
Belajar dewasa itu memang tidak instant. Dan tak ada tolok ukur umur untuk menjadi disebut dewasa. Kita harus terus belajar dan belajar serta jangan pernah takabur. ~Ashoery Rustamaji~
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Arie mengajak Vella pulang ke rumah pakde. Tentu lebih enak ngobrol dirumah pakde Guruh dari pada di kamar kost. Dia menghindari fitnah.
“Bude lagi bikin apa?” tanya Vella.
“Ini, mau bikinkan kamu serundeng isi daging kambing. Semalam ketika Arie datang bude langsung ingat pesanan ibumu yang bude habiskan ha ha ha. Jadi tadi pagi bude beli daging kambing dan bude bumbuin biar empuk dan meresap. Nah sekarang tinggal matengin serundengnya,” jawab Nawang sambil terus mengaduk parutan kelapa di penggorengan agar matangnya rata.
“Wah asyiiik. Padahal enggak perlu diganti Bude. Kan waktu itu Aku sudah makan juga sebelum berangkat ke Singapore,” sahut Vella.
“Sekalian bikinkan ibumu. Besok Arie biar bawa pulang,” sahut bude Nawang.
“Wah makin cinta ama Bude,” Vella tanpa ragu memeluk bude kekasihnya.
***
Habis salat Maghrib bersama Arie langsung mengantar Vella pulang. Dia takut bila terlambat. Mereka sudah bawa masakan bude untuk makan malam mereka di kamar kost.
‘Jangan sembarangan memutuskan lagi ya Yank. Kita emang sedang proses. Tapi bila saat reses kemarin salah satu dari kita ada yang tersapu angin, kita akan bubar. Bukan hanya kamu, bisa jadi Abang yang tersapu angin. Kita enggak boleh takabur kalau kita tak akan mungkin berpaling,” Arie kembali memperingatkan Vella saat mereka sudah berada dalam perjalanan pulang.
“Iya Bang. Abang yang sabar ya ngadepin aku. Aku masih terlalu bo-doh,” sahut Vella.
__ADS_1
“Bukan bo-doh sayank. Hanya tak terpikirkan dampak apa yang akan kita terima bila kita salah langkah. Dan kadang kita salah menilai. Seperti Abang yang salah mengira, Abang menunggu daddy bergerak. Dan daddy mungkin juga nunggu Abang bergerak. Akhirnya kamu menduga Abang mau mundur karena fakta tentang nasabmu,” Arie menjabarkan pokok keributan mereka kemarin.
“Semua saling menduga sehingga bila dibiarkan berlarut akan fatal. Mungkin itu yang ayahmu hadapi dulu. Dia menduga mommy sudah ‘membereskan’ persoalan mereka. Dan mommy menduga ayahmu tak mencintainya karena menyuruh menggugurkanmu.”
“Padahal kenyataannya ayahmu mencari mommy tapi sudah terlambat karena daddy gerak cepat menyelamatkanmu. Nyatanya sampai saat ini cinta ayahmu hanya untuk mommy,” Arie melanjutkan semua pemikirannya.
“Kalau kamu berpikiran Abang mau mundur karena nasabmu. Lalu Abang diam saja karena berpikir kamu tak mau terus melanjutkan hubungan kita. Lalu saat ada orang lain datang pada salah satu dari kita dan kita memutuskan memilihnya sebagai pelarian. Bagaimana nasib cinta kita selanjutnya? Apa dalam hati kecil kita kita bisa berpaling?”
“Apa nasib kita akan seperti ayahmu yang terus menyimpan cinta sejatinya pada mommy? Tanpa tahu kalau cintanya telah terkubur bersama jasad mommy,” Arie menyudahi pemikirannya dan Vella tak bisa membayangkan bila semua yang Arie katakan terjadi pada mereka.
Mereka melanjutkan ngobrol di lobby kamar kost. Arie masuk ke kamar saat mereka makan malam dan itu pun pintu kamar sengaja Vella buka lebar. Sehabis makan malam bereka baru melakukan salat dan Arie bersiap kembali ke rumah pakde Guruh.
“Enggak perlu antar Abang keluar. Langsung kunci kamar aja ya. Besok pagi Abang sarapan disini,” Arie mengecup kening Vella saat gadis itu memberi salim sehabis mereka salat.
“Iya Bang,” sahut Vella. Dan Arie meberi kecupan di bibir gadis itu.
“Masuk Uni,” Vella menjawab tanpa ragu.
“Eh, lagi pada salat?” Novia mahasiswi Surabaya yang asli suku Minang masuk ke kamar Vella. Dia melihat Vella dan kekasihnya masih duduk di sajadah.
“Sudah selesai Uni, ada apa?” tanya Vella sambil membuka mukenanya.
“Kertas folio ku habis. Pinjam milikmu ya, besok Uni ganti,” Novia sedang mengerjakan tugasnya.
Vella mengambil kertas folio miliknya. “Ambil saja seberapa Uni butuh. Tak usah pinjam. Aku beli satu rim koq,” sahut Vella.
“Abang pamit ya?” Arie memeluk Vella didepan Novia dan mengecup puncak kepalany.
__ADS_1
“Hati-hati Bang,” sesuai perintah Arie tadi, Vella memang tak akan mengantar Arie kedepan.
“Mari Mbak. Assalamu’alaykum.”
“Eh, Uni jadi ganggu kamu Vell.” Novia merasa tak enak pada Vella.
“Ha ha ha enggak Uni. Memang dari tadi sudah bilang habis salat dia akan pamit dan aku enggak boleh antar ke depan,” sahut Vella santai.
“Kirain karena ada Uni kamu jadi enggak antar dia,” Novia mengambil beberapa lembar kertas folio.
“Lebihkan satu atau dua lembar Uni. Jangan ambil pas. Takut ada salah,” Vella memperingatkan Novia.
“Iya, bisa bolak balik ganggu kamu kalau salah print,” Novia pun mengambil kertas folio milik Vella.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL TELL LAURA I LOVE HER ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta