
Aku enggak tahu ibu kemana, kata simbok ibu minggat. Aku enggak tahu artinya apa. Tapi sejak ibu enggak ada, aku jadi ‘punya’ ayah yang selalu tersenyum dan bicara manis padaku. Aku juga punya banyak kakak yang sayang ke aku. ~Larasati Gunawan~
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Untuk makan siang sang bunda membuat tumis sawi putih yang kemarin sudah Siena beli. Lauknya tempe goreng. Tadi Siena dan the genk mengadakan zoom. Wajah bahagia terpancar pada semua ketika melihat semua senang. Itu lah persaudaraan yang sesungguhnnya. Selanjutnya Siena dan bunda melapor pada pak RT kalau mereka adalah penduduk baru disitu.
Dari bu RT, Annisa mengetahui letak twarung sayur dan juga pasar. Taapi bu RT bilang kalau pagi ada tukang sayur kecuali hari Minggu. Mungkin tukang sayur malas keliling karena umumnya kalau hari Minggu penghuni perumahan pada pergi belanja ke pasar.
***
“Yah, nanti kalau belum dapat guru fisika pengganti, terima aja bundanya Siena. Dia itu lulusan institut keguruan jurusan fisika. Ketika di Jakarta dia ngajar di SMP swasta. Dia S1 koq, berarti bisa kan ngajar di SMA?” Vella dan Laras sedang berbagi keripik singkong saat mereka menunggu nasi goreng sapi Padmanaba berlokasi di Jalan Yos Sudarso, Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
“Lho, kenapa enggak bilang sejak semalam? Ya sudah Ayah enggak perlu nyari lagi lah. Ngapain Ayah repot-repot nyuruh buka lowongan kalau emang udah ada tenaga yang siap didepan mata?” jawab Ibas enteng.
“Jadi kapan bu Annisa suruh antar lamaran ke SMA? Dan ditujukan ke siapa?” tanya Vella cepat.
“Bikin lamaran aja ke ketua yayasan, nanti Ayah bikinkan alamatnya juga siapa yang dituju deh,” Ibas mulai menyuap nasi goreng miliknya yang baru saja diantar.
Laras dan Vella hanya pesan satu porsi untuk berdua tapi minta telur ceploknya dua. Walau ‘kehilangan’ ibu tapi Laras senang kondisi sekarang. Ayahnya full berbincang dengannya, tidak seperti ketika ada ibunya.
__ADS_1
Dan ibunya ada tapi tak ada. Sosoknya ada di rumah tapi tak pernah memperhatikan dan memberi kasih sayang padanya.
Sekarang dia tanpa ibu tapi punya banyak kakak. Jadi buat Laras dia tak rugi Titie pergi.
“Gimana? Enak enggak?” Tanya Vella pada adiknya. Tadi Vella membagi dua pesanan mereka, karena dia menambahkan banyak sambal di nasi goreng miliknya.
“Enak Mbak,” sahut Laras.
“Halah kowe, opo wae yo diceluk enak,” goda sang ayah membuat mereka bertiga tertawa.mereka tak sadar sejak tadi ada sepasang mata yang menatap mereka penuh amarah.
‘Selama pernikahan kami, tak perah kami pergi keluar bertiga, apalagi makan bareng sambil bercanda. Ngobrol aja enggak pernah. Ini koq malah akrab banget,’ pasti reader tahu ya siapa pemilik mata yang memandang mereka dengan penuh amarah.
‘Di rumah aja dia tak pernah bicara pada Laras ketika ada aku. Mengapa sekarang semua berubah?’
***
‘Sien, ayah bilang bunda disuruh bikin lamaran ditujukan ke nama itu dan alamatnya itu. Suruh diantar sesegera mungkin karena ayah malas cari guru dengan buka lowongan.’ Vella mengirim pesan itu sebelum tidur.
Sekarang dia kembali sendirian setelah dua minggu full bersama dengan Siena.
‘Oke, aku cuzz ke kamar bunda. Makasih ya sayangku,’ balas Siena. Tentu saja Annisa harus membuat lamaran dulu lalu dia harus ngeprint. Siena tak punya printer. Jadi nanti dia buat di flash disk lalu akan cari tempat nge print.
Sekali lagi Annisa bersyukur akan kemudahan yang dia dapatkan. Walau dia sudah bertekad akan melakukan apa pun demi bertahan hidup untuk kedua anaknya. Tapi saat ada kesempatan baik masa dia harus tolak karena alasan tak enak karena sudah banyak dibantu.
__ADS_1
***
Atikah kesal. Kembali Helmi tak peduli padanya. Padahal selama ini mereka seperti pasangan yang saling mengerti walau tak terucap kata cinta.
“Kamu koq enggak nungguin aku sih?” protes Atikah.
“Ya ampun. Masa orang sudah selesai mesti nungguin kamu. Lagian aku sudah lapar. Jadi begitu aku selesai ya aku mending langsung ke kantin lah,” jawab Helmi yang sudah selesai makan dan siap meninggalkan Atikah yang makanannya baru datang.
‘Dia kenapa sih? Apa dia masih mikirin Vella? Sedang Vellanya aja cueq enggak nanggepin,’ Atikah tambah geram ketika Helmi benar-benar meninggalkannya lagi.
‘Vella bertiga dengan Anis dan Surti, lalu Helmi kemana?’ Atikah yang sudah selesai makan melihat Vella dan teman-temannya sedang makan siang di bangku taman dengan bekalnya masing-masing.
Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta
\===========================================
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya teman yanktie yang bernama AISY ARBIA dengan judul novel GERBANG PERSELINGKUHAN yok! Ceritanya pasti seru dan enggak akan nyesel deh bacanya.
__ADS_1