UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
CINTAMU BERAT DIONGKOS


__ADS_3

Aku tak mau salah langkah. Aku akan mendapatkan Ashoery tapi tak menyentuh Vella. ~Laluna~


DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


FLASH BACK ON


Arie baru selesai kuliah. “Seriusan besok tu dosen geser hari?” “Seriuslah. Kan dia minta maaf resmi dan dia oper ke hari Jumat sore. Jadi kemungkinan kita bakal pulang malam banget.” jawab Harllo.


“Rabu kita kuliah jam dua siang kan?” tanya Arie memastikan.


“Yoi Man,” sahut Harllo sambil membereskan alat tulis miliknya.


“Gue cabut ya, langsung mau ke bandara,” Arie bergegas keluar. Dia ingin ke Jogja menyelesaikan masalahnya. Dia tak ingin persoalan makin berlarut. Dan persoalan seperti ini memang tak bisa dibahas by phone. Terlebih Vella tak mau mengangkat panggilan darinya.


“Cintamu berat diongkos Man,” goda Harllo sambil terkekeh.


Sesampai di rumah, Arie menyiapkan baju serta buku untuk kuliah hari Rabu. Karena dia akan berangkat kuliah langsung dari bandara. Selain tentu baju untuk esok selama dia di Jogja.


“Abang seriusan mau berangkat ke Jogja?” tanya Frina. Dia sejak tadi sudah tiba di rumah. Sedang Frani ada kegiatan ekstra kurikuler. Dan lagi mereka memang beda sekolah jadi sekarang sering beda waktu tiba dirumah.


“Serius lah. Abang kangen ama Mbakmu,” jawab Arie sambil beberes. Tadi dia memang bilang minta antar sopir ke bandara dan Frina dengar.


“Tapi kalian jangan ember lho ya. Abang bikin kejutan. Kalau kalian ember enggak surprise namanya,” Arie memberitahu adiknya agar tak membocorkan jadwal keberangkatannya ke Vella.


“Harus ada uang tutup mulutnya kalau mau enggak bocor,” jawab Frina.


“Ha ha ha, kecil-kecil udah belajar malak,” Arie menutup ranselnya dan segera berangkat.


FLASH BACK OFF


“Ya udah, ayok sekarang berangkat kuliah Abang yang anter. Nanti lagi kita ngobrol,” Arie tak ingin Vella bersedih dan terus salah paham.


“Sebentar ya Bang, aku siap-siap dulu. Itu helm Abang di atas lemari,” Vella memberi tahu Arie untuk mengambil helm terlebih dulu.


“Kita pakai mobil aja, biar bisa nyium. Kalau di motor Abang enggak bisa ilangin kangen ama kamu,” jawab Arie dengan senyum usilnya. Kata-kata Arie membuat Vella tersipu. Dia juga sangat merindu dekapan kekasihnya itu.


Seperti niat awal Arie. Begitu Vella masuk ke mobil , Arie langsung mencium bibir kekasihnya. Bibir gadis yang membuat dia kalang kabut karena dua minggu tak bisa dia hubungi.

__ADS_1


“Jangan suka bikin salah terus dong Yank. Katanya mau belajar dewasa,” Arie menasehati kekasihnya.


“Iya Bang. Kan berproses. Enggak bisa instant,” kilah Vella.


“Istirahat jam berapa aja dan pulang jam berapa?” tanya Arie. Dia bawa buku kuliah. Jadi selama Vella dalam kelas Arie juga akan belajar dalam mobilnya agar menunggu tak terasa membosankan.


“Jam setengah sepuluh rehat. Jam sepuluh masuk lagi. Jam dua belas pulang,” sahut Vella.


“Istirahat kita minum di kantin ya,” pinta Arie.


“Oke,” sahut Vella. Dia malah senang bila Arie turun. Akan dia perlihatkan pemilik hatinya.


***


“Kalian ke kantin kan? Aku nanti ke kantin. Siapkan dua kursi untukku ya,” pinta Vella pada Anis dan Surti saat dosen baru saja keluar ruangan.


“Kamu enggak bawa bekal?” tanya Anis dan Surti hampir bersamaan.


“Bekalku dirampok orang. Aku jemput perampoknya, kalian tunggu di kantin ya,” Vella berlari ke parkiran. Dia sudah kirim pesan pada Arie kalau dia sudah selesai pelajaran jam pertama.


“Surti, Anis, kenalin calon suamiku,” Vella yang baru datang bersama Arie mengagetkan kedua sahabatnya.


“Hallo. Assalamu’alaykum,” sapa Arie dengan senyum manisnya.


“Nge juice aja ya?” bisik Vella yang diangguki Arie.


“Habis ini kalian satu kelas lagi dengan Vella?” tanya Arie. Karena kedua teman Vella seperti kehilangan pita suara.


“Saya beda kelas,” sahut Anis.


“Sudah dibayar Yank?” tanya Arie lembut saat Vella membawakan juice mangga untukknya.


“Sudah,” sahut Vella.


“Vella pernah ditanya teman lelaki di kelas saat perkenalan, dia bilang akan menikah tahun depan, apa benar?” tanya Surti pada Arie. Mulut Surti memang  tak ada rem. Koplingnya pun kadang enggak pas he he.


“Bisa jadi gitu. Sebenarnya kalau boleh sebelum dia kuliah di Jogja. Tapi keluarga saya sedang sibuk. Dua kakak sepupu saya menikah bulan depan dan bulan berikutnya. Jadi saya diantrian ketiga,” sahut Arie sambil memandang Vella dengan tatapan penuh cinta.


“Ashoery …,” sapaan lembut tapi cukup keras terdengar dekat meja mereka.


“Kamu rajin ya ke Jogja, bukannya lagi sibuk mau co *** ya,” gadis yang masih berdiri itu bertkata seakan yang paling tahu.

__ADS_1


“Sesibuk apa pun, kalau kangen ama calon istri, kosong waktu dikit, ya langsung beli tiket pesawatlah,” jawab Arie santai.


‘Ngapain lagi dia negur aku? Bisa ngambeg lagi Vella melihat dia menyapaku,' Arie kesal disapa Laluna. Kalau saja Vella tak pernah mendengar kata-kata niatan Laluna, mungkin tak jadi soal baginya.


“Kamu seriusan mau nikah ama anak kecil?” dengan mencibir Luna berkata sinis.


“Alhamdulillah super serius. Malah ibuku yang enggak sabar punya menantu dia. Dia kesayangan ibuku,” sahut Arie sambil meraih tangan Vella untuk dia genggam.


“Anak kecil yang kamu bilang itu punya nama. Dan namanya sudah tertulis di buku takdirku sebagai nyonya Ashoery,” jelas sekali Arie memberitahu Luna keputusan hatinya.


“Vella. Kita balik kelas yok. Disini pengap kayak Merapi mau erupsi. Nanti ada lava turun kita enggak bisa menghindar,” Surti yang memang bermulut pedas segera mengajak Vella kembali.


“Abang, Ade masuk kelas dulu ya. Abang mau disini atau balik kerumah pakde dulu?” tanya Vella. Seakan dia tak rela kalau Arie menunggu di kampus dan Luna terus mengikutinya.


“Abang tunggu kamu di mobil aja. Mending kunci pintu mobil daripada disini kena debu vulkanik erupsi Merapi,” sahut Arie mengambil kiasan yang Surti gunakan.


Vella, Surti, Anis dan Arie beranjak dari kantin meninggalkan Luna yang makin kesal karena Arie sekarang berani menolaknya. Dulu saat SMA Arie tak menolak seperti itu. Hanya menghindar dan menjauh.


Menerima penolakan pertama dari Arie tentu menyakitkan bagi Luna.


“Dia kesayangan ibuku,” Luna mengingat perkataan Arie. Dia dengar soal kekasih Arie yang dua minggu lalu dilabrak Titie.


Luna juga sudah mendengar jelas kalau gadis itu tak bergerak apa pun, yang bergerak malah calon ibu mertuanya serta para bude calon suaminya. Luna tahu yang dimaksud calon ibu mertua dan para budenya adalah ibunya Arie dan bude-budenya Arie.


Luna tak mau ambil resiko menyentuh Vella. Dia takut gelombang dibelakan gadis itu akan menggulungnya.


‘Aku akan mencari cara mendapatkan Arie tanpa menyentuh gadis sia-lan itu. Kalau Ashoery yang bisa aku jebak, bukan salahku kalau aku yang harus menikah dengan Ashoery,’ demikian tekad Luna.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL THE BLESSING OF PICKPOCKETING  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  THE BLESSING OF PICKPOCKETING  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2