
Aku bersyukur Mora akan kuliah di Jogja. Setidaknya intensitas pertemuannya denganku akan berkurang. Aku masih tak nyaman dengan permintaannya kala itu. Dia telah salah mengambil kesimpulan.
Secepatnya aku harus memberitahu dia siapa diriku sebenarnya. Aku tak ingin dia melupakan istriku! ~Endro Herminanto Mulyo~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Mau cari apa?” tanya Arie tak semangat.
“Cari komik,” sahut Frani cepat. Entah bagaimana si bungsu tiba-tiba juga sudah berada disisinya.
“Oke siaaaap tuan puteri,” sahut Arie. Bila tak ada janji terlebih dulu, memang Arie selalu mengabulkan permintaan kedua adik kembarnya ini.
“Ibu ikut ya,” rupanya ibunya juga ingin jalan dengan ketiga anaknya.
“Ibu pacaran aja di rumah sama ayah,” Arie menggoda sang ibu. Tentu dia tak akan menolak mengawal tiga bidadari dalam hidupnya itu.
“Kalau begitu Ayah juga ikut,” tetiba sang ayah juga ingin ikut bergabung dengan anak dan istrinya.
“Asyik, kalau big boss turun gunung begini,” Arie pun senang. Dan kalau mereka pergi berlima tentu tak bisa menggunakan mobil sport miliknya.
Mereka pun keluar rumah dengan mobil keluarga, bukan dengan mobil sport Arie atau mobil kerja milik ibu atau ayahnya.
***
“Maaf Mbak, semua pergi,” satpam di rumah Arie memberitahu Serena kalau Arie dan keluarganya sedang tak ada di rumah sejak siang tadi.
“Menginap enggak ya Pak?” tanya Serena. Bila tak menginap tentu dia bisa datang kembali esok hari.
“Wah kalau pergi hari Sabtu siang dengan Bapak, walau enggak niat nginap, biasanya bisa langsung menginap sih Mbak. Atau pulang besok pagi, jadi siang enggak mau diganggu karena ingin tidur,” jawab pak Satpam. Dia tak ingin dimarahi terima tamu padahal tuan rumah ingin tidur tak terganggu.
“Ok, baiklah,” sahut Serena dan dia segera pamit dari rumah sahabatnya itu. Dia memang tahu beberapa kali Arie pergi tanpa niat menginap, tapi bila dengan ayahnya, kadang mereka akan nyangkut di hotel.
__ADS_1
***
Vella sedang meeting keluarga, Endro sang daddy memprakarsai video call dalam group keluarga. Topiknya membahas tentang jurusan yang akan Vella ambil di perguruan tinggi nanti. Ini memang harus segera dibahas karena esok hari Senin, Vella akan mulai mengurus surat rekomendasi dari sekolahnya.
“Kalau mau di Indonesia, ya kamu ambil yang fakultas hukum aja. Karena kalau ambil kedokteran, sepertinya bukan passionmu,” Kamila memberi masukkan.
“Tapi kalau mau ambil di luar negeri, kamu bisa di Aussie atau Paris,” lanjut Kamila.
“Atau kamu ikut jalur pendaftaran normal di UI,” Rita memberi masukkan. Dia sedang bisa bergabung karena semua anaknya sudah tidur.
“Kami yang mendapat beasiswa sadar, kalau kami masih mengambil atau ikut mendaftar jalur biasa, kami menutup satu kesempatan bagi orang lain. Dan kami tak mau. Jadi kalau soal mendaftar normal di perguruan negeri lainnya itu tak akan aku lakukan,” jawab Vella bijak.
“Mengapa kamu memilih dua fakultas yang berbeda saat mengisi form untuk beasiswa?” tanya Endro pada putrinya. Dia ingat, fakultas hukum adalah pilihan Laras ibu biologis Vella.
“Sebenarnya aku hanya ingin di fakultas hukum saja. Bahkan yang untuk UI, aku juga isi fakultas hukum. Tapi koq penasaran dengan fakultas kedokteran, maka yang di UNDIP aku isi itu,” sahut Vella.
“Fix, kamu berat di fakultas hukum ‘kan De?” cecar Bagas. Dia langsung menyimpulkan adiknya memang inginnya di fakultas hukum.
“Lha kalau sudah jelas memang beratnya di fakultas hukum, ya langsung putuskan saja ambil yang di UGM. Biar nanti kami carikan rumah kost terbaik dan terdekat dengan kampusmu,” Seto langsung memutuskan adiknya untuk kuliah di UGM.
“Sekarang kamu pikirkan dulu semuanya. Maunya ambil jurusan apa. Kita sudah bantu kamu buat memantabkan diri di fakultas hukum. Kamu malah labil ingin ke design mode,” Nungki sang kakak ipar minta Vella ambil keputusan lebih dulu agar suaminya tak sia-sia cari info soal kost putri di Jogja.
Seto dan Bagas serta istri mereka sama-sama alumni UGM. Mereka akan mencarikan kamar kost putri terbaik di kota pelajar yang terkenal sebagai kota gudeg itu.
Akhirnya setelah diskusi yang sangat alot diputuskan, Vella akan kuliah di Jogja. Yang mencari kamar kost adalah Pras dan Bagas karena Seto lebih repot dari Bagas.
Endro juga akan memfasilitasi Vella dengan motor baru berplat AB. Yang di Jakarta akan dia jual karena menggunakan nomor luar kota lebih riskan terhadap razia. Sedang dia tak mau memberikan izin membawa mobil saat kuliah. Terlalu mewah. Dia tak ingin putrinya berbeda dengan teman-temannya lalu nanti membuat kesenjangan sosial.
***
“Seriusan Serena mempunyai kemampuan tiga bahasa diluar bahasa Inggris?” tanya Faisal. Mereka sedang di mobil, Faisal meminta Firza menjemputnya di bandara. Tak seperti biasa driver yang menjemput Faisal dan Susy.
“Serius lah. Aku malah mengira dia bisa bahasa lain. Yang ada di CV ( curriculum vitae atau daftar riwayat hidup ) miliknya memang dia hanya mencantumkan bisa bahasa Inggris, Jepang, Mandarin dan Arab,” jawab Firza.
__ADS_1
“Kamu bener pacaran dengan Serena?” tanya Susy. Dia masih tak percaya sering meninggalkan pesan pada gadis itu untuk mengingatkan Firza kencan buta yang dia atur bagi putranya.
“Apa Mama pikir kami bersandiwara?” Firza baru sadar, ini alasan Faisal memintanya menjemput ke bandara. Karena mereka memang sulit menyuruhnya datang ke rumah utama. Firza lebih suka tinggal di rumah miliknya sendiri.
“Bukan begitu, Mama jadi merasa bersalah ke Serena karena sering nyuruh dia ingetin waktu buat kamu kencan dengan anak perempuan teman Mama,” sahut Susy dengan rasa bersalah.
“Itulah kalian. Maunya menang sendiri. Enggak pernah mikir apa yang anaknya mau,” jawab Firza datar.
“Ya mana Mama tahu,” Susy tetap tak mau kalah walau sadar dia telah salah.
“Kamu makan malam di rumah ya. Atau lebih bagus lagi kalau kamu menginap malam ini,” pinta Susy. Saat ini masih sore. Baru jam empat.
“Enggak bisa. Papa sama Mama sudah ganggu jadwal kencanku. Harusnya aku makan siang dengan Rene, tapi sejak pagi harus berangkat ke bandara menjemput kalian. Kayak enggak punya sopir aja. Satu sopir berhalangan yang dua kan nganggur! Belum lagi di bandara mau naik taxi model apa aja ada. Tapi malah ganggu aku,” Firza malas kalau harus tinggal di rumahnya.
Firza memang tak nyaman sejak kakak-kakak sepupunya sering datang dan meminta jatah hidup pada ayahnya. Mereka sudah menikah, tapi jiwa pengemisnya makin subur. Senangnya menadah tangan pada mama dan papanya.
“Ya sekali-sekali lah makan dengan kakak-kakakmu,” bujuk Susy pada Firza putra tunggalnya itu. Dia ingin Firza dekat dengan kakak-kakanya kembali.
“Mereka bukan kakakku. Dan kasih tahu mereka, tak usah punya imam kalau masih enggak sanggup hidup miskin. Sudah nikah kerjanya menadah tangan aja,” Firza tak keberatan sejak kecil para keponakan ayahnya ditampung di rumah. Tapi dia mulai tak suka ketika mereka sudah menikah tetap jadi benalu.
\====================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta