
Aku pernah dengar tembang lawas yang mengatakan bila cinta melekat maka … kucing rasa coklat. Ha ha ha, sekarang Abang bilang kalau siapa pun tak ada yang bisa mencegah datangnya rasa rindu. Tapi aku menyetujui kata-katanya itu. ~Novella Moraletta~
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Minggu selanjutnya kehidupan Vella tenang. Tak ada lagi tragedy. Yang ada hanya senyum dan kebahagiaan. Dia semakin nyaman dengan kehidupan kuliahnya. Hubungan dengan genknya tetap akrab terjaga. Tak ada yang berubah.
Minggu depan pernikahan Tini dan Erlangga akan diselenggarakan di rumah mempelai perempuan. Endro akan datang karena pakde Guruh mengundangnya. Vella sudah menjahit pakaian seragam dari pihak pengantin perempuan.
Sejak hari Rabu sore ibu Wiedo dan kedua adik kembar Arie sudah tiba di Jogja. Tentu kali ini mereka tak bisa menginap di rumah pakde Guruh karena banyak kerabat jauh yang juga menginap disana. Mereka mengambil hotel agar lebih nyaman.
Kali ini mereka menginap di daerah Dagen, Malioboro. Karena si kembar ingin leluasa jalan-jalan bila ibu mereka sibuk.
Arie dan Mahesa -ayahnya- belum bisa ikut bergabung hari Rabu. Arie akan terbang hari Jumat malam dan Mahesa akan terbang hari Sabtu pagi.
Vella tentu ikut sibuk. Pada kesempatan ini dia jadi mulai akrab dengan calon istri Lutfi karena beberapa kali mereka bertemu.
Daddy baru bisa ke Jogja hari Jumat malam. Kamu mau titip apa?” tanya Endro pada saat mereka sedang telepon rutin setiap malam.
“Enggak ada yang dipenginin. Eh ada. Tapi nanti Daddy repot bawanya,” sahut Vella.
“Apa?” tanya Endro.
__ADS_1
“Mobilku,” jawab Vella sambil nyengir.
“Ha ha ha, ngimpi aja dulu,” goda Endro. Endro tiap malam selalu bertanya bagaimana perkembangan hubungan Vella dengan Ibas. Tapi Vella jawab enggak ada perkembangan lagi. Mereka jarang ngobrol karena memang Vella tak ingin ada rumors baru.
Vella malah lebih sering bertukar cerita dengan Laras adiknya melalui telepon rumah Baskoro.
Hari yang Vella tunggu tiba. Endro dan Arie datang dengan selisih waktu penerbangan satu jam. Arie lebih dulu. Maka Vella sengaja menjemputnya dan mereka duduk ngobrol di bandara menunggu kedatangan Endro.
“Sehat Yank?” tanya Arie saat mereka baru bertemu.
“Alhamdulillah,” jawab Vella dengan senyum manisnya.
“Kangen,” bisik Arie ditelinga kekasihnya saat dia memeluk tubuh Vella. Mendengar itu Vella mengeratkan pelukkannya. Dia pun merasakan hal yang sama dengan Arie.
“Kita tunggu daddy disana aja Bang, sambil ngemil,” Vella mengajak Arie untuk ke gerai kopi yang berada di bandara.
“Iya. Mumpung semua bisa ngumpul ya Bang,” sahut Vella. Ternyata ketika di Jakarta yang ngobrol hanya Mahesa dan Endro serta Arie. Wiedo tak ikut ngumpul.
***
Endro dan Arie menginap di hotel yang sama dengan Wiedo. Bahkan Wiedo yang membookingkan kamar untuk ke dua lelaki itu sebelum ke dua orang itu tiba.
Maka Vella pun tinggal di hotel itu satu kamar dengan si kembar. Bisa dibayangkan betapa heboh kamar mereka karena mereka tak henti bercerita tentang kisah mereka saat mereka berpisah kota.
Hari ini akad nikah akan dilaksanakan pukul 10 pagi. Mahesa baru tiba pukul enam pagi ini. Dia tak membawa apa pun karena perlengkapan sudah dibawa oleh Wiedo.
__ADS_1
“Ayo cepat kalian sarapan. Jam tujuh kita harus siap dan jam delapan kita berangkat yaa,” Wiedo sang komandan rombongan memberitahu pada pasukannya yaitu Arie dan Vella serta si cantik kembar.
Endro siap dengan mobil dan driver dari Kebumen. Mahesa sang jenderal tentu tak repot untuk mendapat mobil guna mobilitasnya selama di Jogja. Mereka makan di ruang makan hotel karena memang di hotel ini dapat sarapan full menu.
“Abang, kita bareng daddy aja ya,” bisik Vella pada kekasihnya. Saat itu Vella sedang mengambilkan steak dan kentang untuk sarapan daddynya.
“Iya sayank. Abang mah terserah nyonya aja,” jawab Arie dengan senyum nakalnya.
“Nanti malam sesudah dari gedung, kita jalan berdua ya. Abang kangen banget,” lanjut Arie.
“Kan sejak semalam udah ketemu. Koq kangen sih?” Vella tentu saja bingung.
“Emang kangen bisa diatur kapan boleh datang atau pergi?” tanya Arie.
“Biar baru pisah lima menit, kalau kangen mau dateng, siapa yang bisa larang?”
“Lagian sejak semalam bibir Abang belum ketemu sama bibirmu,” bisik Arie dengan sangat pelan. Karena kalimat yang ini memang tak boleh terdengar siapa pun.
“Ha ha ha, itu mah nakal namanya,” Vella tak bisa menahan tawa. Tapi dia memang mengakui kalau dalam satu pertemuan Arie tak menciumnya tentu dia juga akan rindu bibir kekasihnya.
\===========================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta