UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
MENDENGAR LANGSUNG BAHASA NGAPAK VERSI KEBUMEN


__ADS_3

Lain ladang lain belalang. Peribahasa ini sudah ada sejak jaman dulu. Aku pun menyadari, bahasa yang aku dengar di Kutoarjo berbeda dengan bahasa jawa di Jogja. Apalagi bahasa jawa di Kebumen ini. ~Ashoery Rustamaji~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Tentu Kamila menggunakan bahasa jawa Kebumen yang buat telinga Arie belum familiar. [ Kon ana sing ngePet na degan sing ana isine tapi aja ketuwan = suruh seseorang memetik kelapa muda yanga da isinya tapi jangan ketuaan ].


Bahasa Jawa, beda kota tentu beda dialegnya. Kutoarjo dan Purworejo yaang berdekatan saja beda apalagi Kebumen dengan Jogja.


“Degan biasa nopo sing abrit Bu?” tanya pegawainya. Dia takut salah menyampaikan pesan pada orang yang disuruh memetik kelapa nantinya. [ Degan biasa nopo sing abrit Bu = kelapa muda yang biasa atau yang merah Bu ].


“Lorone bae, ben ngerti bedane, aja kokehan. Nek ora entong eman-eman,” sahut bu Kamila. [ Lorone bae, ben ngerti bedane, aja kokehan. Nek ora entong eman-eman = keduanya, biar bisa tahu membedakannya. Jangan kebanyakan metiknya. Kalau tidak habis sayang-sayang ].


“Njih Bu,” sang pegawai langsung kebelakang memanggil pegawai lelaki yang disuruh naik ke pohon kelapa sesuai dengan perintah majikannya. Dia sendiri langsung mengiris halus gula merah untuk minum kelapa muda seperti kebiasaan keluarga ini.


“Abang, ayok ke teras belakang,” Vella mengajak Arie kebelakang setelah mengantarkan kekasihnya ke kamar tengah dan menaruh tas pakaian Arie. Vella dan Endro punya kamar sendiri di rumah ini.


Teras belakang langsung terhubung dengan tanah super luas berisi tanaman salak disebelah dalam pagar pembatas dengan masjid, lalu kanan kiri pagar pembatas dengan kebun tetangga ditanami tanaman kopi. Ditengah kebun ada pohon sukun, aneka pisang, kelapa serta pohon tiga pohon duren, satu pohon rambutan, dua pohon jeruk nipis, satu pohon jeruk purut.


“Abang bisa naik pohon kelapa?” tanya Vella melihat Arie sedang memperhatikan pegawai eyang memetik kelapa.


“Kayaknya enggak ha ha, kelihatannya mudah ya. Belum pernah coba sih. Tapi kayaknya sulit,” sahut Arie.


“Beda ya suasana rumah eyang dan suasana rumah Senepo,” Arie merasa senang dengan suasana di rumah Yoyok ini.


“Rumah papa kan ditengah kota. Maka dia buat kost-kost an sejak mereka berumah tangga. Lhaa kalau di desa sini gimana laku kalau dibikin rumah kost?” jawab Vella cepat.


“Kondisi desa dan kota juga beda, makanya tadi eyang juga enggak langsung nyuruh bikinin minum. Karena minumnya lagi dipetik langsung dari pohon,” lanjut Vella.


***

__ADS_1


“Niki sampun den ayu, bade sing abrit nopo sing bioso?” tanya paman yang memetikkan kelapa pada Vella. [ Niki sampun den ayu, bade sing abrit nopo sing bioso = ini sudah siap tuan putri, mau yang merah atau yang biasa? ].


“Niki gendise mbak Vella,” simbok membawakan irisan gula merah di piring juga beberapa sendok kecil dengan tangkai panjang. [ Niki gendise = ini gulanya ].


“Setunggal bioso, setunggal abang Pamane,” sahut Vella. [ Setunggal bioso, setunggal abang Pamane = satu yang biasa, satu yang merah Paman ].


“Abang, ini yang kelapa biasa, seratnya putih ketika baru ditebas. Nah itu yang lagi dibuka, kelapa ijo yang buat obat. Serat sabutnya merah,” Vella menjelaskan perbedaan kelapa muda ijo dengan kelapa muda biasa.


“Abang mau yang mana? Kalau mau tambah gula merah itu sudah disiapkan simbok. Biasa kami disini menyebutnya RUCUH DEGAN,” Vella berjongkok dekat paman yang sedang membuka kelapa muda untuknya.


“Rasanya sama aja ‘kan Yank?” tanya Arie yang ikut berjongkok dekat Vella.


Tanpa menjawab Vella menyodorkan sebutir kelapa yang sudah dibukakan oleh paman pegawai Kamila ke mulut Arie.


“Nah sekarang cobain yang ini,” kemudian dia menyodorkan kelapa muda yang lain kemulut kekasihnya.


“Kayaknya sama aja ya Yank?” Arie memberi hasil pengamatan kecap lidahnya.


Mereka duduk dilantai teras dan asyik ngobrol disana sambil meminum rucuh degan masing-masing. Yoyok pergi bekerja jadi siang memang tak ada di rumah. Dan kebetulan saja Kamila tak pergi ke yayasan miliknya.


“Sudah lama Rie?” tanya Yoyok. Dia memang bekerja hanya sampai jam makan siang saja. Dia upayakan salat dam makan siang dirumah. Terlebih bila istrinya sedang tidak pergi ke yayasan yang dipimpinnya.


Arie menoleh dan segera berdiri, menghampiri Yoyok dan memberi salim. “Assalamu’alaykum Eyang, baru pulang kerja?” Arie memberi salim, sedang Vella langsung memeluk kakeknya dengan manja.


“Wa’alaykum salam. Eyang kan kerja hanya jalan-jalan saja. Agar enggak jenuh di rumah,” balas Yoyok.


“Eyang mau aku bikinkan rucuh?” tanya Vella.


“Nanti saja, kita bersiap salat Dzuhur saja, habis itu makan siang,” ternyata Kamila sudah berada disana. Terdengar dari masjid mulai dinyalakan speaker, artinya akan dikumandangkan adzan.


“Ayo Rie, kita ke masjid,” ajak Yoyok.

__ADS_1


“Iya Eyang, aku ambil sarung dan peciku,” Arie memang membawa kedua benda yang dia bilang tadi. Dia malah langsung memakai sarung karena takut celana panjangnya terkena kotoran selama perjalanan tadi.


***


“Kita makan sate ambal yok Bang,” Vella mengajak Arie ke pojok alun-alun Kebumen.


“Bedanya ama sate biasa apa Yank?” tanya Arie penasaran.


“Sate ambal tu sate ayam makanan khas Kebumen, Bang. Sate ambal berbeda dengan sate ayam biasa.   Sebab, saus pendamping sate ambal adalah saus tempe. Sate ambal sama sekali tidak menggunakan kacang tanah dalam resepnya.  Tempe membuat rasa saus sate ambal punya rasa yang unik, ada gurih dan tekstur empuk tempe,” sahut Vella.


“Jadi dia sate ayam? Tapi bumbunya bukan pakai kacang tanah. Dan bukan daging sapi, kerbau atau kambing ya,” Arie memastikan.


“Iya, sate ayam,” sahut Vella. Dia duduk ditikar yang telah digelar oleh tukang sate di pinggir alun-alun.


Vella memesan 40 tusuk sate ayam, karena memang ukurannya kecil-kecil jadi kalau hanya pesan 20 tusuk untuk berdua tak akan kenyang. Dia memesan dua porsi lontong, dan sebelum dimakan, yang satu porsi dia pindahkan sedikit ke piring lainnya. Jadi Arie akan makan lontong lebih banyak dari dirinya.


“Sensasi rasanya bumbunya beda ya Yank, Abang suka nih,” Arie menambah sambal di piring sate miliknya.


“Emang beda, maka Abang aku ajak makan ini,” sahut Vella. Sampai saat ini dia belum berani memanggil Arie dengan sebutan sayang special kecuali abang. Sedang Arie dihari pertama jadian saja sudah memanggilnya YANK.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  WANT TO MARRY YOU  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2