UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
RASA HADIR TANPA PERANTARA


__ADS_3

Ayah sering menasehatiku, jangan perlihatkan rasa tak sukamu secara langsung bila itu akan menyakiti orang lain. Maka ketika barusan Vella menolak pemberianku aku pun menasehatinya seperti yang ayah ajarkan padaku. ~Ashoery Rustamaji~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 “Kalau saat itu nomor Kakak enggak kamu blokir, Kakak akan langsung bisa menjelaskan maksud perkataan Serena. Dan saat itu pasti hadiah ini sudah bisa Kakak berikan padamu,” Arie menyerahkan sebuah kotak yang berbungkus kertas kado bermotif garis berwarna hijau lumut pada Vella.


Sejak malam itu memang kotak kado itu selalu ada dalam tas kuliah Arie. Dia antisipasi kalau bertemu dadakan dengan Vella bisa dia berikan. Seperti saat ini.


“Ini apa Kak?” tanya Vella bingung.


“Itu kado yang Kakak persiapkan akan Kakak berikan saat mengetahui kamu mendapat beasiswa. Karena Kakak yakin kamu akan mendapatkan. Sekarang masukkan kado itu ke dalam tasmu agar tak dilihat oleh teman-temanmu,” Arie meminta Vella menyimpan kado darinya.


“Terima kasih Kak. Tapi rasanya tak perlu,” Vella menyorong kotak itu kembali kedekat tangan Arie. Dia tak ingin menerima pemberian Arie itu.


“Jangan pernah menolak pemberian siapa pun. Suka tau tidak, kamu terima dulu. Nanti di belakang orang itu kamu bisa buang atau musnahkan bila kamu tak suka. Yang penting yang memberi hadiah tidak sakit hati,” Arie menasihati Vella.


“Eh iya. Maaf,” Vella mengambil kotak itu dan memasukkannya kedalam tas nya sebelum teman-temannya kembali. Dia menyadari kekeliruannya. Tak boleh menolak pemberian siapa pun.


“Sekarang mana ponselmu. Buka blokirannya ya,” pinta Arie dengan lembut.


Dengan patuh Vella mengambil ponselnya dan membuka blokiran nomor Arie. Lalu dia masukkan lagi ponselnya kedalam tasnya. Tak sengaja Vella melihat wallpaper ponsel Arie.


‘Kak Arie menggunakan foto kami untuk wallpapernya,’ batin Vella seakan tak percaya akan apa yang dilihatnya.


“Lalu kamu ambil kuliah dimana?” tanya Arie seakan tidak tahu kalau pernah melihat Vella sudah mendapat rumah kost di Jogja.


“Di Jogja Kak,” sahut Vella pelan.


“Wah asyik. Apa ada kerabatmu disana? Atau kamu akan kost?” tanya Arie lagi.


“Kami enggak ada kerabat yang bisa kami tinggali. Jadi minggu lalu Papa dan kakakku mencarikan rumah kost. Bulan depan aku mulai bisa masuk. Kalau baru cari dadakan saat awal tahun ajaran, kata kakakku akan sulit. Dapatnya nanti yang jauh dari kampus,” tak sadar Vella kembali lancar bercerita seperti saat belum ada gencatan senjata dengan tragedi malam pentas seni.


“Owh gitu. Lalu kapan kamu akan mulai pindah ke Jogja?” tanya Arie, dia harus memanfaatkan waktu yang tersisa sebaik mungkin.


“Tiga minggu lagi aku pulang ke Kutoarjo bersama mama dan papa. Lalu dua minggu kemudian baru ke Jogja. Dua minggu itu kemungkinan aku bagi satu minggu di rumah eyang di Kebumen. Dan satu minggu di rumah papa di Kutoarjo,” sahut Vella.


“Jadi waktu kita di Jakarta tinggal tiga minggu ini?” tanya Arie memastikan.


“Waktu aku kali Kak. Bukan waktu kita, Kakak kan tetap di Jakarta,” ralat Vella.


“Maksud Kakak waktu kebersamaan kita berdua,” Arie menjelaskan apa yang dia maksud.

__ADS_1


“Daddy ku kan tinggal disini. Aku pasti akan sesekali pulang ke rumah daddy di Jakarta. Atau Kakak kan bisa aja liburan ke Jogja,” tanpa sadar kembali Vella mempersempit jarak kekakuan antara mereka.


“Besok ada acara?” tanya Arie.


“Pagi jadwal legalisir ijazah. Entah sehabis itu teman-teman ngajak kemana. Karena kami ingin menghabiskan waktu kebersamaan kami bersama-sama,” sahut Vella jujur.


“Sore kita nonton yok,” ajak Arie tanpa ragu.


“Oke. Jam berapa?” tanya Vella. Dia merasa tak salah karena memang belum punya janji dengan siapa pun.


“Jam dua siang Kakak jemput. Kamu share lock alamat rumah kakakmu,” pinta Arie.


“Nanti setiba di rumah aku share lock,” jawab Vella.


“Vella, masih mau ngobrol apa pulang bareng kita?” tanya teman Vella. Mereka sudah selesai membeli formulir dan keliling UI pengenalan lokasi.


“Ya bareng kalian lah. Aku kan minta jemput sopirku di sekolah,” sahut Vella dan bersiap pulang.


“Mari kak Arie, Assalamu’alaykum,” Vella pamit seakan tak terjadi apa pun dengan Arie.


“Oke sampai jumpa. Kalian hati-hati ya,” sahut Arie lalu segera membayar makanan yang dia dan Asih makan. Sahabatnya itu langsung pulang tanpa mampir kembali ke kantin.


***


“Itu, dia tanya nomor kontak panitia perpisahan kemarin terutama bagian dokumentasi. Karena beberapa alumni mau minta foto yang ada merekanya. Kalau setiap orang japri kan kasihan. Maka Kak Arie sengaja mengkoordinir semua alumni dalam satu wadah aja biar enggak ribet,” Vella menerangkan apa yang tadi sudah diatur oleh Arie.


“Iya kebayang ribetnya tu bagian dokumentasi ngejawabin satu persatu permintaan alumni ya kalau enggak dikordinir,” sahut teman lainnya.


Sebelum sampai sekolah Vella segera menghubungi drivernya untuk menjemput di sekolah. Dia tak ingin menunggu lama. Sejujurnya dia penasaran dengan kado dari Arie untuknya.


***


Vella langsung mengambil kado dari Arie saat dia sudah di mobilnya. Dia buka perlahan sampul hijau lumut dengan motif garis itu. Dilhatnya kotak beludru biru donker ada di bawah lapisan kertas kado tadi.


‘Astagaaaaaaa, bagus banget. Dan aku tahu ini mahal banget,’ Vella melihat arloji manis yang diberikan Arie untuknya.


‘Bukankan ini satu type ama arloji yang dikenakan kak Arie tadi?’ Vella ingat tadi Arie juga menggunakan arloji satu type dengan yang ada di tangannya.


‘Jadi ini arloji couple?’ pikir Vella tak habis pikir.


Vella mengambil kertas biru muda yang terletak dibawah arloji. Terlihat tulisan yang rapih.


Bila waktu adalah sendu

__ADS_1


Aku ingin tak ada pilu


Bila rindu harus bertalu


Aku ingin engkau tak ragu


Tak ada yang bisa menahan rasa


Karena rasa hadir tanpa perantara


Dan rasa sayang ini


Hanya milikmu Novella


\~\~\~\~\~


Selamat atas prestasinya. Kakak harap kamu sukses. Jangan pernah lupakan Kakak yang akan selalu menunggumu detik demi detik.


~Ashoery~


Vella mengulang berkali-kali kata rasa sayang ini hanya milikmu Novella yang Arie tulis. Dia ingat juga saat di panggung Arie menyebutnya gadis yang aku damba.


‘Apa ini artinya kak Arie menyatakan rasanya untukku?’ pikir Vella. Gadis itu sampai tak sadar mobil sudah parkir di halaman rumah Bagas sejak tadi.


“Enggak turun Non?” tanya pak sopir. Sejak tadi dia mau mengunci pintu mobil jadi bingung karena berkali-kali memanggil nona majikannya. Sang nona tidak mendengar.


“Eh … iya ini mau turun koq,” sahut Vella setelah tersadar kalau mobil sudah berhenti. Vella segera masuk ke rumah. Tapi dia masih tetap bingung. Apa dia harus bilang terima kasih by phone malam ini? Atau nunggu besok saja saat bertemu langsung?


Lalu apa yang harus dia katakan bila Arie menanyakan jawaban rasa sayang yang dia berikan untuknya?


\=============================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL WANT TO MARRY YOU  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta

__ADS_1


__ADS_2