UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
KEJUTAN


__ADS_3

Aku baru tahu selama ini Mamas selalu meminta maaf pada Dekan atas kelakuanku. Hari ini hari apesku. Aku diskors, belumlagi bu Dekan bilang aku sudah dilaporkan ke polisi. ~Susyanti binti Kamiran~


DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Nawang dan Ningrum baru saja keluar dari ruang rektor yang beda gedung dengan fakultas hukum. Mereka baru saja melaporkan kelakuan seorang pegawai administrasi. Sebenarnya hal itu bukan kapasitas rektor untuk menanganinya. Tapi Ningrum dan Nawang beralasan ingin temu kangen dengan adik sang rektor yang kebetulan satu tingkat dengan mereka.


‘Tunggu saja bola bergulir, kami sudah selesai,’ Nawang mengirim chat di group pada Wiedo. Tadi dia tak menghubungi adik iparnya karena belum perlu kekuatan jabatan Wiedo dan Mahesa.


‘Siiiip. Matur nuwun,’ balas sang adik ipar yang sedang rapat di gedung wakil rakyat.


Sejak tahu tentang Titie dari Tini dan Tiwi, Wiedo menggerakkan dua sahabatnya yang sekaligus dua kakak iparnya untuk bergerak.


Ternyata Nawang dan Ningrum adalah sahabat akrab Wiedo saat kuliah dulu. Tiga sekawan bunga fakultas hukum UGM kala itu. Kedua kakak Wiedo yang sering diperintah ibunya menjaga adik bungsunya akhirnya jatuh cinta pada sahabat adik mereka.


“Kalian ‘kan tahu aku susah bergerak, kalian wakili aku lah. Perempuan seperti itu enggak bisa seenaknya dibiarkan. Harus ada orang yang berani menjewernya,” Wiedo menggebu-gebu bicara dalam telepon group pagi itu setelah Arie mengatakan dia harus menemani Vella dan Endro ke Singapore.


“Aku akan minta Tiwi dan Tini menghubungi semua korbannya. Jadi kita punya banyak bukti pendukung,” sahut bude Ningrum. Dia pun keqi mengetahui Vella pingsan dilabrak Titie.


“Katakan saja Vella menantuku. Kartu namaku ada kan? Telepon aku pas menghadap rektor atau siapa pun disana. Atau kasih kartu namaku aja,” mau tak mau kali ini Wiedo memperlihatkan powernya.


***


“Tie, ada telepon untukmu di line tiga dari bu Dekan,” seorang rekan Titie memberitahu.


“Oke, makasih,” jawab Titie sambil menghampiri telepon ruangan.


“Baik Bu. Saya segera ke ruangan Ibu,” sahut Titie. Rupanya dia dipanggil menghadap.


***

__ADS_1


“Saya sangat sering mendengar kelakuan bar-bar mu selama ini. Tapi saya masih diam karena saya pikir mahasiswi yang kamu labrak tidak memberi pengaduan dan pak Baskoro juga selalu meminta maaf pada saya secara personal,” dekan langsung bicara tanpa basa basi ketika Titie berada didepannya.


“Tapi barusan saya ditegur rektor dan saya tidak terima karena saya disalahkan oleh beliau. Kamu tahu? Ibu mertua Vella anggota DPR RI dan bapak mertuanya seorang jenderal. Mereka memberikan data semua mahasiswi yang telah kamu labrak dan semua mahasiswi itu bersedia menjadi saksi dipersidangan nanti.”


“Mereka telah membuat laporan tertulis ke polisi. Kamu tunggu saja panggilan polisi dan kami tak akan pernah melindungimu.” dekan tentu tak suka dia disalahkan bukan karena perilakunya. Rupanya toleransi yang dia berikan malah membuat dia terseret amarah atasannya.


“Saya akan buat Titie merangkak meminta maaf pada putri saya. Camkan itu!”  Titie keluar ruang dekan dengan lemas. Dia kembali terngiang ucapan lelaki yang kemarin berjanji akan menyerahkan tiga perusahaannya bila dia bisa membuktikan Vella selingkuhan suaminya.


‘Apes nasibku kini,’ pikir Titie.Terlebih tadi bu Dekan memberi skorsing dua minggu sejak hari ini.


***


“Pak, ada polisi cari Titie,” Ibas menerima telepon dari simbok.


“Berikan teleponnya ke polisinya Mbok,” pinta Ibas yang baru saja selesai memberi kuliah. Dia bahkan belum keluar dari kelas.


Ibas tak percaya polisi membawa surat penangkapan Titie karena ada pengaduan dari tiga orang sarjana hukum yang bekerja sebagai pembela Vella.


“Itu nomor ponselnya Pak. Kalau keberadaannya saya tidak tahu karena sejak kemarin dia saya usir dari rumah saya. Mungkin masih ada di kantornya. Atau bisa jadi sudah pergi. Saya masih berada dikelas jadi tidak tahu,” Ibas tak mau tersangkut masalah yang Titie buat. Dia juga tadi menyebut alamat orang tua Titie di Wonosari.


***


Firza tak dapat tidur, dia menyesal menjauh dari Serena. Baru satu hari di German, dia tak bisa berbuat apa pun. Padahal jarak tempuh Jakarta ke Frankfurt lebih dari dua puluh jam. Bahkan ada maskapai yang waktu tempuhnya 30 jam. Sekarang sudah tiga hari dia tak bertemu pujaan hatinya. Dan dia tak mau buang waktu lagi. Dia akan segera mencari tiket pulang ke Jakarta.


Orang kaya, uang berpuluh juta dia buang untuk beli tiket pulang pergi tanpa bisa mengatasi kegalauannya. Dan sedihnya tiket untuk hari ini dan esok sudah habis. Firza makin kacau. Mau hubungi Serena lewat telepon, rasanya enggak pas. Tapi enggak telepon, dia tak kuat menahan rindu.


‘Saat ini waktu Jakarta pukul 19.30. dia pasti sedang santai di rumahnya,’ Firza mendial nomor telepon Serena. Sekarang waktu Frankfurt adalah pukul 13.30.


Serena yang sedang salat tentu tak bisa menerima telepon itu.


‘Maaf, tadi sedang salat. Ada apa?’ Serena mengirim chat ketika melihat dua panggilan tak terjawab dari Firza.


Sekarang gantian Firza yang tidak segera menjawab karena dia sedang makan siang. Dan ponselnya dia tinggal dikamar. Firza tidak menyewa hotel atau tinggal di apartemenmya. Sejak dia akan kembali ke Indonesia, apartment miliknya dia jual daripada rusak karena kosong. Sekarang dia menginap di mess karyawan, di kamar temannya.

__ADS_1


“Assalamu’alaykum,” Serena langsung memberi salam saat Firza menghubunginya. Firza memang langsung menghubungi Serena saat kembali dari makan.


“Wa’alaykum salam. Kamu lagi apa? Sudah makan? Kamu sehat kan?” Firza memberondong pertanyaan. Dia sangat senang mendengar suara yang dia rindu.


“Satu-satu dong nanyanya,” protes Serena.


Firza langsung mengubah panggilan menjadi video call. Dan dia senang karena Serena menerima perubahan itu.


Firza memandangi wajah yang dia rindu. Wajah yang membuat dia melarikan diri sangat jauh dari Jakarta, tapi sekarang dia menyesal karena terhimpit rindu yang sangat menyiksa.


“Kamu enggak kangen Abang?” desak Firza. Dia tatap mata gadis itu dalam-dalam.


“Enggak. Aku marah ke Abang,” sahut Serena dengan berani. Karena tahu Firza enggak akan bisa menciumnya.


“Marah kenapa? Harusnya kan Abang yang marah karena kamu bikin Abang kecewa,” Firza tentu tak terima Serena marah padanya.


“Abang pergi enggak pamit. Enggak kasih tahu. Kalau marah ama Rene, ya jangan sangkut pautin ama kerjaan. Harusnya kasih tau biar Rene enggak kalang kabut. Pokoknya akhir bulan Rene akan resign. Jadi silakan aja menetap terus disana. Atau balik kesini dengan sekretaris lain. Surat resign tadi pagi sudah Rene kasih ke bu Evvy biar di ACC pak Faisal. Sepertinya siang tadi pak Faisal sudah cek. Semoga sudah dia tanda tangani,” jawab Serena.


“Kamu enggak bisa seenaknya gitu,” Firza tentu kaget mendapat kejutan dari Serena.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  WANT TO MARRY YOU  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL   WANT TO MARRY YOU   ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2