UNREQUITED LOVE

UNREQUITED LOVE
TAMU ISTIMEWA DI PAGI HAR


__ADS_3

Usia bukan tolok ukur tajamnya pemikiran seseorang. Kita sering lihat orang cukup umur tapi pemikirannya seperti anak-anak! Dan pagi ini aku menemukan kecerdasan pola pikir dari seorang anak kecil~Wiedowati~


Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Sebentaaar," jawab Vella. Dia belum membuka mukenanya. Hari ini dia agak kesiangan salat Subuh. Dia buka pintu kamar kostnya karena ada yang mengetuk.



Wiedo melihat Vella masih berkerudung mukena.



"Assalamu'alaykum, baru selesai salat?" Wiedo memberi salam.



"Eh Ibu, wa'alaykum salam. Iya, agak kesiangan kalau enggak kuliah. Silakan masuk Bu," Vella memberi salim pada Wiedo.



Wiedo memperhatikan kamar Vella yang rapi dan harum. Kamar mewah untuk ukuran anak mahasiswa. 



Jangan lupa Wiedo juragan kamar kost di Depok. 



Vella melipat mukenanya



 Dia menggunakan t shirt longgar dan celana kaos selutut.



"Ibu kapan datang? Ada kerjaan ke Jogja kah?" Tanya Vella sambil membuat sussu coklat panas dia gelas dan memanaskan martabak manis dalam microwave.



"Silakan Bu," Vella menawarkan minuman untuk Wiedo.



"Ibu sampai tadi malam, dan ke Jogja emang mau ketemu kamu," tak perlu basa basi saat ini. 

__ADS_1



"Ada yang perlu kita bahas serius sampai Ibu datang ke Jogja. Kenapa enggak lewat video call aja?' Vella tak habis pikir bagaimana Wiedo bisa tahu letak kamarnya. Kalau hanya alamat rumah kost siapa pun mudah menemukannya.



"Ibu tahu soal perjanjian kamu dan abang sebelum kalian LDR an. Ibu anggap itu bagus karena kebohongan memang rentan membuat hubungan rusak, terlebih hubungan LDR."



"Dan Ibu tahu masalah kebohongan abang tentang Ariena anak pak Wildan. Sebagai perempuan Ibu juga sangat marah atas kebohongan abang enggak cerita hal itu ke kamu."



"Tapi saat abang cerita alasan dia berbohong, Ibu cukup mengerti alasannya.



"Ibu dan daddymu berdiskusi panjang tentang hal itu. Itu sebabnya daddy mu melarangmu pergi pagi ini."



"Karena siang ini Ibu langsung kembali ke Jakarta. Hari Minggu pagi besok ibu akan berangkat ke Payakumbuh."



"Dan Ibu juga tahu alasan abang mengatakan dia hanya cape aja. Itu karena tak ingin kamu sedih dan khawatir. Terlebih saat itu kamu baru dilabrak temanmu yang mengatakan kamu tak setia. Punya calon suami tapi tetap aja tebar pesona pada lelaki lain."




"Abang menyanggupi. Untuk selanjutnya dia tak akan memikirkan versi dia, dia akan berkata sejujurnya walau itu pahit."



"Tapi ibu juga minta padamu, untuk dua "kebohongan" kemarin kamu maafkan abang dan mengerti alasannya yang sangat memikirkan kenyamananmu. Dia berbohong karena melindungi pikiranmu" Wiedo menjabarkan semuanya.



"Vella bingung Bu. Disatu sisi Vella sangat sayang ke Abang. Tapi lihat kelakuannya yang gampang banget bohong, kayaknya Vella nyerah. Lebih baik Vella mundur saja daripada sepanjang pernikahan nanti Vella harus terus menerus dibohongi walau dengan alasan demi kebaikan Vella."



"Bukankah rumah tangga itu berdasarkan kepercayaan? Mengapa abang selalu menggunakan bayangan versi pikirannya sendiri?"



"Ayah dulu pernah salah. Dia menduga kalau dia jujur pada mbahkung maka mbah akan murka. Sehingga ayah mengambil jalan pintas menyuruh mommy menggugurkan kandungannya. Itu semua karena dilakukan berdasarkan PEMIKIRAN AYAH SEMATA."


__ADS_1


"Sama dengan yang abang lakukan. Semua berdasarkan versi pemikiran abang sendiri. Enggak mikir versi orang lain! Apa itu bukan egois namanya?"



"Abang bilang sakit HANYA KARENA KELELAHAN, seandainya … maaf, seandainya, seandainya Vella tak tahu dari mbak Tiwi dan Vella percaya pada abang. Dan abang makin parah sehingga harus dirawat lama di rumah sakit."



"Pasti ada yang mikir, abang sakit tapi Vella tenang aja enggak peduli! Padahal bukan enggak peduli, tapi karena info yang sampai ke Vella abang enggak apa-apa. Tapi yang jelek nama Vella kan?"



"Kepikir enggak hal sepele itu ke abang?"



Wiedo tak menyangka anak yang baru lepas seragam SMA bisa berpikiran sangat kritis seperti itu.  



"Iya kamu benar. Itu sebabnya kalian harus bicara dari hati kehati dengan pikiran jernih. Jangan dengan emosi. Kalian sama dimata Ibu."



"Kita keluar sarapan yok. Abang akan Ibu suruh ketemu di lesehan Malioboro aja."



"Vella ganti baju dulu Bu," Vella membuka almarinya lalu masuk kamar mandi untuk mandi sebentar.



Tak lama, Vella telah rapi. Dia sudah siap untuk bicara dengan Arie.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.



![](contribute/fiction/5890234/markdown/10636434/1674415732219.jpg)


__ADS_1


Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.


__ADS_2