UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
PERCUMA AKU BICARA BERBUSA-BUSA


__ADS_3

Bahagia itu relative. Tak ada tolok ukurnya. Dan tak sama untuk setiap orang. Aku delapan tahun tidur di sofa, tapi aku merasa bahagia bila tak diusik ketenganku di kamar ini. ~Baskoro Gunawan~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Dan Arie sosok yang dihubungi Vella hanya akan menunggu. Dia ingin membuat gadis kecilnya bisa meredam emosi labilnya dan belajar dewasa. Dia akan bicara bila Vella telah menyadari kesalahannya.


‘Percuma aku bicara berbusa-busa dan menjelaskan sesuatu bila dia masih seperti itu. Kalau dia tidak kost dan berpisah dengan keluarga besarnya, dia akan tetap childish. Aku tak ingin dia mudah dibohongi oleh siapa pun orang disekitarnya.’


“Ade tahu Abang marah. Dan Ade tahu Ade salah. Ade minta maaf,” akhirnya Vella berani mengemukakan semuanya.


“Kamu tahu salahmu dimana?” tanya Arie.


“Ade langsung ngambeg. Ade enggak cross check dulu ke Abang,” jawab Vella.


“Kamu enggak inget kalau Abang enggak bakal mendua? Abang enggak mau Frina dan Frani menerima karma karena kelakuan Abang. Belum lagi nanti anak-anak Abang. Inget itu. Kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri!” Arie mengingatkan Vella prinsip hidupnya.


“Iya Bang. Maafin Ade,” sekali lagi Vella menyampaikan permintaan maafnya. Dia benar-benar menyadari kekeliruannya.


“Kalau hanya sekedar ucapan minta maaf, lalu Abang juga asal bilang : iya Abang maafin, itu gampang De. Besok-besok lagi itu akan terulang. Abang udah satu kali kasih Ade contoh soal marahmu di malam pentas seni, kamu ulangi lagi kan kemaren. Kalau sekarang Abang kasih maaf lagi, kamu akan ulangi lagi … lagi dan lagi De.” Arie berhenti sebentar.


“Semua itu harus dari pikiran dan hati. Pikiranmu harus sadar yang kamu lakukan kemarin itu salah. Dan hatimu harus diajak sabar jangan asal ngambeg lalu bertindak semaunya,” Arie menasehati Vella dengan lembut. Tak ada intonasi marah.


“Kamu harus sabar menghadapi dia!” Arie ingat pesan Endro padanya berkali-kali. Arie sadar kalau Vella memang masih terlalu labil.


“Iya, sekarang Ade beneran sadar kalau yang Ade lakukan kemaren salah besar. Itu makanya Ade enggak kirim pesan ke Abang, tapi langsung telepon. Biar jelas. Kalau lewat tulisan Abang enggak akan tahu kalau Ade beneran jujur nyesel dan minta maaf,” suara Vella sedikit terisak.


“Ya sudah, Abang mau pergi dulu. Assalamu’alaykum,” Arie langsung memutus sambungan telepon dari Vella. Dia mendengar suara Vella yang mulai terisak. Dia tak tega. Arie yakin bila diteruskan, dia akan mendengar suara tangis Vella.


Vella menatap ponselnya. Dia yakin Arie belum sepenuhnya memaafkannya. Buktinya lelaki itu langsung memutus pembicaraan mereka. Vella yang semalam kurang tidur akhirnya tanpa sadar tertidur sambil memegang ponselnya.


***

__ADS_1


‘Kalau dia bukan anak Endro, artinya …,’ Ibas terus saja memikirkan Vella.


Ibas pulang dengan kegalauan hati. Dia semakin penasaran dengan sosok Vella begitu mengetahui alamat Vella adalah alamat yang pernah didatangi Dika terakhir kali dia melihat kekasihnya sebelum kelulusan mereka.


‘Apa Dika tidak menggugurkan kandungannya?’


‘Itu artinya …,’


“Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaah,” teriakan Laras putri kecil Ibas mengganggu lamunan lelaki itu.


“Assalamu’alaykum anak cantik Ayah,” Ibas mengulurkan tangannya untuk dicium oleh Laras. Dia memang lembut pada Laras, tapi sejak anaknya kecil dia tak suka menggendong anak itu. Karena jika dia sedang menggendong Laras, Titie akan sengaja mendekat dan sengaja memeluk mereka berdua.


Jangan salahkan Ibas bila akhirnya dia tak suka menggendong Laras. Ibas akan menggendong putrinya bila Titie tak ada di rumah.


“Cantik sudah mandi ya?” tanya Ibas, dia mengeluarkan satu buah coklat kecil untuk putrinya. Memang dia sengaja membeli yang kecil agar Laras tak terlalu banyak mengkonsumsi permen. Kadang dia membelikan satu kotak juice atau suusu, kadang dia belikan ya-kult. Dan dia berikan hanya satu agar Laras tidak membuka semua.


“Matur nuwun Ayah,” Laras menerima pemberian ayahnya. Setiap sore memang gadis kecil itu menunggu ayahnya datang. Dia menunggu oleh-oleh yang ayahnya bawakan setiap hari.


Ibas langsung masuk kamar bukunya. Dia memang menyimpan tas kerja serta tumpukan tugas serta buku di satu buah ruang terpisah. Kalau orang yang punya perusahaan mungkin ruangan Ibas disebut ruang kerja. Buat Ibas ruang ini adalah ruang buku.


Selebihnya rak buku saja sekeliling tembok. Di sofa itu biasanya Ibas tidur selama ini. Kalau pagi Ibas baru masuk kekamar tidurnya untuk mandi dan bersiap kerja.


Delapan tahun Ibas puas dengan tidur di sofa itu tanpa mengeluh. Dia juga tak punya niat membeli kasur untuk dia gelar dilantai agar bisa tidur dengan nyaman. Kenyamanan buatnya bila hidupnya tak diganggu. Itu saja.


***


Hari hampir maghrib ketika Vella kaget terbangun karena ponselnya berisik. Dia perhatikan dengan saksama suara dering itu adalah dering milik Arie.


“Iya hallo Bang?” Arie rupanya menghubunginya.


“Buka pintu kamarmu,” tanpa menunggu jawaban Arie mematikan sambungan pembicaraan.


Vella masih bingung, tapi dia membuka juga pintu kamarnya.

__ADS_1


“Abaaang …,” Vella kaget dan dia memeluk Arie sangat erat. Dia langsung menangis dipelukan kekasihnya itu.


“Eh …, jangan nangis dong?” Arie berbisik lembut dan mencium puncak kepala Vella.


“Kamu dari tadi ketiduran dan belum salat Ashar kan. Sana salat dulu. Udah mau masuk Magrib,” Arie menyuruh Vella segera salat.  Dia hapus air mata kekasihnya dengan ibu jari miliknya. Dia kecup kening Vella.


“Salat Ashar dulu. Nanti salat Maghribnya kita jamaah ya?” Arie mencoba mengajuk hati Vella agar gadis kecilnya tenang.


Vella pun patuh. Dia segera masuk untuk melakukan salat Ashar.


“Ade benci ama Abang. Abang bo’ongin Ade bilang pulang ke Jakarta!” Vella ngambeg setelah dia selesai melakukan salat Ashar.


“Kamu sih bikin Abang bete. Emang enggak mikir gimana ketakutannya Abang waktu kamu ngilang? Kamu enggak bawa hape dan enggak bawa dompet. Kepikir enggak bingungnya Abang? Belum lagi kamu disini buta. Apa Abang enggak senewen?” tanya Arie sambil merengkuh bahu Vela agar bersandar pada dirinya.


“Udah gitu bukan langsung pulang malah muter kemana dulu, Apa Abang bisa makan mikir kamu  ngilang sampai sore? Kalau saat itu Helmi keliatan ama Abang, jangan harap nyawanya masih ada dalam badan dia,” lanjut Arie.


“Iya, Ade kan tadi udah minta maaf,” rajuk Vella.


“Minta maaf tapi barusan ngamuk ke Abang,” Arie pun keqi karena diprotes Vella.


“Abang enggak bakal bo’ong gitu kalau enggak marah. Tadinya emang serius mau balik ke Jakarta, tapi dimarahin Bude. Bude pasti bisa ngerasa ada yang enggak beres, maka dia ngelarang Abang balik sebelum persoalan clear,” jawab Arie sambil terus mengecupi puncak kepala kekasihnya.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2