UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
ABANG TAKUT DIABETES


__ADS_3

Belajar menjalin hubungan bukan hanya belajar mengerti sifat pasangan, tapi juga belajar menekan emosi. Itu yang masih sulit aku kuasai. Tapi aku akan terus belajar. ~Novella Moraletta~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Sehabis makan malam Arie melajukan mobilnya pelan, siang tadi dia melihat TUGU LAWET.atau Tugu Walet atau KUPU TARUNG adalah sebuah tugu atau monumen yang berada di Kabupaten Kebumen,


Keberadaan tugu ini berkaitan erat dengan potensi yang dimiliki Kabupaten Kebumen yaitu penghasil sarang Burung lawet. Burung Lawet adalah Burung walet dalam bahasa setempat, burung laut dari keluarga Apodidae yang sarangnya selalu diburu dan harganya sangat mahal.


Tugu Lawet berada di simpang empat pusat Kota Kebumen sehingga akan dapat dijumpai dengan mudah. Bila dari arah Kutoarjo menuju arah Sokka, desa rumah Yoyok berada pasti akan melalui tugu ini.


Arie ingin melihat keindahan tugu ini saat malam hari. Sehabis sedikit memutar melihat Kebumen di waktu malam, Arie baru melajukan mobil ke arah rumah eyangnya Vella.


***



Pagi ini sarapan yang Kamila sediakan bukan nasi atau jenang. Hanya serabi kampung khas Sokka. Serabi yang memang baru saja diantar penjualnya ini masih panas. Ada yang serabi gurih. Ada serabi yang diberi irisan gula merah didalam adonannya. Ada serabi yang diberi irisan pisang dan ada serabi yang diberi irisan buah nangka matang.


“Abang, kalau suka manis, ini ada juruh ( kuah gula merah kental ),” Vella memberitahu Arie serabi khas kampung kakeknya.


“Abang takut diabetes. Tiap hari udah liatin kamu yang super manis,” bisik Arie lebay.


“Abang ih, nanti eyang denger lho,” Vella ikut berbisik. Walau dia sangat suka digombalin Arie seperti itu.


“Denger juga enggak apa-apa. Wong kenyataan. Bukan bohong,” jawab Arie sambil mengambil serabi yang menggunakan irisan buah nangka lalu di siram dengan kuah gula merah kental.


“Kamu hari ini jadinya kemana Vell?” tanya Yoyok. Semalam mereka mengobrol dan Vella bilang mau mengajak Arie berkunjung ke destinasi wisata di kota Kebumen ini.


“Hari ini ke dua tempat Eyang. Mau ke BENTENG VAN DER WIJK dan GUA JATIJAJAR aja,” jawab Vella.


***

__ADS_1


“Udah pakai sun block Yank?” Arie mengingatkan kekasihnya agar kulitnya tak rusak terpapar sinar matahari siang ini. Mereka berangkat sehabis sarapan.


“Udah. Dan ini juga dibawa koq. Nanti sehabis salat akan dioles ulang,” sahut Vella.


“Wah itu bangkoangnya putih-putih amat,” Arie memperhatikan penjaja bangkoang ditepi jalan. Walaupun berupa akar atau umbi, dalam bahasa sehari-hari bangkoang disebut buah, padahal dia bukan berasal dari bunga. Seharusnya yang disebut buah adalah yang berasal dari bunga.


“Kalau sepanjang jalan ke Bogor yang banyak talas dan pisang ya Bang,” sahut Vella.


“Tergantung musim juga Yank. Kadang banyak juga manggis dan rambutan. Atau kamu pas bonbin ( kebon binatang ) Ragunan, disana hampir sama tuh komoditinya. Malah disana lebih sering terlihat buah gandaria, menteng, buni dan yang sudah jarang ditemukan misal jamblang, gowok bahkan kesemek,” jawab Arie. Dia memang sering melalui jalan Ragunan bila akan ke sekolah atlit. Semester lalu dia sering kesana untuk praktek di sekolah atlit.


“Mampir isi bensin sebentar ya,” Arie izin pada kekasihnya membelokkan mobil ke pom bensin.


“Abang, aku turun ya?” Vella ingin ke ATM, dia takut uangnya kurang bila ingin sesuatu di dua lokasi wisata yang ingin mereka datangi.


“Mau apa?” tanya Arie bingung. Mereka masih antri.


“Ke ATM sebentar, Abang tunggu di pintu keluar aja nanti aku kesana,” jawab Vella.


“Full Mas,” pinta Arie pada penjaga pompa bensin.


“Mau apa sih ambil uang? Abang bawa uang cash cukup koq,” Arie jadi bingung mengapa Vella butuh uang.


“Kalau Ade mau jajan atau beli sesuatu, takutnya uang Ade enggak cukup,” jawab Vella. Vella bukan gadis boros. Tanpa pernah merengek uang bulanan dari daddynya berlebih. Dia juga tidak konsumtif. Kalau dirasa tak butuh maka dia tak akan membeli. Bahkan dia sering berbagi dalam diam. Seperti ketika berpisah dengan Siena. Dia memasukkan amplop tebal di tas sahabatnya itu.


“Emang kamu bakal beli apa disana? Apa jajanannya sangat mahal?” Arie tentu bingung. Disakunya masih cukup uang cash kalau untuk makan sampai malam dan jajan sekenyang-kenyangnya.


“Ya sudah enggak jadi ke ATM,” sahut Vella. Dia tak mau ribut dengan Arie.


“Sayank, Abang cuma tanya. Ini sudah berhenti di ATM. Ada ATM bank mu enggak, kalau enggak ada kasih tau, nanti Abang akan belokin kalau lihat ada ATM nya,” Arie memang sudah menepikan mobilnya.


“Enggak jadi. Ayok jalan aja,” sahut Vella sambil tersenyum. Vella tak ingin Arie melihat wajah masamnya. Tapi Arie tahu kalau Vella marah hanya tak diperlihatkan.


Arie melanjutkan perjalanan, tapi sejak keluar dari pompa bensin, Vella sudah malas bicara. “Yank, mau balik pulang atau mau masuk ke benteng?” tanya Arie. Buat apa mereka ke obyek wisata bila sedang marah?

__ADS_1


“Kenapa mau balik?” tanya Vella bingung.


“Kamu sejak kita keluar dari pompa bensin tu cuma diem lho. Ngapain kita masuk ke benteng kalau kamu marah?” tanya Arie dengaan sabar.


“Ade enggak marah koq,” sahut Vella cepat. Dari tadi dia kesal dan dia lupa jadi diam sepanjang jalan.


“Sekarang kamu butuh uang cash berapa? Satu juta? Dua juta? Pakai uang Abang. Kalau enggak enak, kamu transfer ke rekening Abang biar enggak merasa hutang,” jawab Arie sambil mengambil dompet dari sling bagnya.


“Enggak … enggak, uangku cukup,” sahut Vella. Dia janji pada diri sendiri tak ingin beli apa pun sehingga tidak perlu dibayari oleh Arie. Uang cash di dompetnya hanya sisa 230.000 rupiah saja. Dia harus irit. Nanti saat sampai rumah, dia akan pergi ke ATM naik motor saja sendirian saat Arie ke masjid.


‘Kalau di kota besar enggak bawa uang cash kita bayar pakai debet card. Kalau mau jajan gimana pakai debet?’ batin Vella.


“Ayok kita turun,” Vella langsung membuka seat belt nya dan membuka pintu mobil. Dia tak ingin Arie mengetahui kalau dia masih kesal.


Arie membeli tiket masuk, lalu memeluk bahu kekasihnya. Dia masih bertanya-tanya mengapa Vella belum bisa terbuka pada dirinya,


“Woow, peninggalan sejarah yang sangat terawat,” Arie memperhatikan denah dan papan pemberitahun info sejarah BENTENG VAN DER WIJCK ini.  Benteng Van der Wijck ini memang tampak istimewa, berbeda dengan yang lain. Benteng peninggalan Belanda itu diperkirakan dibangun pada 1827 oleh arsitek Islam.


Bentuknya segi delapan, mirip Masjidil Haram. Jika dilihat dengan kompas Islam, pintu benteng tepat menghadap ke arah kiblat. Di dunia hanya ada dua benteng segi delapan. Satunya ada di Australia.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNCOMPLETED STORY  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2