
Pandangan orang awam terhadap anak tunggal orang kaya pasti borju, enggak mandiri, enggak bisa masak, cuma bisa memerintah dan segala sifat kurang baik lainnya. Padahal enggak semua itu benar walau memang banyak yang seperti itu. Aku bisa masak, enggak suka hura-hura apalagi jajan diluar. ~Novella Moraletta~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
‘Aku memang bilang pada Luna aku mau mengejar tunanganku. Ini memang benar, Vella mendengar kalimat itu dari mulut Luna. Aku tak cerita hal itu ke Vella. Mau apa dia mengejar cintaku? Aku tak pernah tertarik pada Luna sejak dulu.,’ batin Arie.
“Enggak usah dipikir. Biar aja dia kejar-kejar Abang. Lha wong Abang enggak lari. Inget kita sudah sepakat semua kita akan bahas. Kalau emang Luna kejar Abang, Abang akan langsung kasih pagar koq,” jawab Arie lagi.
Arie menjauhkan punggung Vella yang sejak tadi bersandar didadanya. Dia balik badan Vella agar mereka kembali berhadapan dan kembali dia kecup bibir kekasihnya.
***
Sehabis sarapan kembali dua mobil meluncur ke bandara. Kali ini twins duduk di mobil Lutfi bersama Vella di belakang. Arie dan Lutfi di depan.
“Wah seru dong?” Vella menimpali cerita kedua adik Arie yang heboh dengan kehidupan baru di SMP.
“Tapi mesti tetap jangan kebanyakan ambil kegiatan ekskul dari sekolah. Jadwal harian diluar sekolah aja kan udah padat. Nanti kalian malah kecapean dan sakit,” nasihat Vella.
“Mbak koq ngomongnya sama kayak ibu sih?” Frani memberitahu kalau ibu mereka juga bilang harus pilih yang benar-benar mereka suka, jangan ikuti semua yang diinginkan.
“Karena emang itu yang seharusnya,” balas Vella yang duduk ditengah duo kembar itu.
***
“Ibu mau bicara sebentar denganmu,” Wiedo menarik Vella saat semua barang sudah turun dari mobil dan dibawa dengan trolly oleh suaminya dan Lutfi.
“Kenapa Bu?” tanya Vella dengan deg deg an.
“Ibu memang belum melamarmu secara resmi pada orang tuamu. Kamu dan Abang belum tunangan secara simbolis. Tetapi secara fakta, buat Ibu dan Bapak kamu adalah tunangannya Abang. Jangan pernah ragu itu. Dimata kami kamu lah calon istri Abang. Ibu sayang kamu,” Wiedo mengecup pipi Vella yang telah berurai airmata mendengar ketulusan ibunda Arie itu.
“Terima kasih Bu, Ade juga sayang Ibu. Sayang banget,” Vella memeluk Wiedo dengan erat dan terisak dipelukkan hangat seorang ibu.
“Kuliah yang rajin ya. Jaga prestasimu dan enggak usah khawatirin Abang di Jakarta. Dia enggak akan jalan melenceng selama dia masih ingin aman dari tembakan Bapak,” Mahesa ikut memeluk kedua perempuan itu.
__ADS_1
Arie hanya bisa bersyukur akan anugrah yang dia terima. Ini adalah hadiah dari keseriusannya menjaga hati tak pernah sembarangan pacaran sejak dia akil bhaliq. Tak pernah ingin mengumbar rasa sayang hanya untuk dibilang keren punya pacar.
“Kamu dengar kan omongan ibu dan bapak? Abang di Jakarta diawasi mereka De. Abang akan tetap jaga hati ini hanya buat Ade,” Arie memeluk kekasihnya setelah bapak dan ibunya pindah pamitan pada bude dan pakde serta Lutfi.
“Iya Honey, Ade percaya,” Vella menyebut honey buat panggilan sayangnya pada Arie.
“Makasih atas kepercayaanmu ya Yank. Jaga kesehatan. Jangan sampai telat makan biar enggak sakit. I love you Yank,” Arie mengecup kening kekasihnya.
“Love you more Honey,” balas Vella sambil kembali mendekap erat tubuh kekasihnya sebelum menerima pelukan kedua adik kembar Arie.
***
Perkuliahan hari pertama, Vella sudah didepan ruang kelasnya. Menunggu kehadiran Anis yang bilang telah tiba di parkiran. Mereka kali ini ada kelas bersama.
“Nis, aku biasa senang duduk di kursi depan. Bagaimana denganmu?” tanya Vella.
“Jangan paling depan. Di baris kedua aja ya? Aku sulit konsentrasi bila terlalu dekat,” sahut Anis. Kalau begitu aku duduk didepanmu. Toh selama kuliah kita juga enggak ngobrol,” Vella memberi solusi. Dia memang lebih konsentrasi bila mendengar keterangan guru saat SMA, sekarang jadi dosen karena kuliah, bila duduk paling depan tanpa ada orang mengganggunya.
“Gitu juga boleh Vell. Kita kan emang ke kampus mau belajar, bukan mau ngerumpi,” sahut Anis. Mata kuliah pertama ini adalah mata kuliah dari bu Rahayu Dewi.
Kelas kedua Vella satu kelas dengan Anis, Surti dan Helmi. Mata kuliah ke dua diajar oleh pak Baskoro Gunawan.
‘Akhirnya …, aku melihat dia di ruanganku,’ batin Ibas dengan sangat senang.
“Sebagai perkenalan, saya ingin mengabsen anda semua. Saya panggil nama anda, anda berdiri, lalu sebutkan nama kota asal kalian dan nama SMA kalian ya,” hari ini Ibas tak ingin memberi materi. Dia ingin bercakap-cakap saja dengan semua mahasiswanya terutama dengan Vella.
Satu demi satu sesuai absen semua mahasiswa memperkenalkan diri.
“Hallo semua, nama saya Novella Moraletta. Kedua orang tua saya dari Kutoarjo. Tapi sejak SD saya tinggal di Jakarta. Saya berasal dari SMA Kusuma Bangsa Jakarta.”
‘Dia tinggal di Jakarta. Dengan siapa? Kalau dia anak om Pras, apa mungkin dia tinggal dengan mas Seto atau mas Bagas?’ batin Ibas.
“Sudah punya pacar belum?” celetuk seorang mahasiswa saat Vella akan kembali duduk.
“Alhamdulillah saya sudah dilamar, dan tahun depan menikah,” jawab Vella membentengi diri. Dia tahu tadi pertanyaan iseng. Tapi dia malah senang meladeninya.
__ADS_1
Helmi yang mendengar kata-kata terakhir Vella hanya menunduk.
‘What? Dia akan menikah muda?’ Ibas kaget mendengar kata-kata duplikat Andika-nya itu.
***
Sore hari pertama kuliah Vella pulang bersama Tiwi. Kakak sepupu Arie sengaja menunggunya. Tiwi ingin mengajak Vella ke warung makan murah anak kampus. Dia tidak tahu kalau Vella tak suka keseringan makan diluar apalagi sampai selalu makan diluar seperti anak kost pada umumnya.
“Kenapa ngajak kesini Mbak?” tanya Vella bingung.
“Disini makanannya murah dan enak serta bersih. Aku rekomendasiin kamu makan disini aja tiap hari,” sahut Tiwi. Tunangannya adalah anak kost dan dari tunangannya lah Tiwi tahu rumah makan ini.
“Aku enggak suka makan diluar sepanjang hari Mbak. Aku lebih cocok sama makanan hasil olahanku sendiri. Kadang aku beli lauk matang. Hanya sesekali aja. Bahkan makan siang aku lebih suka bawa bekal,” sahut Vella pelan. Dia tak ingin orang-orang mendengar ke-norak-an-nya.
“Serius?” tanya Tiwi tak percaya.
“Aku memang di Jakarta anak tunggal daddyku. Tapi sejak SD aku sudah belajar masak. Aku tak terlalu suka makanan warung. Bukan enggak doyan. Hanya enggak terlalu suka aja,” jawab Vella.
“Kalau semua mahasiswa kayak kamu, usaha Arie bisa bangkrut karena sepi pembeli,” Tiwi terkekeh dengan pikirannya. Dia tahu sepupunya punya cafe untuk nongkrong dan makan anak muda.
“Ha ha ha, iya ya Mbak. Nanti aku minta maaf deh ama Abang,” balas Vella.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1