UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
COTO MAKASAR


__ADS_3

Sudah ku kirim signal itu. Akankah dia bisa menangkap isyaratku itu? ~Helmi Muchlis Tanjung~


DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Vella, Siena, Helmi dan Baskoro terlibat pembicaraan tentang dunia seputar kampus, dimana cari buku murah berkualitas dan segala macam kegiatan yang menunjang perkuliahan. Annisa hanya mendengarkan. Dia tetap ikut duduk di ruang tamu sementara


Raffli dan Laras duduk di depan kamar Siena di belakang. Raffli membaca buku sementara Laras menonton film kartun di laptop Vella.


Annisa kebelakang. Dia panaskan cotonya. Semua makanan sudah dia atur di meja makan kecuali coto. Meja makannya Annisa beli dari orang yang berkeliling dengan motor. Meja kayu tipis dengan harga sangat murah. Jangan tanya kekuatannya. Meja ini memang sekedar punya dulu.


Kursi yang digunakan adalah kursi lipat yang Siena beli di barkas ( barang bekas ) masih sangat bagus kondisinya. Siena beli setengah lusin atau enam piece saja.


“Ayok makan. Kita cobain menu daerah asal kami ya,” Annisa mengajak semua makan. Walau ada ketupat, Annisa tetap menyediakan sedikit nasi.


“Wah mantap Tante,” Helmi langsung bereaksi.


“Ade mau nasi atau ketupat buat makan coto-nya?” tanya Vella. Dia mendahulukan adiknya.


“Ketupat wae Mbak, sedikit,” jawab Laras.

__ADS_1


“Segini ya?” tanya Vella yang dijawab anggukan oleh adiknya.


“Ayah, mau Mbak Ambilin nasi atau ketupat?” tanya Vella.


“Ayah biar ambil sendiri aja Mbak,” jawab Baskoro. Dia cukup puas melihat kedua putrinya saling sayang.


***


Baskoro dan Helmi pulang menjelang maghrib. Karena ada saja yang mereka bicarakan. Sore tadi Vella membuat bakwan jagung manis untuk cemilan sore teman minum teh.


“Mbak beneran bilang ke daddy bakal pulang besok?” tanya Baskoro saat hendak pamit pulang.


“Serius Yah, lagian daddy tu tiap malam kan telepon, jadi pasti ketahuan Mbak ada dimana,” jawab Vella.


“Iya Mbak. Tapi aku pengennya, kita beli bareng,” pinta Laras.


“Iya, nanti kita ke toko buku belakang taman pintar. Katanya disana banyak buku bekas murah,” sahut Vella.


“Nunggu liburan?” tanya Laras.


“Nunggu Mbak selesai mid test ya? Kita kesana pas hari Sabtu sesudah Mbak enggak test,” jawab Vella.


“Oke.”

__ADS_1


***


Vella dan Siena kembali memanaskan coto untuk makan malam mereka berempat. Sengaja Annisa tak masak baru agar taak ada makanan bersisa untuk besok.


“Malam ini usahakan makan ketupatnya aja, biar besok nasi bisa untuk bikin nasi goreng saat sarapan,” usul Vella. Dia sudah terbiasa dididik eyang Kamila dan mama Nungky soal pengaturan makanan. Jadi tanpa perlu diperintah hal seperti itu sudah terbiasa pada dirinya.


“Bener banget Vell. Jadi kita tidak banyak membuang sisa makanan. Walau biasanya Bunda enggak akan buang koq. Akan Bunda olah jadi makanan lainnya,” sahut Annisa.


“Wah sepaham dengan eyang dan mama, jadi aku terbiasa seperti itu. Aku juga enggak akan buang makanan. Karena masih banyak orang yang kesulitan makan, mengapa kita sombong membuang makanan? Maka Vella upayakan jangan ada makanan yang sampai basi,” sahut Vella.


Kalau sudah basi tentu tak bisa diolah lagi menjadi makanan lainnya.


“Wah Bunda sudah punya sekutu nih. Bagus Vell Bunda setuju banget denganmu,” mereka lalu makan malam sambil bercerita ringan. Ada yang berubah dalam diri Siena. Dia merasa perhatian Helmi bukan sekedar teman. Itu membuat konsentrasinya sedikit terpecah.


Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta


Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA  ya.


__ADS_1


Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA itu ya.


__ADS_2