
Dalam sebuah pertemuan keluarga besar kadang ada sedikit luka di sela bahagia. Kadang dalam pertemuan keluarga besar ada pertanyaan yang bisa membuat seseorang tak nyaman seperti kapan kamu menikah? Usiamu sudah cukup tapi masih saja jomlo. Atau kapan punya anak. Kamu nikah sudah cukup lama lho. Pertanyaan yang tak disadari oleh yang berkata-kata kalau kalimat itu menyakitkan pada sosok yang ditanya. ~yanktie ino~
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Pagi ini adalah acara akad nikah. Sedang resepsinya akan dilaksanakan nanti malam di gedung. Arie dan Vella menggunakan baju couple dengan warna ungu. Senada dengan warna baju keluarga Mahesa. Memang sejak minggu lalu Arie sudah meminta Vella membeli baju sarimbit untuk mereka berdua dengan warna ungu karena Arie sudah bertanya warna pakaian keluarganya pada Wiedo.
Untuk resepsi malamnya tentu keluarga mereka akan pakai seragam dari pihak keluarga perempuan.
Mereka berangkat beriringan. Arie dan Vella sangat bahagia bisa kembali datang ke acara keluarga dan memperlihatkan kedekatan mereka.
Endro berbaur dengan keluarga pakde Guruh. Dia memang belum kenal dengan pemilik rumah atau pakde Wito. Tapi setidaknya Endro sudah merasa nyaman dalam keluarga besar ini.
“De, habis makan siang ini Daddy pergi dulu ya. Nanti daddy akan langsung ke gedung resespsi aja,” bisik Endro pada putrinya. Sebagai pebisnis tentu ada waktu banyak terbuang dari siang hingga maghrib bila tak dia manfaatkan. Itu sebabnya dia meminta drivernya datang agar mobilitasnya di Jogja semakin mudah.
“Iya Dadd. Ade paling ikut keluarga ibu. Asal jangan lupa koper Ade diturunin dari mobil. Nanti Ade mau ganti seragam buat di gedung bingung,” sahut Vella.
“Kasih tahu Abang aja suruh pindahin kopermu dari mobil Daddy ke mobil bapak,” sahut Endro. Dia tahu kalau Vella sudah memanggil ibu dan bapak pada kedua orang tua Arie.
“Iya Dadd. Nanti Ade bilangin. Abang lagi ke toilet sebentar,” Arie memang tadi izin ke toilet karena kemejanya terkena tumpahan es krim oleh keponakannya yang berlarian dan menabrak dirinya.
“Bang, habis makan siang nanti daddy mau pergi. Abang tolong pindahin koperku ke mobil bapak ya. Baju seragam kita untuk di gedung resepsi ada di koper itu,” Vella tak ingin menunda memberitahukan hal itu. Dia takut lupa.
“Itu nomor ponsel driver daddy. Abang temui dia buat minta dibukakan mobil,” Vella mengirim nomor telepon sopir daddynya pada Arie.
__ADS_1
“Iya Yank, nanti Abang pindahin koper kita. Sekarang kita makan yok,” ajak Arie. Tadi mereka memang berniat akan makan saat dia ditabrak oleh keponakannya.
“Kamu kapan nyusul Rie?” goda beberapa kerabat.
“Ini siap tancap gas Pakde.”
“Lagi ancang-ancang Om.”
“Siap meluncur nih.”
“Injih doakan saja segera cepat menyusul Eyang.” begitu jawaban Arie yang kadang lebih banyak menjawab dengan canda kecuali bila yang bertanya pini sepuh.
Endro tersenyum melihat putrinya bisa diterima sangat baik dalam keluarga besar Arie. Setidaknya dia tak cemas melepas putri kecilnya nanti. Kalau di keluarga inti Arie tentu saja Vella sudah diterima sejak gadis itu masih di Jakarta.
***
Dari pihak keluarga juga ada pagar ayu dan pagar bagus keluarga. Saat itulah Arie melihat sosok Luna datang dengan seorang perempuan paruh baya. Arie langsung menggamit Vella untuk mundur agar Luna tak melihat mereka. Dia enggan bertemu gadis itu.
“Jangan bergerak Yank,” bisik Arie. Dia sengaja berdiri di depan Vella dan memunggungi tamu agar wajah Vella bisa dia tutup dengan punggungnya dan tentu saja wajahnya tak terlihat karena hanya tampak punggungnya.
“Ada apa Bang?” tanya Vella juga ikut berbisik.
“Luna datang. Entah dia mengantar siapa. Tapi Abang malas lihat dia,” baru saja Arie selesai bicara seperti itu punggungnya ditepuk pelan bahkan bisa dibilang bukan tepukkan, melainkan belaian lembut.
“Ashoery …, enggak nyangka bisa ketemu kamu ya. Kalau jodoh emang enggaak kemana,” dengan cukup keras Luna bicara seperti itu.
“Maksud kamu jodoh dengan siapa?” tetiba Mahesa yang menjawab. Dia memang sedang ingin bicara dengan Arie putra sulungnya.
__ADS_1
“Dia kan sejak SMA memang naksir Abang Pak. Dan dia bilang dia akan mendapatkan Abang bagaimana pun caranya,” dengan cukup keras Vella pun menjawab pertanyaan Mahesa. Vella sudah cukup kesal terhadap Luna.
“Kalau pun kamu jebak anak saya dan mengatakan kamu hamil anaknya. Saya pastikan anak saya tak akan pernah menjadi suamimu. Mungkin nanti anak yang kau kandung akan kami beri santunan saja,” Mahesa geram mendengar pernyataan Vella.
Arie tak bisa berkata-kata mendengar Vella menyatakan semua yang ia tahu. Beberapa kerabat yang ada disekitar situ tentu saja memperhatikan kejadian itu.
Luna sangat kaget mendapat serangan balasan dari Mahesa dan Vella secara bersamaan. Dia serasa masuk kandang macan dan tak bisa keluar karena pintu kandang sudah ditutup.
“Kamu salah mencari lawan,” bisik Vella dengan sinis pada Luna tapi masih banyak yang bisa mendengar kata-kata Vella tersebut.
“Ha ha ha, dia mau jebak Arie untuk menikahinya. Dasar ja-lang tak tahu malu.”
“Perempuan tak punya harga diri.”
“Bibit pelakor itu.”
“Jangan pernah berharap orang tua saya akan menikahkan saya dengan kamu walau kamu jebak dengan cara apa pun,” Arie malah lantaang bersuara disela dengungan suara yang menghujat Luna.
Perempuan paruh baya yang datang bersama luna tak berani menghampiri keponakannya. Dia jadi malu sendiri. Dia yang mengajak Luna menemaninya ke undangan orang tua Erlangga.
\============================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta