
Semua tak ada yang mau dibohongi. Termasuk aku~Novella Moraletta~
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Pasangan Asih dan Harllo sadar sebentar lagi akan ada perang dunia.
Frina, Frani dan Wiedo tahu Vella terluka karena Arie tak jujur mengenai kelakuan Ariena.
"Kenapa kamu enggak terbuka masalah anak pak Wildan? Bersiaplah bom Hiroshima akan meletus," walau sedang sibuk dengan tamu Mahesa sempat menegur Arie.
Karena teguran sang bapak dan melihat Vella sejak tadi menghindarinya, Arie sadar ada hal yang tak ia harapkan.
Sejak tadi Vella selalu duduk dekat para orang tua. Dekat para uwak atau pakde dan budenya.
Vella tak mau duduk dekat adik-adiknya atau dekat para temannya seperti Serena atau Asih.
Arie tentu tak bisa mengajak Vella bila gadis itu duduk dekat para tetua. Dia yakin Vella akan tanpa sungkan menolak ajakannya. Dan itu akan membuatnya malu.
'*Kamu pintar mencari pagar*,' Arie mengakui kepintaran Vella membaca situasi.
Vella tak bisa ikut Endro pulang karena Endro datang bersama teman bisnisnya , dari pesta sini mereka masih ada keperluan lain.
"Bu, Vella pamit dulu ya." Pukul 23.00 saat semua tamu sudah pulang Vella yang telah berganti pakaian dan membersihkan make up wajahnya mohon pamit sudah membawa ransel kecil berisi bajunya. Dia memasukkan gaun dan sepatu ke paper bag. Tak bisa di masukkan di ransel kecilnya.
"Kamu enggak nginep aja?" Tanya Wiedo.
"Enggak Bu. Aku bikin kumpul bareng dengan teman SMA di rumahku. Jadi walau hanya goreng bakwan, aku harus dirumah 'kan," balas Vella.
"Abang masih beberes. Sebentar lagi ya," Wiedo melihat Arie sedang memperhatikan para pekerja untuk beres-beres rumah.
__ADS_1
"Aku sudah panggil taksi online koq Bu. Enggak usah ngerepotin. Ini dia sudah datang," Vella memperlihatkan telepon masuk dari sopir taksi online yang sudah di pesannya.
Saat itu Wiedo langsung tahu Vella sedang tak baik-baik saja. Dia peluk gadis itu dengan lembut.
"Ibu sayang kamu. Yang sabar ya. Semua bisa kita hadapi bersama," bisik Wiedo.
"Tak ada maaf untuk sebuah kebohongan. Karena dari satu kebohongan yang kita buat, kita akan membuat kebohongan lain untuk mendukung kebohongan pertama. Begitu seterusnya Bu. Assalamu'alaykum," dengan senyum manis Vella pamit. Dia juga pamit pada Mahesa dan semua kerabat Arie di ruang itu.
"Abang. Apa segitu bencinya Abang ke mbak Vella sehingga dia pamit pulang?" Arie kaget ketika Frani bilang Vella telah pamit pada semua orang dan semua sudah tahu Vella akan pulang dengan taksi online.
'*Dia sudah memproklamirkan diri kami sedang tidak baik-baik saja*,' Arie sangat sedih atas kejadian ini.
"Ayok Abang antar. Taksinya sudah Abang suruh cancel dan sudah Abang bayar walau kamu sudah lunas bayar pakai aplikasi online."
"Abang antar Vella dulu Bu," pamit Arie. Dia melihat ada luka dimata ibunya.
\*\*\*
Tak ada yang memulai pembicaraan. Mau berhenti untuk bicara, Arie tahu ini sudah terlalu larut.
Dan Arie tahu Vella sedang sangat emosi. Maka Arie seperti berada di dua persimpangan. Mau ambil kanan atau kiri?
"Ade kenapa marah?" Tanya Arie lirih.
Vella tak menjawab. Dia sudah malas untuk ribut. Bukankah pria di sebelahnya ini yang selalu meminta dia jujur tentang apa pun?
Mengapa malah dia yang tidak jujur soal Ariena? Harusnya walau Arie tak menanggapi godaan Ariena, Arie harus menceritakannya.
"De … jawab *please*,' pinta Arie memelas.
__ADS_1
"Enggak ada yang marah dan enggak ada yang perlu dibahas," jawab Vella datar.
"Kalau enggak marah kenapa sejak tadi Ade menghindari Abang dan malah mutusin pulang dengan taksi online?" Arie terus mendesak Vella.
"Enggak ada yang menghindar. Soal taksi online hanya berpikir praktis aja. Keluarga lagi kumpul. Sebaiknya kamu jangan nganterin aku," balas Vella.
"Kamu? Ade nyebut Abang dengan panggilan kamu dan Ade bilang enggak marah?" Arie sadar sesadar sadarnya kalau Vella sangat marah padanya.
Arie menarik napas panjang. Sesungguhnya dia tak ada tujuan lain.
Arie tak ingin Vella jadi ketakutan setiap hari bila Arie berangjat kuliah karena Vella akan cemburu memikirkam Arie bertemu Riena di kampus.
Arie tak menganggap Riena sosok yang perlu dipikirkan dan membuat Vella cemburu.
Sebenarnya Vella bukan marah karena ada perempuan lain. Kemarahan Vella lebih dititik beratkan pada kejujuran Arie. Pada komitmen mereka akan selalu jujur pada pasangannya.
"Terima kasih," tanpa menunggu, Vella langsung turun dari mobil. Sejak tadi dia sudah mengirim pesan pada simbok dan dia miscall beberapa kali agar simbok membaca pesannya.
Pintu rumah sudah dibuka simbok sehingga Vella tak perlu menunggu. Vella langsung masuk kamarnya dan mengunci pintu kamar pelan. Dia tak ingin Siena terganggu tidurnya.
Arie memandang terpaku kepergian Vella.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul CINTA KECILNYA MAZ itu ya.