UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
ABANG TAK AKAN PERNAH MENDUA


__ADS_3

Apakah aku tak boleh menduga, bila beberapa data yang tertera menunjukan mereka punya keterkaitan. Apa aku tak boleh berharap kalau dia adalah anak … ~Baskoro Gunawan~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Maaf Bu, bisa saya minta kartu mahasiswa saya?” tanya Vella sopan.


“Oh … ini,” Titie langsung mengembalikan kartu itu.


‘Dika!’ Ibas kembali melihat cintanya berada dalam satu ruangan dengannya. Sangat dekat malah. Karena dia juga hendak memberi bimbingan mahasiswa baru dan dia duduk tak jauh dari bu Rahayu, dia bisa melihat dengan jelas wajah ‘Dika’ didepannya.


Titie yang duduk tepat dipintu masuk ruang dosen bisa melihat isi ruangan itu dengan jelas. ‘Mata Mamas tak pernah lepas dari wajah Novella. Siapa gadis itu? Apa Andika nama kesayangan Mamas untuk dia? Tapi nama Andika sudah aku dengar sejak delapan tahun lalu. Tak mungkin kan gadis itu pacar Mamas sejak dulu?’


“Ini yang saya inginkan Bu, agar tidak terlalu banyak jam kosong. Kalau saya ambil ini, ada dua jam kosong dan saya membuang banyak waktu,” Vella memberi usulan apa yang dia mau.


‘Cara bicaranya juga persis. Tak mungkin dia tak ada hubungan dengan Dika. Apa …? Mungkinkah?’ pikir Baskoro. Untung mahasiswa yang dibawah bimbingannya belum hadir.


“Pak Baskoro, mata kuliah anda tidak salah jadwalkah? Anda menaruh dua mata kuliah dalam waktu yang bersamaan,” bu Rahayu menanyakan mata kuliah yang Baskoro ajarkan jamnya tabrakan.


Baskoro langsung mendekati bu Rahayu. Suatu kebetulan! Dia bisa lebih dekat dengan gadis itu.


“Masa sih Bu?” tanya Ibas pada seniornya itu.


“Saya juga baru lihat. Kalau mahasiswa saya tak mengajukan mata kuliah dasar anda, tentu saya tak perhatikan jadwal dobel ini,” jawab Rahayu.


“Kalau begitu akan saya ubah Bu. Jadwal yang untuk mahasiswa baru yang  benar Bu. Kasihan yang tadi sudah daftar. Biar mata kuliah yang untuk semester tiga akan saya ubah. Mereka kan baru pengisian mata kuliah besok. Jadi belum ada yang mendaftar,” Baskoro langsung mengambil keputusan. Dia berharap gadis yang mirip Dika ini akan ikut kuliah yang dia ajar.


“Terima kasih pak Bas. Dan kamu Vella, mata kuliah ini bisa kamu ambil,” Rahayu bicara pada Baskoro dan Vella dalam kalimat yang menyatu.


‘Namanya Vella. Aku akan cari biodata gadis ini,’ batin Baskoro sambil kembali ke kursinya. Saat itu ada mahasiswi baru yang hendak konsultasi dengannya. Ibas langsung melirik, dia memastikan pandangan elang Titie pasti akan menguliti mahasiswi yang berada dalam bimbingannya.

__ADS_1


***


“Bu Yayuk, saya seperti kenal dengan orang tua mahasiswi baru yang ada dalam bimbingan anda, bisa saya lihat biodatanya?” tanya Ibas setelah jam bimbingan mahasiswa baru selesai.


“Yang mana Bas?” tanya bu Rahayu. Bila di depan mahasiswa bu Rahayu pasti menyebut BU atau PAK pada rekan sejawatnya. Tapi diluar itu dia hanya akan menyebut langsung namanya pada dosen yu-niornya.


“Yang namanya Vella Bu,” jawab Ibas tanpa ragu. Dia tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, jadi bu Rahayu tak akan menduga hal buruk.


Bu Rahayu membuka berkasnya, dia ambil milik Novella. Dan dia berikan untuk Baskoro.


‘Senepo tengah? Itu kan rumah kost milik pamannya Endro. Dan aku pernah melihat Endro mengajak Dika kesana. Apa benar gadis ini adalah ….’


“Baik Bu. Terima kasih. Jadi benar dia berasal satu kota dengan saya dan rumah orang tuanya pun saya pernah kesana. Rumah kawan satu kelas saya ketika SMA. Namanya Endro Herminanto,” Baskoro mengembalikan kertas data Vella.


‘Tak mungkin dia anak Endro, kalau melihat usia gadis itu sekarang!’ batin Baskoro makin galau.


‘Aku yakin dia anak Dika. Karena walau satu kandung wajah Dika dan adik-adiknya enggak semirip Dika dan Vella,’ batin Ibas selanjutnya. Dia pernah beberapa kali bertemu dengan  Ardina Laraswati adik Andika Larasati kekasihnya.


***


Penguntit tidak masuk area parkir. Dia mengamati Vella dari seberang super market. Dan dia kembali mengikuti Vella hingga gadis itu kembali ke kamar kostnya. Di beberapa tempat penguntit membuat foto gadis yang dia kuntit.


‘Abang tetap enggak kasih khabar. Lalu sampai kapan hal ini akan terjadi?’ sesampai di kamar dan bersih-bersih diri Vella memandang ponselnya sambil mengemil kripik kentang yang tadi dia beli.


Vella ingat malam ketika dia dan Arie ke Ancol. “Nov, mulai lusa kita berjauhan, Abang hanya minta kita bisa saling percaya. Abang enggak bisa menjanjikan kamu akan tenang. Abang yakin kamu akan beberapa kali mendapat rumors Abang dekat dengan si A, si B atau si C. Yang Abang bisa pastikan, ABANG TAK AKAN PERNAH MENDUA,” begitu yang Arie katakan malam itu.


‘Mengapa aku tak percaya padanya? Padahal saat itu dia bilang tak akan pernah mendua,’ Vella mengeluh kesalahannya terlalu dalam.


Vella ingat dia pernah bertanya : ‘aku harus bagaimana bila rumors itu menerpa’ pada Arie.


Dan dengan jelas Arie meminta dirinya segera cross check : Cari kebenarannya. Jangan langsung marah. Kamu bisa cek ke siapa pun. Yang pasti Abang enggak akan pernah berbohong pada ibu. Jadi kamu bisa tanya secara tak langsung ke ibu melalui Frina dan Frani!

__ADS_1


‘Bodohnya aku kembali emosi. Marah tanpa bertanya ke Abang. Dan langsung meninggalkan dia. Wajar kalau sekarang Abang marah padaku,’ sesal Vella.


‘Padahal Abang sudah kasih tau aku, cari info langsung ke titiknya. “Kalau nanti ada rumors tentangmu, Abang akan langsung mendatangi titik permasalahannya. Abang akan langsung tanya kamu. Kalau kamu enggak mau jujur dan memberi bukti bahwa rumors itu salah, maka Abang akan tegas mundur. Abang enggak mau terluka lebih lama”.


‘Dan kemarin Abang langsung menembak Helmi. Titik yang membuat aku bisa kabur. Kalau saat itu Helmi mikir harusnya dia menahanku, setidaknya pamit dulu ke Abang sebelum membawaku pergi. Jadi jelas Helmi memang seperti dugaan Abang. Dia senang padaku seperti saat dia pamer kebersamaan kami saat cari kost dulu.’


‘Aku terlalu bodoh, bukan naif. Bagaimana bisa aku terpedaya oleh kebaikan Helmi?’ Vella semakin sadar kalau dia kurang cermat.


‘Bismillah …,’ Vella memantapkan hati, dia tekan sebuah nama dalam ponselnya.


“Assalamu’laykum Bang,” sapa Vella ketika sosok di telepon yang dia tuju mengangkat sambungannya.


“Wa’alaykum salam.”


“Abang sehat? Abang marah ke Ade?” tanya Vella.


“Menurutmu?”


Vella diam tak bisa menjawab. Dia tahu. Sangat tahu kalau Arie marah padanya.


Lama sepi tak ada yang bicara.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNCOMPLETED  STORY  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2