
Aku harus upayakan dia selalu melihatku. Aku ingin dia selalu mencari keberadaanku~Ramadhona Taher~
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Ayah, Mbak boleh ngomong nggak?" Vella ragu, tapi dia sadar harus disampaikan semua yang dia rasa.
"Kenapa sayang?" Baskoro menangkap ada keengganan putrinya bicara.
"Sebenarnya ini nggak etis sih Mbak ngomong ke Ayah. Tapi Mbak nggak suka aja kalau adik Mbak itu terluka."
"Kenapa dengan adikmu?" kata Ibas dengan cemas.
"Maaf ya Yah. Sekali lagi aku minta maaf." Vella memberanikan diri untuk bicara.
"Iya katakan ada apa?" tanya Ibas.
"Jadi Yah, Ade cerita, katanya ibunya datangin dia ke sekolah. Aku sih nggak problem Yah. Aku malah seneng, artinya Laras nggak kehilangan sosok Ibu seperti aku Yah," cerita Vella.
"Ternyata Larasnya nggak suka ibunya datang. Mbak tanya dong kenapa dia enggak suka ibunya datang."
"Nah ini poin yang aku nggak suka sama Bu Titie. Masa dia nanya-nanya ke Laras perempuan yang suka datang ke rumah siapa? Perempuan yang suka nginep sama ayah siapa? Kan enggak etis buat anak seumur Laras Yah."
"Mbak seneng dia ndatangin Ade. Mbak nggak cemburu. Yang Mbak enggak suka soal dia selidikin perempuan disisi Ayah sekarang. Kan udah bukan urusan dia. Dia sudah enggak mungkin balikan sama Ayah. Kenapa sih dia masih kepo," kata Vella.
"Sejak dulu perempuan itu memang senengnya bikin *kisruh*," kata Ibas.
"Jangan marah ke dia ya Yah. Aku serius nggak ada masalah apa-apa. Aku nggak mau jiwanya Laras terganggu. Yang wajib kita lindungi itu jiwanya Laras."
"Aku anak dari single parent. Enggak ada keburukan apa pun semua mendukungku. Lingkunganku mendukungku."
"Aku ingin Laras merasakan itu. Aku ingin Laras sama merasakan masa kecil yang bahagia. Itu sebabnya aku dan abang selalu membawa Laras pada tiap kesempatan. Selalu memberi waktu untuk Laras."
__ADS_1
"Aku memang baru kenal Laras. Buat abang dan aku Laras itu adik kami Yah."
"Kami tak mau Laras terluka seperti itu." Baskoro berdiri dan memeluk putrinya. Dia sangat bangga mempunyai anak seperti Vella.
'*Endro memang sangat hebat dalam mendidik anak*,' batin Ibas.
'*Cinta kasih Vella untuk sesama itu hasil didikan Endro dan kedua orang tuanya. Bukan didikan Om Pras dan tante Nungky. Aku tahu itu*'.
'*Vella mendapat yang terbaik selama ini. Benar kata Vella, dia harus memperhatikan masa kecil Laras*.'
'*Aku juga tak ingin Laras terluka seperti yang dilakukan oleh Titie*.'
'*Aku akan memberi ultimatum Titie agar tidak mendekati Laras lagi*.'
"Terima kasih atas cintamu pada Laras. Sampaikan juga terima kasih Ayah pada Abang. Kalian memang yang terbaik yang Ayah miliki. Ayah akan mengupayakan yang terbaik juga untuk adikmu."
"Ayah akan menegur Titie untuk tidak mendekati Laras dengan cara seperti itu. Ayah juga nggak akan marah pada Titie, hanya akan menegur dia dengan peraturan keras karena Ayah nggak mau Laras jadi punya kesan buruk."
"Iya Yah jangan marah sama aku ya," pinta Vella.
"Nggak Ayah nggak marah. Ayah malah bersyukur kamu mau memberitahu Ayah soal ini. Karena Laras tentu tak akan mungkin cerita pada ayah langsung," kata Ibas
\*\*\*
Hari ini Dian Tak ada kuliah jam 08.00 Tapi dia tetap berangkat bareng ayah dan adik-adiknya untuk mengirit. Dian akan nunggu di waktu masuk kuliah di perpustakaan seperti biasa.
Dian menuju perpustakaan dia tidak ngambil buku di rak perpustakaan tapi membaca buku miliknya dari dalam tas. saat itu perpustakaan masih sepi.
Dian mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia lihat siapa saja yang ada disana tiba-tiba matanya tertumbuk sosok yang sedang asyik mengunyah sambil baca buku.
'*Iiih, katanya demam, pagi-pagi udah di sini duluan*,' batin Dian.
__ADS_1
'*Dia duluan dari aku, berarti bukan ngikutin aku kan. Wah tau gitu tadi aku nggak nunggu di sini. Tapi kan aku nggak ngikutin dia memang biasa ke sin*,' bantah Dian dalam dirinya sendiri.
Dian pun tak menggubris Adon dia terus membaca.
Sejak dulu Adon tahu semua jadwalnya Dian karena dia tahu dari Merry.
Jadwal yang barengan dengan Merry atau jadwal yang mereka pisah. Andon hafal semua. Hari ini Adon sengaja lebih dulu tunggu di perpustakaan. Sengaja dia datang lebih dulu agar tidak dibilang ngikutin Dian.
Adon duduk dengan buku terbuka dia juga bawa roti dan kopi instan yang di botol.
Sejak Dian masuk Andon sudah melihatnya tapi dia pura-pura tidak memperhatikan.
Adon pun terus mengunyah sarapannya yaitu roti dan kopi instan botol dan dia memang tekun membaca buku yang dia bawa.
Adon pun tak peduli atau tak menghampiri Diam. Adon hanya ingin memperlihatkan diri pada Dian tanpa menghampiri supaya ketahuan aja kalau dia di situ duluan.
Adon keluar lebih dulu. Sebentar lagi waktu kuliah jam kedua dimulai. Fakultasnya lebih jauh dari ruang kuliah Dian dan dia juga belum bisa jalan cepat. Jadi harus keluar lebih dulu. Adon melewati meja diam tapi pura-pura nggak lihat. dia keluar perlahan dan terus aja menuju fakultasnya.
'*Oh jadi dia beneran nggak lihat kirain tadi dia lihat aku*,' Dian pun membereskan bukunya dan memasukkan ke tas dan keluar ruang perpustakaan.
Dian melihat sebuah kartu mahasiswa jatuh. Dian mengambil dan hendak menitipkan pada petugas perpustakaan. sebelumnya dibaca dulu jati diri yang tertera di kartu mahasiswa itu.
'*Wah ini milik Adon. Enaknya aku titip petugas perpustakaan apa aku kasih tahu dia aja ya*' kata Dian dalam hatinya. Akhirnya dia memutuskan membawa kartu mahasiswa itu dan akan memberikan langsung pada Adon.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul TELL LAURA I LOVE HER itu ya.