UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
KOTAK SURAT


__ADS_3

Aku tak lagi punya wibawa di depan sahabat anakku. Merry sudah mengatakan betapa buruknya perlakuan kami padanya~Christian & Fransisca~


Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Akhirnya mereka sampai di rumah Merry sehabis minum dan segala macamnya, Mama Merry bilang ke suaminya 



"Ayok Pa ini temen-temennya Merry mau bicara sekarang tentang amanat dari Merry untuk kita berdua. Kita diminta duduk di kamar Merry karena katanya pesannya ada di sana," Fransisca mengajak Christian suaminya. 



Maria mertua Fransisca mendengar. Tapi dia diam. Maria dan Cilla anak bungsunya yang paling kehilangan Merry. Karena mereka yang paling dekat dengan Merry dibanding kedua orang tuanya.



Akhirnya lima anak gadis ditambah Pandu, Helmi dan Arie ditambah dua orang tua Merry masuk ke kamar Merry yang sangat luas dan mewah. Di sana ada sofa, ada kursi belajar, kursi kecil meja rias. Jadi mereka bersepuluh bisa duduk. Yang tidak kebagian kursi atau sofa duduk di tepi ranjang Merry. 



"Maaf Tante, Om saya Arie. Saya suaminya Vella kami sudah menikah tiga bulan lalu. Saya mencoba menjadi juru bicara istri saya dan para sahabatnya." Arie membuka pembicaraan siang ini.



"Tadi malam Wieke menceritakan kalau dia menerima pesan dari Merry dua hari lalu."  Wieke menyodorkan ponselnya ke Arie dalam sudah posisi sudah terbuka jadi nggak perlu password lagi.



"Sekarang saya bacakan dulu ya Om Tante.  Habis ini akan saya forward dari ponselnya Wieke ini ke ponsel Tante. Karena itu adalah amanat Merry. bahwa harus disampaikan ke ponsel Tante dan ponsel Om."



"Kalau Wieke punya nomor ponsel Om saya juga akan langsung forward tapi mungkin dari dari ponsel Tante bisa ke ponsel Om saja."



"Saya akan bacakan dulu ya Tante Om mohon maaf kami tidak mengada-ngada ini pesannya Merry."



"Pesan pertama yaitu dia mengatakan banyak meninggalkan pesan untuk kami di laci meja belajarnya yang paling bawah. Kalau tidak ada kuncinya kami disuruh membobok laci itu untuk mendapatkan pesan. Jadi kami tidak mengada-ada."


__ADS_1


"Pesan Merry yang berikutnya adalah kami diminta wajib memforward pada tante dan om jadi jelas ya Tante bukan kemauan kami."



"Tadinya Wieke malah tidak mau memforward karena ini tidak sopan buat dia tapi kami beranggapan pesan dari orang meninggal wajib disampaikan."



"Di dalam pesannya Merry juga menyebutkan semua harta yang dia miliki itu ditinggal untuk Dian!"



"Dian sama sekali tidak minta hal itu Tante. Serius Dian tak minta dan tidak tahu apa pun karena semua Merry sampaikan melalui Wieke. Bahkan sampai nomor pin-nya aja dibuat oleh Merry menjadi tanggal bulan dan ulang tahun Dian."



"Kalau Tante tidak rela ambil saja. Saya yang mewakili Dian mengatakan ini.  Saya tahu dia tidak mau," Arie menuntaskan semua pesan Merry.



"Jadi itu ya Tante, Om, sekarang saya forward semua pesan ini ke nomor Tante,"  Arie memberikan ponsel itu ke Wieke biar Wieke yang mem forward.



"Sambil Tante dan Om baca semua pesan itu saya cari kunci ya Tante Om," kata Arie.




Arie membuka tempat pensil di meja, juga tempat bolpoin di meja belajar itu.



"Bang mungkin itu yang  digantung," kata Vella menunjuk tempat kunci digantung didinding.



"Oke kita coba itu," lalu Arie membuka laci terbawah saja. yang lain nggak dibuka karena tidak sesuai oerintah Merry. Setelah beberapa kunci gagal, akhirnya terbuka juga laci paling bawah.



Laci itu sangat rapi sekali surat di sana disimpan per kotak dengan nama masing-masing. Ada kotak atas nama Vella, atas nama Siena, atas nama Risye, atas nama Wieke atas nama Dian, Lalu ada selembar amplop tanpa kotak untuk kedua orang tua Merry.



"Tante, mohon lihat sebelum kami mengambilnya." Arie meminta Fransisca melihat laci sebelum dia memegang isinya. Dia juga sempatkan membuat dokumentasi agar tak ada yang disalahkan setelah dia memegang isi laci.


__ADS_1


Fransisca dan Christian melihat isi laci putri mereka itu.



"Kami hanya mengambil ini dan kami akan pulang Om Tante. Ini masing-masing kotak sudah tertera nama masing-masing. Arie mengambil setiap kotak dan memberikan pada pemilik nama kotak itu.



Lalu ada satu kotak tersisa di sana. Satu kotak berisi perhiasan dan kartu ATM. nama kotak tertulis di situ adalah DIAN VIA WIEKE.



"Tante dan Om silakan Tante yang pegang ini," Wieke memberikan kotak itu ke Fransisca.



"Karena ini adalah yang amanah tentang harta udah bawa aja seperti amanat Merry.  Kami nggak apa-apa kok soal harta itu," kata Fransisca.



"Merry sudah memberikan untuk Dian, kami nggak boleh ambil lagi," kata Christian.



"Ini harus diterima oleh Wieke karena yang dipesankan adalah Wieke," Arie memberikan apda Wieke.



"Om Tante kami nggak bisa lama-lama kami langsung pulang aja," pamit Vella.



"Oh iya terima kasih,' kedua orang tua Merry mempersilakan semua keluar. Mereka masih terpaku membaca pesan di ponsel yang Merry berikan untuk teman-temannya. Mereka berdua sudah tak punya muka didepan sahabat putrinya itu.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.



![](contribute/fiction/5890234/markdown/10636434/1676782489854.jpg)

__ADS_1



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.


__ADS_2