
Zaman modern memang lebih mudah, cukup dengan mengirim pesan lewat sms, WA, telegram, line atau media sosial lainnya kadang kita sudah bisa menjelaskan sesuatu.
KADANG! Bukan berarti semua hal!
Tetap ada yang harus disampaikan secara lisan face to face. Dan aku melupakan hal itu. ~Harllo Putranto Sukardi~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
‘Mereka sedang makan di kantin kampus fakultas ekonomi,’ Harllo mengirim pesan pada Arie, karena dia tahu sahabatnya masih belum tiba kembali lagi di kampus.
‘Temui aku di kantin fakultas ekonomi sekarang! Penting!’ Arie langsung mengirim sebuah pesan pada seseorang.
Vella and her genks sudah memesan menu makan siang masing-masing. Saat itu Risye melihat Asih datang baru turun dari mobilnya.
“Kak Asih,” pekik Risye yang memang sudah mengenal Asih sejak lima tahun lalu, saat Harllo kakaknya kelas sebelas SMA dan belajar kelompok dengan Asih di rumah mereka. Saat kelas sepuluh Asih dan Harllo belum saling kenal dan dekat.
“Hai Ris, kamu mau ambil kuliah disini?” tanya Asih sambil menghampiri ‘calon adik iparnya’ itu. Ya Asih sangat berharap Risye bisa menjadi adik iparnya.
“Enggak Kak. Aku antar teman-temanku aja, aku lulus di IPB,” sahut Risye ramah pada sahabat kakaknya itu.
“Wah senangnya kuliah di Bogor. Kamu akan kost atau pulang pergi?” tanya Asih.
“Enggak tahu Kak. Eh kenalkan teman-temanku Kak,” Risye mengenalkan genks-nya pada Asih.
“Kakak mau makan siang?” tanya Risye. “Pesanan kami sudah datang, kami makan duluan Kak.”
“Silakan kalian makan duluan. Kakak sedang janjian dengan sahabat Kakak. Nanti Kakak akan makan dengan dia kalau dia belum makan,” sahut Asih sambil memesan es cendol untuk dirinya.
“Rie.” teriak Asih saat melihat Arie membuka helmnya. Lelaki tampan itu masih duduk diatas motornya.
Vella kaget melihat Arie mendatangi mereka dan ternyata janjian dengan Asih yang baru dikenalkan Risye tadi.
“Udah lama?” tanya Arie sambil duduk di seberang Asih.
__ADS_1
“Baru. Mau makan siang bareng enggak? Apa loe udah makan?” tanya Asih ber lo gue.
‘Kalau kak Asih pacarnya, enggak mungkin kan mereka menggunakan bahasa lo gue?’ pikir Vella.
“Hei, kalian satu SMA dengan Kakak ya, apa khabar?” Arie berbasa basi pada Risyed an genks-nya.
“Baik Kak,” hampir barengan mereka menjawab.
“Ris, abangmu kemana?” tanya Arie, seakan dia tidak tahu kalau hari ini Harllo tidak ke kampus.
“Abang hari ini jaga rumah, karena mama antar de’ Carlo ke rumah Enin,” sahut Risye.
“Jadi loe enggak janjian ama Harllo?” tanya Arie pada Asih.
“Enggak. Gue pikir elo udah hubungi dia,” jawab Asih santai.
“Harusnya elo lebih aktiv. Gimana kalian mau jadian kalo elo nunggu gue ngebantu terus?” tanya Arie sambil menuliskan pesanan untuk dia makan siang.
Akhirnya Arie sibuk membahas rencana kelompok kerjanya dengan Asih sambil makan siang. Sesekali dia memperhatikan Vella. Dia melihat gadis itu tetap ceria di depan semua temannya.
Memang Arie sengaja minta Asih datang ke kantin ini agar dia lebih mudah mendekati Vella. Dia tahu Asih kenal dekat dengan Risye. Jadi bisa dipastikan Asih akan duduk dekat dengan Vella. Arie juga tahu kalau Harllo siang ini tidak ke kampus karena toko sembako di rumahnya tak ada yang menunggu sebab ibunya harus pergi ke rumah neneknya Harllo.
“Kalian mau kemana?” tanya Arie pada adik-adik kelasnya itu.
“Mau beli form pendaftaran Kak,” sahut Dian yang memang berkepentingan membeli formulir. Tak seperti Vella dan Risye.
“Vella, kamu pasti enggak beli formulir. Kakak ingin bicara berdua denganmu sebentar. Penting,” tanpa Vella duga Arie meminta waktu agar bisa bicara berdua dengan Vella.
"Kalian yang mau beli formulir biar diantar kak Asih. Nanti sesudahnya kalian jemput lagi Vella disini,” Arie juga sengaja ‘mengusir’ Asih agar dia bisa bicara dengan Vella.
“Ayok, kalian naik mobil cowboy Kakak aja. Lebih mantab dari pada mobil mewah kalian,” Asih mengajak kelima anak yang baru lulus SMA itu naik mobil lapangan miliknya. Sebuah mobil land rover devender yang memang biasa digunakan di medan berat.
Asih senang mobil besar ini karena saat mengunjungi daerah terpencil hanya mobilnya yang bisa digunakan. Walau mobil ini juga buka mobil murah, tapi memang tidak umum digunakan anak gadis.
Sebagai calon dokter muda dia memang sering terjun ke lokasi yang sulit di jangkau oleh mobil mewah zaman sekarang.
__ADS_1
“Serius Kakak pakai mobil seperti ini?” seorang teman Risye bertanya.
“Iya, kalau ke lapangan, mobil ini yang banyak membantu. Kalau hari-hari Kakak lebih senang pakai ojek online aja. Enggak ribet. Enggak perlu mikir parkir atau macet,” sahut Risye. Dia mengantarkan anggota genks ke bagian administrasi mahasiswa sesuai keinginan mereka.
***
“Kenapa nomor Kakak kamu blokir? Kakak salah apa?” tanya Arie. Vella memang tak bisa membantah ketika dengan tegas Arie memintanya bicara. Dia tak ingin penolakkannya membuat semua temannya curiga.
“Enggak ada lagi yang perlu kita bicarakan,” sahut Vella ketus.
“Kita masih perlu bicara. Setidaknya Kakak perlu bicara. Malam itu kamu langsung blokir nomor Kakak begitu kamu mendengar pengakuan Serena. Kamu tidak tanya ke Kakak atau kamu enggak mau dengar penjelasan Kakak. Saat mendengar itu Kakak langsung hubungi nomormu untuk menjelaskan. Tapi kamu sudah lebih dulu marah,” Arie berpanjang kata memberitahu kalau dia saat itu langsung menghubungi Vella.
“Nov, ( Arie memang memanggil Vella dengan Nov, kadang Novy ), Serena mengatakan hal itu untuk menghindari bossnya yang dia bilang mengejar dirinya. Kakak saat itu enggak langsung bantah karena Serena sudah minta izin Kakak dua minggu sebelumnya. Kakak diam saat itu bukan membenarkan perkataan Serena. Tapi karena Kakak sudah tahu sandiwaranya,” Arie melanjutkan bicara dan Vella masih tetap diam. Dia tahu gadis itu mendengarkan dengan saksama.
“Please percaya Kakak. Kakak dan Serena itu sahabatan. Kalau tak percaya kamu lihat miscall dan pesan-pesan Serena. Bahkan Kakak belum buka banyak pesan darinya karena Kakak kesal atas pengakuan dia didepanmu yang membuatmu salah paham,” Arie membuka daftar panggilan masuk dan dia perlihatkan pada Vella.
Lalu Arie juga memperlihatkan pesan WA Serena yang belum dia buka. “Please jangan salah paham. Kakak enggak pernah bohong sama kamu. Kakak dan Serena sahabatan sejak kami SMP.”
Vella diam. Dia jadi tak enak terhadap kesalah pahaman yang telah terjadi lebih dari dua minggu ini.
“Maaf,” hanya sepatah kata yang bisa diucap lirih oleh Vella. Tapi Arie jelas mendengar karena dia konsen penuh.
“Harusnya kamu enggak langsung marah. Harusnya kamu tanya dulu ke Kakak,” Arie masih saja sedikit kesal karena Vella sempat menjauh.
“Aku enggak pengen jadi orang ketiga. Walau diantara kita belum ada hubungan apa-apa. Tapi kalau ada orang ketiga itu bisa memicu keretakkan. Aku enggak mau itu terjadi,” jawab Vella.
\==================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta