekali supaya Vito bisa membantunya tapi nih. *

__ADS_1


__ADS_2