
Sesuatu yang serius itu butuh kepastian. Maka aku bergerak cepat untuk menghilangkan pagar pembatas keraguan. ~Firza Yudhasmara~
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Serena baru saja tiba di bandara SOETA bersama sang mimi tercinta. Sejak hari Jumat malam Firza sudah tak menghubunginya. Maka sejak tadi pagi Serena balas dendam. Dia tak menjawab pesan yang Firza kirim. Apa lagi mengangkat telepon dari lelaki itu.
‘Sayaaaaaang, angkat dong telepon Abang.’
‘Pulang jam berapa Babe?’
‘Honey, koq enggak dibaca sih?’
‘Pulang jam berapa? Abang mau jemput.’
‘Miss you so much. Please jawab pesan Abang.’
Entah berapa pesan lagi yang tak juga dibuka oleh Serena.
“Mimi beneran kan sudah minta jemput. Apa kita mau naik taxi aja?” tanya Serena memastikan. Karena sang mimi paling malas pegang ponsel. Kalau pun pegang ponsel karena ada panggilan masuk, atau dia mau telepon.
“Waktu kita mau berangkat kan Mimi sudah pesan mang Doyok suruh jemput hari ini. Kalau dia lupa paling digorok abahmu. Gitu aja repot,” jawab sang ibu yang asli Betawi Condet itu.
“Iiiiiiih. Gimana coba kalau mang Doyok tidur. Dia kan kebo Mi. Aduuuh,” Serena langsung mengambil ponselnya dan menelepon ke nomor rumah.
“Assalamu’alaykum,” sapa penerima telepon.
__ADS_1
“Bik, siapa yang udah jemput ke bandara? Berangkaat jam berapa?” tanya Serena tanpa menjawab salam karena dia terburu-buru sehingga lupa.
“Kata Tuan tadi pagi mang Doyok enggak usah ngejemput karena tuan mau jemput nyonya sendiri. Trus nanti enon mau dijemput pacar enon,” sang pembantu yang juga berlogat Betawi menjawab dengan santainya.
“Pacar yang mana? Aku enggak punya pacar,” protes Serena. Enon yang dimaksud si pembantu adalah nona. Panggilan untuk dirinya.
“Enggak tahu non, pan tuan yang bilang. Tadi mesen gituh ke mang Doyok. Suruh jawab begituh kalau enon telepon nanyain. Paalin pacar enon yang kemaren dateng kesinih trus ngobrol sama Tuan,” jawaban ini membuat Serena kaget karena ada yang datang ke rumahnya dan ngobrol dengan abahnya.
“Arie maksudnya?” tanya Serena.
“Jiaaah. Kalau bang Arie mah sayah udah kenal. Ini mah bukan bang Arie. Dia pernah ngejemput enon pas endulu mau pigih pesta ituh lho,” Serena sekarang tahu siapa yang dimaksud sang bibik.
‘Kalau abah ngejemput duluan, aku akan ikut abah aja. Kalau aku ditinggal aku akan pulang sendiri naik taksi daripada pulang dijemput ama dia,’ Serena bersiap mengambil ancang-ancang.
“Itu abah yang ngejemput,” sang mimi menepuk bahu Serena dan menunjuk dua lelaki yang sedang duduk di gerai penjual kopi di bandara.
“Tumben Abang ngejemput sendiri?” tanya Lela panggilan Nurlaela.
“Ini gara-gara Firza pengen ngejemput Rene, jadi Abang juga pengen kita pacaran lagi kayaak dulu,” jawab Abdullah dengan senyum usilnya.
Serena tak bisa berkedip ketika melihat abahnya sedang duduk manis dengan Firza menunggu kedatangan mereka.
“Assalamu’alaykum Bah,” Serena menyalami ayahnya. Dia mendapat kecupan manis di keningnya.
“Assalamu’alaykum Bang, sudah lama?” tanya Serena pada Firza.
“Bareng sama Abah,” sahut Firza santai. Dia telah memberi salim pada ibunya Serena.
‘Abah? Enggak salah dia panggil Abah? Sok akrab banget,’ Serena kesal melihat kelakuan Firza.
__ADS_1
“Duduk dulu. Kalian mau minum apa?” tanya Abdullah.
“Mimi minta ice choco aja,” jawab Lela.
“Aku minta bubble tea aja Bah,” jawab Serena. Saat itu server yang Abdullah panggil sudah berdiri dekat meja mereka.
“Mumpung kita ngumpul, Abah ngomong disini aja biar Mimi jelas. Ini Firza pernah beberapa kali ke rumah ngejemput Rene. Nah kemaren pas Mimi enggak ada kami ngobrol banyak. Dia minta kita tentuin waktu karena orang tuanya mau ngelamar Rene.”
Serena kaget mendengar Firza telah minta waktu pada abahnya. Kalau abahnya sudah menerima seperti ini sampai mau janjian ngejemput, artinya kedatangan kedua orang tua Firza tak ditolak.
“Firza bilang biar pun Rene nunda pernikahan, tapi setidak nya mereka bukan pacaran ngumpet-ngumpet atau back street. Dia enggak mau cara begitu. Karena orang tuanya juga emang maunya cepet ngelamar Rene,” Abdullah menjelaskan panjang lebar.
“Kalau liat dari Abah janjian, turs enggak nolak seperti ini, Mimi bisa bilang apa? Udah keliatan Abah nerima dia kan?” tanya Lela meyakinkan.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL TELL LAURA I LOVE HER ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1