UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
MONSTER TENGIL ENGGAK BERAKHLAK


__ADS_3

Tidak semua lelaki dewasa mengerti cara ‘yang benar’ memulai hubungan serius. Buktinya aku. Ternyata perempuan butuh pernyataan cinta secara verbal selain sikap yang kita tunjukkan. ~Firza Yudhasmara~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Ayok Yank, kita bikin foto disitu, Arie meminta Vella bersiap di lokasi. Arie tak menggunakan tongsis agar back ground belakang jelas terlihat semua. Dia mengatur timer ponselnya yang sejak tadi dia taruh diatas batu. Lalu berlari ke sebelah Vella. Arie memeluk erat Vella.


Lalu setelah ponsel diambil, Arie akan sering membuat foto Vella sendiri atau mereka berdua menggunakan tongsis.


“Lihat Yank rincian bangunan benteng ini,” Arie menunjukkan petunjuk yang tertera. Dia lupa Vella penduduk Kebumen dan sudah beberapa kali mengunjungi benteng ini.


Arie membaca kalau Benteng setinggi 10 meter, setebal 1,4 meter, dan seluas 7.168 meter persegi itu dibangun dua lantai. Lantai pertama mempunyai empat pintu gerbang. Di dalamnya terdapat 16 ruangan besar dan 27 ruangan kecil. Juga ada 72 jendela dan delapan tangga untuk menuju lantai dua, yang memiliki 16 ruangan besar dan 25 ruangan besar.


Puas mengelilingi benteng dan membuat foto, mereka melanjutkan ke destinasi kedua. “Abang mau makan siang disini atau nanti aja?” tanya Vella.


“Belum juga Dzuhur Yank. Masa mau makan aja? Atau kamu udah laper?” tanya Arie.


“Enggak koq, ya udah yok ke gua jatijajar,” sahut Vella.


***


“Mama ngundang makan malam besok,” Serena seperti tertampar ketika dia selesai memberi laporan rutin pagi ini. Firza sang boss memberitahu dia dapat undangan makan malam dari calon mertua dalam tanda petik.


Ya tentu dengan tanda petik, karena dia hanya kekasih Firza pura-pura.


“Dimana?” tanya Serena. Gadis ini sudah membiasakan tidak menyebut PAK atau BAPAK lagi agar tak kena hukuman.


“Besok habis maghrib aku sudah sampai rumahmu, jadi kamu enggak perlu bingung nyari alamatnya,” jawab Firza.


“Baik, pakaian resmi atau casual?” tanya Serena. Tentu dia tak ingin saltum atau salah kostum.


“Karena bertemu calon mertua yang yang penting rapi aja. Kalau kita berdua kamu boleh enggak pakai pakaian. Aku pasti suka koq” goda Firza.


Tanpa komentar dan tanpa pamit Serena keluar dari ruangan boss nya itu.


‘Dasar monster tengil enggak berakhlak!’ maki Serena dalam hatinya.

__ADS_1


‘Aku akan lihat dulu dia jemput pakai baju apa. Baru aku sesuaikan dengan pakaiannya.’ Serena memutuskan langkah apa yang akan dia tempuh agar tak salah kostum esok malam.


Serena kembali menerima telepon dari para klien juga mencatat semua berkas yang menjadi tugasnya. Mengatur jadwal pertemuan menolak jadwal permintaan promo atau penawaran yang tak berhubungan dengan bidang kerja kantornya dan banyak hal lain. Hari ini Firza tak ada jadwal meeting di luar kantor kecuali menerima satu tamu jam dua siang nanti.


“Ya, ada yang saya bisa bantu P eh …,” hampir saja Serena menyebut Pak.


“Belikan makan siang. Kita makan siang bersama di ruangan Abang,” Firza memberi perintah Serena.


“Satu beli makanan apa dan dua saya sedang tidak bawa uang cash,” jawab Serena.


“Beli chicken katsu buat saya dua porsi ditambah satu porsi salad dan kasih tahu nomor aplikasi ojolmu biar saya transfer,” jawab Firza cepat.


“Dan ingat, kamu makan bersama di ruang saya. Jadi kamu harus pesan makanan juga,” lanjut Firza sang pemaksa itu.


Serena mendengar ada notifikasi di ponselnya. Dia lihat ada deposit sejumlah satu juta masuk ke aplikasi miliknya. Dia langsung memesan apa permintaan monster tengil itu.


***


Serena melihat Firza menggunakan pakaian non formal. Hanya hoodie dengan jeans saja saat menjemputnya. Dia yang sejak tadi menggunakan hoodie dan celana katun stretch merasa tak perlu berganti pakaian. Dia hanya mengambil sling bag dan mengenakan sneaker untuk melengkapi penampilannya malam ini.


Setelah pamit pada kedua orang tua Serena Firza membawa ‘kekasihnya’ ke rumah makan yang mamanya tentukan.


“Abang juga enggak tahu. Kirain cuma makan sama mama dan papa aja,” jawab Firza. Dia peluk pinggang Serena. Dia bimbing pujaan hatinya memasuki ruangan


“Hai Ma,” sapa Firza pada Nani Susyarti sang mama.


“Nah ini pasangan yang ditunggu,” Nani menyambut Serena dengan ramah. Dia peluk Serena yang selesai memberi salim ( mencium punggung tangan ) dan dia kecup pipi calon menantunya itu.


“Wah pantas kamu enggak galau lagi, ternyata jagoanmu sudah punya pendamping,” goda seorang teman Nani.


“Rene …,” sapa Wiedowati, ibunya Arie yang ternyata hadir juga disana.


“Eh Tante Wied,” sapa Serena. Dia tak menyangka akan bertemu dengan ibunya Arie. Serena memberi salim pada Wiedo dan mencium kedua pipinya.


“Kamu kenal dia Wied?” tanya Nani.


“Kenal lamaaaaaaaaaa sekali. Dia sahabat putraku Arie. Mereka sangat akrab sejak SMP. Dan Serena seperti adik bagi anakku,” sahut Wiedowati.

__ADS_1


“Mengapa mereka tak pacaran? Biasanya bersama sejak kecil akhirnya kan pacaran,” tanya teman lain.


“Rasa sayang Arie ke Rene hanya sekedar sahabat. Dan putraku akan menikah begitu selesai wisuda. Calonnya mau dilamar bila anakku sudah selesai kuliah,” jawaban Wied ini tentu mengagetkan Serena dan membuat Firza senang.


“Nah mana yang duluan nikah? Anak Nani atau anak Wied nih?” tanya yang lain. Ternyata disana banyak juga pasangan muda yang datang karena disuruh oleh mamanya. Tentu saja Arie tak bisa datang karena sedang di Kebumen dan sejak tadi Wied sudah memberitahu kalau anaknya sedang di luar kota.


“Saya duluan Tante,” jawab Firza santai. Serena mencubit lengan Firza dengan gemas.


“Sakit Yank,” Firza tanpa malu meringis akibat cubitan itu.


“Nah itu jawaban pemeran utamanya sendiri. Doakan saja dalam bulan-bulan ini kami bisa melamar Serena,” jawab Nani senang.


Firza yang masih berdiri disebelah Serena mengecup puncak kepala Serena mendengar perkataan sang mama. “Aamiiin Ma.”


Dan didepan semua orang Serena tak bisa protes. Dia ambil kedua tangan Firza dan dia kalungkan di lehernya, karena sekarang lelaki itu berdiri di belakangnya.


“Sudah Rene, enggak perlu tunda,” Wied memberi semangat pada Serena. Dia tak tahu kalau buat Serena hubungannya dengan Firza masih berupa sandiwara. Padahal hal itu tak berlaku pada Firza.


“Tunggu lampu hijau dari Abah dulu Tante,” jawab Serena. Dia tak mungkin berkata jujur di depan semua orang kalau dia tak ada hubungan apa pun dengan Firza kan?


“Tante Rene duduk di meja sana ya,” Serena pamit pada Nani untuk bergabung dengan kaum muda yang ada di ruangan itu.


“Ayok Bang,” ajak Serena pada Firza.


***


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  UNCOMPLETED STORY  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2