
Aku mulai sedikit lega setelah Mora memantabkan hati memilih kuliah di Jogja, setidaknya intensitas pertemuan kami berkurang. Walau aku pasti sangat merindu bidadari kecilku itu. Bayi yang sejak dia dikandungan sudah aku harap kehadirannya. ~Endro Herminanto~
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Hari Senin, semua mulai sibuk dengan awal minggu. Arie akan ke kampusnya dan mengikuti ujian akhir semester. Ada dua mata kuliah yang dia harus ikuti hari ini. Firza masih santai karena dia tak ingin terjebak macet. Tadi dia sudah berpesan pada Serena kalau dia akan langsung ke tempat meeting dengan klien di sebuah cafe jam sebelas. Dan dia minta Serena segera menyusulnya kesana.
Vella masih santai dengan papa, mama juga Bima. Dia akan ke sekolah agak siang, menghindari macet jam sibuk pagi hari dulu. Bagas sudah berangkat kerja sejak tadi. Endro masih di Singapore, sore nanti dia baru akan kembali ke Jakarta.
Hanya Serena yang pagi ini merasa tak baik-baik saja. Dia belum bisa mendapat balasan pesan yang dia kirim pada Vella dan Arie. Sedang kalau hari kerja dia sama sekali tak bebas mencari Arie baik di rumah mau pun di kampusnya. Otomatis dia harus menunggu hingga akhir minggu.
Serena turun dari mobil dengan wajah yang kusut. Dia masuk ke ruangannya dan mulai menyalakan laptop untuk mulai bekerja. Pagi ini dia harus mempersiapkan dua berkas yang akan dibawa pada dua meeting yang akan dihadiri monster tengil pimpinannya. Satu jam sebelas siang hingga jam dua dan satunya lagi tentu jam tiga menjelang jam kantor usai.
“Ya Pak, Selamat pagi,” Serena menjawab telepon dari Firza.
“Satu,” jawab Firza.
“Maksudnya apa Pak?” tanya Serena tak mengerti.
“Dua,” balas Firza lagi.
“Kalau Bapak tidak mengatakan apa pun selain belajar menghitung, lebih baik pembicaraan saya tutup. Saya sedang mengerjakan berkas untuk meeting yang jam tiga Pak,” sahut Serena kesal.
“Kamu akan mendapat hukuman empat kali karena panggilanmu barusan,” sahut Firza tanpa merasa bersalah.
Tentu saja Serena kesal memikirkan akan empat kali dihukum oleh Firza. Dia akan meminimalisir menggunakan panggilan apa pun daripada mendapat hukuman dari si monster tengil itu.
“Lalu maksudnya telepon mau apa? Saya sedang mengerjakan berkas untuk meeting jam tiga, P… eh,” hampir saja Serena kembali menyebutkan kata Pak.
“Tadi mau ngecek kamu sudah sampai kantor belum,” balas Firza santai.
__ADS_1
“Cek saja absent saya. Saya tiba di kantor pukul 07. 52,” sahut Serena.
“Ya sudah, Abang tunggu jam 10. 40 di lokasi pertama,” tanpa menunggu jawaban Serena, Firza memutus pembicaraan.
“Nyebeliiiiiiiiiin,” Serena hanya bisa menggerutu pelan. Tak sampai dua jam lagi dia harus berangkat agar tidak terjebak macet. Maka dia segera menyelesaikan pekerjaannya pagi ini.
***
“Pamit ya Ma,” Vella pamit pada Nungky untuk mengurus surat rekomendasi di sekolahnya. Sang papa sedang keluar dengan keponakannya sehingga kakak iparnya bisa membereskan rumah.
“Hati-hati ya,” Nungky mengulurkan tangan kanannya pada putri bungsunya itu.
“Iya Ma. Assalamu’alaykum,” Vella pamit juga pada Nungki sang kakak ipar. Dia diantar oleh sopirnya. Nungky tak membolehkan Vella naik ojek online. Dia berpesan pada Endro untuk menyuruh sopirnya stanby buat Vella.
***
“Helmiiii,” Vella yang baru turun dari mobilnya melihat Helmi sedang memarkir motor besarnya. Pemuda gagah itu bertambah macho bila sedang mengendarai motor itu. Helm full facenya tak bisa meredam aura kerennya.
“Hai, apa kamu sudah memutuskan hendak ambil yang mana?” tanya Helmi.
“Wah seruuuuu. Kita bisa ada teman berbagi saat mengurus sesuatu disana nanti,” Helmi tentu suka karena ada teman sependeritaan di ranah yang asing baginya itu.
“Apa kamu sudah ada bayangan hendak tinggal dimana?” tanya Helmi tulus.
“Papa dan kakakku yang mencarikan aku kamar kost. Aku tinggal masuk saja. Dan aku akan pakai motor karena daddy ku tak membolehkan aku bawa mobil. Besok aku akan mengurus pembuatan SIM diantar papa,” sahut Vella. Besok memang dia akan diantar Pras untuk mendaftar membuat SIM C.
“Nanti khabari aku ya, aku belum tahu hendak kost di mana. Aku tak punya kerabat di sana,” sahut Helmi.
“Nanti aku tanya kakakku ya, kalau boleh, akan aku kasih nomor ponselnya untukmu. Kedua kakakku serta istri mereka lulusan UGM. Nanti kamu bisa tanya lokasi kost cowoq yang sesuai dengan kemauanmu,” Vella akan bertanya dulu pada Bagas, apakah kakaknya itu mau menolong Helmi.
“Baik, aku tunggu. Karena sehabis kelulusan, aku akan mencari kost dulu di Jogja, lalu kembali ke rumah dan akan balik ke Jogja lagi saat mendekati awal kuliah,” sahut Helmi. Mereka berjalan beriringan menuju kantor tata usaha sekolah untuk mengurus berkas milik mereka.
__ADS_1
***
Arie baru selesai ujian pukul 14.00. Dia merasa tak mungkin bisa menemui Vella hari ini. Jarak UI ke SMA nya dulu butuh waktu satu jam lebih. Tak mungkin Vella masih ada di sekolah saat dia tiba nanti karena sudah tak ada kegiatan yang gadis itu lakukan lagi. Arie pun langsung menuju pulang ke rumahnya mempersiapkan materi ujian esok hari.
Di kamar sehabis mandi dan salat Arie melihat group whats app nya. Di beberapa group masih ada yang sesekali membahas Serena sebagai pacarnya. Itu makin membuatnya tak nyaman. Dia belum mau membuka pesan yang sahabatnya kirim. Dia bertekad membuat hatinya tenang dulu. Dia ganti wall paper ponselnya dengan foto dirinya dan Vella kemarin malam. Foto dengan baju adat couple.
‘Ah, aku harus membuat akun IG baru untuk melihat akun milik Vella. Kalau akun FB aku bisa lihat dari akun distro ku,’ Arie segera membuat IG baru untuk distro miliknya yang nantinya juga akan dia gunakan untuk menjadi stalker akun Vella.
‘Jadi mereka akan selalu bersama?’ Arie melihat Helmi memposting foto saat dia dan Vella menjadi pembawa acara kejutan dengan tulisan menarik : dari panggung perpisahan, akan berlanjut di kota gudeg bersama. Dan Helmi sengaja mention Vella.
Tentu saja banyak teman mereka langsung komen mengucapkan agar mereka resmi jadian saja
‘Jadi dia akan kuliah di fakultas hukum UGM,” pikir Arie lagi. Dia sungguh frustasi. ‘Aku harus bagaimana?’
‘Besok ujian hanya pagi, semoga aku bisa menemuinya di sekolah,’ batin Arie. Dia mulai fokus mengulang materi pelajaran yang akan diujikan esok pagi.
***
Esoknya tentu saja Arie tak berhasil menemui Vella. Karena hari ini gadis itu tak berangkat ke sekolah melainkan dia ke samsat dengan papanya.
‘Ah, sangat sulit menemui Vella. Di rumahnya juga dia belum kembali. Sedang aku enggak tahu rumah kakaknya,’ Arie yang sore ini kembali datang ke rumah Vella mendapat jawaban kalau Vella belum pernah pulang sejak seminggu lalu.
\============================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta